Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Marah yang tak beralasan


__ADS_3

"Akhirnya lo berdua balik juga! tega ya kalian sampai tak bisa menyempatkan diri sebentar saja buat gue, gue gagal makan siang sama Ameera, Bukannya gue nggak boleh lo lo pada makan di luar, tapi kali ini kenapa sih kalian nggak tolongin, bantu gitu biar Ameera nggak pulang? kan di sini juga tetap makan?"


Benny sama Hanna agak tertegun pas mau masuk ruangannya di cegat Richard di balik pintu kantor.


"Ameera pulang mau sholat di sini nggak ada tempat ibadah, kenapa lo nggak nyaranin dari awal kalau di sini harus disediakan sarana tempat ibadah untuk semua karyawan dan tamu hotel? tapi kenapa tidak ada yang mengusulkan satu orang saja pada gue di awal pembangunan hotel ini?"


Richard masih nyerocos dengan omelan nya, malah kemana-mana keluar dari masalah yang sebenarnya.


"Benny! lo yang bikin konsep dari awal semua pembangunan hotel gue, mulai sekarang kerja yang benar, perhitungkan sedetail-detailnya apa kekurangan dari hotel yang sudah ada, biar tak jadi kesalahan di masa yang akan datang!"


Datang-datang Richard nyerocos dengan semua kekecewaan, dengan semua penyesalan dan mungkin kemarahannya. Benny dan Hanna tahu karakternya Richard seperti itu, mereka masuk dan menempati tempat duduknya masing-masing Benny tidak berkata sedikitpun apalagi Hanna.


"Kenapa kalian tak menjawab?"


"Kenapa sejauh itu Bos salahin aku? malah sejak awal hotel ini di bangun? tidak bisa menyalahkan sepihak, semua kekurangan akan terpikirkan saat kita butuh, bukan malah menyalahkan orang lain! Semua karyawan butuh tempat ibadah, aku juga butuh, tamu butuh, kenapa saat Bu Ameera yang membutuhkan baru terpikirkan?"


"Setidaknya lo yang gue beri tanggung jawab penuh harusnya lebih teliti lagi."


"Rubah klab malam jadikan mushola biar jadi viral, lakukan langkah berani, baru itu konsisten walau kedengarannya aneh!"


"Diam kalian! dengarkan gue ngomong dulu, kalian berdua sama saja bukannya jawab dan cari solusinya, tapi malah membela diri dan cari pembenaran sendiri.


Benny dan Hanna diam. Apa yang harus mereka jawab dalam hati Benny begitu banyak yang ingin diucapkan sebagai jawaban dari semua yang diucapkan Richard, tetapi Benny sadar diri, dirinya adalah bawahan tidak pantas menjawab dan melawan dengan kemarahan lagi, walau di sisi lain Richard adalah sahabatnya.


"Benny, kenapa kamu tak jawab?"


"Bos, apa yang harus aku jawab, pertanyaan mana dulu?"


"Lo berdua sengaja bukan tidak datang saat gue sama Ameera mau makan siang tadi?"

__ADS_1


"Ya ampun Bos, kenapa jadi begini? kok malah menyalahkan aku? makan siang berdua kan itu akan lebih istimewa kenapa harus ada aku sama Hanna? kan tadi sudah aku katakan aku itu baru memesan makanan baru mau menyuap, masa kami tinggalkan begitu saja lagian kan apa salahnya kami makan siang di waktu istirahat?"


"Ameera nggak mau berada dalam satu ruangan hanya sama gue, dia nggak mau makan siang berdua, harus ada orang lain!"


"Itu pasti, karena Amira itu orang lempeng orang taat menganut ajaran agamanya kenapa nggak Bos ajak makan di restoran saja?"


"Gue nggak kepikiran, malah dia mau sholat dulu menanyakan mushola di hotel ini gue nggak bisa jawab akhirnya dia pamit pulang dulu, sampai sekarang belum gue telepon gue takut dia marah."


