
"Ameera, masuk mobil!"
Ameera masih saja mematung di luar bangunan butik dengan banyak pertanyaan di dalam hatinya, memandang parkiran tak melihat dan melirik Richard sedikitpun.
Richard menghampirinya merengkuhnya perlahan, membimbingnya setengah memaksa, membantu Ameera masuk dan memastikannya sudah duduk. Richard berlari mengelilingi mobil masuk di pintu bagian kemudi dan mobil mulai berjalan, Richard merasa kesal karena Ameera tak mau bicara, diinjak gasnya dengan kencang keluar pelataran parkir butik.
"Stop! aku tak mau bunuh diri, pelan kan mobilnya!" teriak Ameera di samping Richard sambil meringis.
Richard tak perduli, masih dengan kencangnya menjalankan mobilnya. Jalanan begitu lengang siang itu.
"Richard! kenapa kamu? harusnya aku yang marah karena kamu nggak berterus terang padaku, siapa wanita tadi sebenarnya? karena aku telah mendengar semua pembicaraan kalian!" teriak Ameera sambil memegang pangkal lengan Richard.
Richard meminggirkan mobilnya, menginjak rem seketika menghentikan kendaraannya dengan sekilat memandang Ameera, membuat Ameera begitu kencang berpegangan pada sisi jok mobil yang didudukinya.
Rem berdecit, Ameera memejamkan matanya. Mobil di rem sekaligus membuat Ameera begitu syok dan terdorong ke depan hampir menyentuh dasbor kalau tidak memakai sabuk pengaman pasti sudah tersungkur.
"Bicara dong sepahit dan serumit apapun, aku paling nggak mau di cuekin! Kenapa kamu bertanya padaku? kalau kamu tadi mendengarkan semua pembicaraan kami? Mestinya kamu punya penilaian sendiri punya penafsiran sendiri apa yang kami bicarakan tadi!"
"Aku hanya ingin kejujuran kamu Richard, seperti apa yang terjadi semuanya kepadamu."
"Tidak semua kejujuran mendatangkan ketenangan dan kedamaian Ameera, Banyak yang lebih baik dan seharusnya kita sembunyikan dari pasangan kita, terus terang juga bukan solusi paling baik aku rasa, untuk apa terus terang kalau hanya memicu pertengkaran diantara kita? kalau hanya untuk jadi bahan berdebat panjang?" Richard seperti menahan emosinya sendiri.
__ADS_1
"Siapa wanita tadi? kenapa dia berani mengancam kamu?"
"Aku tidak mau jujur, karena aku anggap itu adalah satu diantara bagian masa laluku Ameera."
"Akan berapa banyak wanita di masa lalu mu yang akan menghantui hubungan kita Richard?" ketus Ameera.
"Ameera, maafkan aku. Itulah masa laluku, tak seharusnya aku buka semuanya, sedangkan aku sendiri tak ingin mengenang dan mengingatnya lagi, ingin ku hapus semuanya seandainya bisa aku kembali ke masa lalu itu, bisa memutar waktu kembali, Dan semua itu begitu ingin aku lewati. Sebisa mungkin aku berusaha menutup dan menghindari semuanya, tapi diluar kemampuanku aku tak bisa apa-apa. Harapanku menatap dan menata masa depan bersamamu itu saja." Richard bicara sambil tak lepas memandang Ameera.
"Boleh aku bertanya sesuatu yang sangat pribadi, tapi kamu jangan marah." cecar Ameera selanjutnya.
"Tanyakan apapun itu Ameera, aku tak akan marah, tapi kalau jawabanku tak mengenakkan mu tolong jangan marah padaku, karena kamu yang tanyakan semuanya. Apa yang mau kamu pertanyakan?" suara Richard lembut sambil mengusap pangkal lengan Ameera.
"Tidak ada Ameera, aku bukan orang yang suka menebar benih sembarangan, itu hanya akan aku lakukan bersamamu. Percayalah padaku untuk yang satu ini. Aku berhubungan dengan wanita hanya sekedar hiburan, tak lebih dari itu dan tak menyimpan rasa apapun. bedakan itu! dan lain saat ini aku begitu serius merubah haluan hidupku bersamamu Ameera."
"Aku percaya padamu, tapi aku seakan tak bisa menerima kejadian yang seperti barusan, tolong hargai aku kalau aku nggak mau pesan gaun pengantin di butik itu lagi."
"Ameera, terimakasih kamu sudah percaya padaku, oke mau pesan di manapun aku ikut aku menyetujuinya aku serahkan semuanya padamu."
"Kenapa perempuan tadi masih bekerja di klab malam kamu?" dan kenapa dia mengancam kamu?"
"Itu hanya bagian dari keputusasaan dia, apapun pasti dikatakannya, biarkanlah!"
__ADS_1
"Tapi kalau masih kerja dan bergabung dengan usaha kamu itu akan terjadi dan terulang setiap kalian bertemu, karena peluang itu akan ada, aku tak mau itu Rich! apa kamu mengerti keinginanku, apa aku berlebihan?"
Richard tertegun, memang semuanya benar.
"Tidak Ameera, kamu tak berlebihan oke nanti aku bicara sama Benny dan pikirkan cara terbaiknya."
Sebentar lagi kita menikah, kita siap dengan masa depan, dan masa lalu di belakang kita tak menjadi permasalahan buat kenyamanan langkah kita kedepannya.
"Baiklah Ameera, kamu begitu bijaksana dalam berpendapat. Aku hargai kekhawatiran kamu, sungguh semua itu tak aku prediksi."
*****
Sambil menunggu up MASA LALU SANG PRESDIR baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun, juga beri hadiah ya🙏
Blurb :
Malam adalah dunianya. Ia akan aktif beraktifitas saat malam menjelang. Ia sangat suka mengikuti ajang balap liar. Sebab dengan mengikuti hal tersebut, ia dapat menghilangkan sejenak beban pikiran dan derita hidup yang dialaminya. Ia mempertaruhkan hidup dan matinya di atas jalanan. Selain hasil dari taruhan yang mengiurkan.
Ia berjuang hidup mengandalkan sepuluh jarinya sendiri dalam mempertahankan hidupnya di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Terkadang ada rasa iri menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Mengapa Tuhan tidak adil padanya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seseorang. Akankah seseorang itu dapat mengubah jalan takdir hidupnya ke arah yang lebih baik. Atau malah semakin menenggelamkan dirinya dalam hitam pekatnya malam.
__ADS_1