
"Sayang katanya kamu akan bawa adikmu tapi kok nggak jadi kenapa?"
"Aliyah ada keperluan ke kampus masuk kuliah tapi aku sudah izin sama kedua orang tuaku mereka percaya padaku, juga mungkin percaya padamu Rich kalau kamu adalah orang yang akan bertanggung jawab sebagai calon suamiku."
"Begitu dong, aku senang banget Ameera dapat kepercayaan dari orangtuamu. Apa aku ini begitu tak bisa di percaya di hadapan orangtuamu? menakutkan dan begitu seram? aku sebenarnya orang yang paling lembut Ameera, selain tampang ku ganteng jadi kurang apalagi?" Richard tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih terawat.
"Lembut kalau ada maunya!"
"Haaaa ... kamu itu lucu sayang seperti menantang ku saja. Apa kamu belum merasakan kelembutanku? Kamu tahu aku banyak maunya tapi kamu begitu pelit, kamu seakan menikmati aku yang begitu mendamba kamu untuk sekedar memperlihatkan kelembutan aku."
Ameera hanya tersenyum sambil mengangguk dan mendelik, kelihatan lucu.
Richard juga tersenyum meremas jemari lembut Ameera yang duduk di sebelahnya. Mereka pergi berdua saja pertama yang di tuju adalah butik langganan keluarga Ameera.
Ameera hanya diam membiarkan jemarinya dalam genggaman hangat Richard.
"Sayang apa yang kamu pikirkan? kamu kelihatan banyak diamnya?"
"Kamu Rich!"
"Aku?"
Richard meminggirkan mobilnya dan menarik rem tangan. Lalu menatap Ameera begitu khawatir.
"Aku nggak bisa konsentrasi apapun Richard akhir-akhir ini, aku banyak ketakutan dengan hubungan kita sekarang dan kedepannya."
__ADS_1
"Apa yang kamu takutkan sayang?" cecar Richard begitu ingin tahu kecemasan Ameera.
"Kamu beberapa hari kebelakang ada yang menyerang lima orang tak dikenal tapi kamu kelihatan tenang-tenang saja, apa itu tak membuat kamu takut? jujur aku sendiri takut Rich apa semua itu berawal dari permasalahan kamu apa dari masalah aku?" Ameera jujur mengatakan kecemasannya.
"Ya ampuuuuun Ameera, aku sungguh tak berpikir sejauh itu, maafkan aku sudah bikin kamu tak tenang, cemas dan merasa takut, aku belum komunikasi sama Benny bagaimana perkembangannya kasus itu, sudah jangan cemas ada aku yang selalu menjagamu."
"Kamu tuh yang harusnya hati-hati, aku merasa was-was kalau jalan sama kamu. Aku selalu takut kamu terjadi apa-apa, juga takut semua itu menimpaku. Itu mungkin ketakutan orangtuaku Rich."
"Iya sayang, ini kan siang semua serba kelihatan, begitu terbagi semua pikiranku juga, tapi aku tak berprasangka buruk dulu pada siapapun aku hanya berpikir itu orang iseng dan mabuk saja, kita jalan lagi ya?"
Richard menjalankan lagi roda kemudinya, sambil berpikir memang masuk akal kecemasan Ameera saat ini, sedang dirinya begitu bahagia dengan semua keputusan kedua orangtua mereka yang menginginkan dirinya dan Ameera segera serius menuju gerbang rumah tangga hingga melupakan semua kasus yang menimpa dirinya.
Sampai di butik Ameera turun duluan dan merapikan pakaiannya yang agak kusut karena duduk.
Biarlah, pikir Zen. Annet tahu Bos Richard sudah sama perempuan lain jadi Annet tidak berpikir berharap lagi, begitulah pemikiran Zen.
"Sayang Ameera, kamu temui pemilik butik ini dulu, aku ke bagian pakaian laki-laki mau lihat-lihat dulu seperti apa yang cocok untuk diriku nanti kita konsultasi bareng-bareng gimana baiknya." ucap Richard mengusap punggung Ameera dengan sayang.
Ameera mengangguk sambil tersenyum, Ameera memandang Richard seakan tak percaya akhirnya mereka sampai pada titik ini.
Mereka berpisah sambil mata tak lepas dari melihat semua produk butik itu yang dipajang dengan rapi sesuai klasifikasinya.
Ameera begitu senang berada di tempat ini dan selalu menghabiskan waktu belanja begitu lama dengan memilih pakaian yang disukainya.
Saking asyiknya Ameera menabrak seseorang yang sama lagi melihat-lihat pakaian di tempat pakaian wanita.
__ADS_1
Seorang tinggi langsing dengan pakaian tanpa tangan dan dada di biarkan sedikit terbuka tersenyum pada Ameera merasa dirinya juga salah.
"Astagfirullahaladzim, maaf Bu saya terlalu asyik melihat-lihat pakaian di sini." ucap Ameera duluan meminta maaf walaupun Ameera tidak tahu sebenarnya siapa yang salah di antara mereka.
"Mbak! panggil saja Mbak karena saya belum jadi ibu-ibu, sama-sama saya juga terlalu asyik melihat semuanya. Jadi mari kita lanjutkan pencarian kita." jawab Annet sambil ngeloyor pergi, tak begitu memperhatikan Ameera yang menyatukan kedua tangannya di dada.
******
Sambil menunggu up MASA LALU SANG PRESDIR baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun, juga beri hadiah ya🙏
Blurb :
Obsesi yang tidak pantas seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Viktor Alexander Aganta, itulah nama lengkap dari sosok abang yang begitu kejam dan sangat terobsesi dengan adiknya, Quenna Anezka Aganta.
Viktor selalu menggunakan penutup wajah setelah tragedi kelam beberapa tahun lalu hingga tidak sekalipun yang mengetahui rupa tampan dari sosok Viktor, bahkan Quenna sendiri.
Quenna tidak pernah melihat wajah sang Abang bertahun-tahun lamanya usai insiden yang menjadi kunci utama hancurnya hidup Quenna karena obsesi abangnya.
Kematian seluruh keluarganya dan obsesi abangnya telah membuat Quenna percaya bahwa ia berada dibawah kendali Viktor, ia menjadi budak Viktor abangnya sendiri.
"Hentikan perbuatan tidak pantas ini Kak, aku adik mu, adik kandung mu!!"
"Kenapa aku harus mengehentikan? Aku bahkan bisa lebih dari ini, membuat mu mengandung anak ku, misalnya?"
__ADS_1