"Orang seperti Bu Ameera nggak akan marah, lihat aja cuman kita yang harus benar-benar berniat baik dan berubah!"


"Apa maksud lo?"


"Aku nggak habis pikir dengan masalah segitu saja Bos sudah marah-marah, yang nggak bisa aku terima adalah kenapa masih bawa bawa masuk seorang perempuan lain? bukankah semua itu tidak akan menjadi lebih baik di mana niat awal ke arah yang lebih baik itu? bukankan kita sudah sepakat akan memulai menata hidup kita ke arah yang lebih baik? aku bertemu dengan Bu Vanny tadi di jalan dia pasti habis dari sini saat aku sapa dia tidak menjawab sedikitpun."


"Dia yang datang pada gue. Bukan gue yang minta!"


"Itu sama saja! pada dasarnya Bos tak mau berubah, bagaimana aku bisa meyakinkan Bu Ameera kalau kenyataannya masih saja seperti itu!"


"Pokoknya aku mengundurkan diri menjadi perantara Bos sama Bu Ameera aku tidak bisa melanjutkan lagi terserah, Bos bukan orang yang konsisten!"


"Apaan lo bilang gue nggak konsisten? brengsek lo Benny! pergi lo gue nggak perduli gue apa-apa bisa sendiri, sejak lo jatuh cinta sama Hanna dan menjalin hubungan lo yang konsisten!" Muka Richard beberapa inchi dari muka Benny. Mereka sama-sama marah lupa kalau mereka berteman sejak awal sebelum kehidupan mereka seperti ini.


Tangan mereka pada terkepal, salah satu lepas kendali pasti akan ada tontonan bebas adu jotos. Hanna tak bisa berbuat apa-apa selain mengkerut duduk di meja kerjanya.


"Susah untuk memasukkan alasan, karena aku bawahan yang tak punya kekuatan apa-apa, salah benar tetap salah!."


"Lo yang tak konsisten, harusnya lo bisa menunda saat gue perlu."


"Ayo Hanna kita pergi, buat apa kita kerja di sini, mengabdi di sini kalau perasaan kita tak di hargai lagi, silahkan nikmatin dunia bebas mu Richard, suatu saat kamu pasti butuh orang seperti aku dan Hanna!"

__ADS_1


"Pergi lo!"


"Gue dengan senang hati Richard, dan saat gue pergi dari tempat usaha ini yang akan kecewa adalah kedua orang tuamu, mereka selalu menelepon menanyakan kamu menanyakan kabar kamu menanyakan kehidupan kamu apakah sudah berubah atau masih seperti itu?"


"Gue nggak perduli, jangan jadikan kedua orangtuaku alasan, kalau mau pergi pergi saja!"


"Baiklah, hanya karena masalah sepele lo bersikap begitu pada gue juga Hanna, kapan menjadi lebih baik hidupmu Richard? Kalau saja kamu bukan sahabatku tak akan aku mengingatkanmu, hanya pesan aku jika ingin dekat dan bersahabat lebih dengan orang baik seperti Bu Ameera jadikan diri kita baik dulu."


Richard diam, memang itu yang dirinya belum bisa lakukan merubah hidupnya lebih baik lagi.


Semua serba salah, Richard mengakui dirinya memang super arogan setiap keinginannya harus tercapai dan terpenuhi, gampang emosi dan meledak-ledak.


"Satu lagi, kalau sampai Bu Ameera tahu apa yang barusan kamu lakukan 'makan siang berdua' itu pasti akan merubah cara pandang Bu Ameera, juga merubah niat menerima investasi di perusahaannya."


Benny keluar ruangan menggandeng Hanna, menyimpan kunci mobil yang biasa dirinya pakai kemanapun keperluannya.


Richard terhenyak sendiri dengan nafas yang masih emosi, pikirannya kacau nggak fokus pada masalah yang sebenarnya hanya marah-marah tak bisa mengendalikan diri.


Aku nggak perduli!


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2