
"Loka kok jadi begini? Kamu dikasih kesibukan Aku yang malah ikut sibuk masa jam segini masih bungkus kue talam pesanan? Harusnya buka bungkus yang lain di tubuhmu Sayang," ucap Jody sedikit menguap padahal sudah pengen istirahat bermain di atas tempat tidur bareng istrinya.
"Ah Mas, nggak tiap malam juga bantuin istri kenapa sih banyak banget protes? Kan Aku belum bisa ajak orang lain yang bantuin nanti kalau usaha ini sudah besar dan berkembang Kita rekrut karyawan," jawab Loka santai saja.
"Kamu semakin sibuk dong kalau usaha Kamu makin berkembang jadi kapan waktu Kita bikin Anaknya?"
"Mas, ini baru jam sepuluh dikit lagi selesai jadi pagi telah siap diantar. Habis ini boleh kok Mas buka bukaan kan sudah bantuin Aku bungkus kue ini." Loka tersenyum melihat Jody merengut sambil tetap membungkus satu persatu kue yang sudah matang dan sudah dingin.
"Kalau pesanan lebih banyak gimana apa Kita tak tidur semalaman?" tanya Jody sambil melihat paha Loka yang hanya mengenakan celana pendek saja.
Yang di bayangkan Jody adalah pangkalnya, terlihat paha Loka begitu mulus membuat Jody menelan saliva nya sendiri.
"Aku nanti cari karyawan Mas biar Mas tidak cemberut kayak gini, juga pesanan tak selamanya buat acara pagi ada yang juga buat sore atau siang jadi Tak sibuk malam-malam begini," jawab Loka lagi sambil melirik Jody yang sudah malas malasan bungus kuenya.
"Pokoknya Aku mau jam tidur Kita jangan terganggu Sayang." Jody pindah duduknya dan sebelah tangannya mengelus paha Istrinya, Loka membiarkan tangan Jody memberi kode pada Dirinya.
__ADS_1
"Iya Mas Aku mengerti, lagian di tunda sebentar juga kenapa biar pengennya benar-benar pengen dulu pasti rasanya enak nanti," goda Loka sambil mengambil lap dan membuka kukusan lalu mengeluarkannya dan mengisinya dengan isi adonan baru.
"Ah Loka, pokoknya setiap saat juga Aku mau, sudah mau selesai kan? Aku ngantuk gedein kompornya biar cepet matang satu loyang lagi tuh Aku tinggal ya kebelet pipis sama mau cuci tangan."
"Iya Mas, Aku selesaikan dulu nanti Aku nyusul paling seperempat jam lagi sambil nunggu dingin di bungkusnya, kalau nggak sisanya Aku bungkus pagi aja."
Loka memandang punggung suaminya yang yang masuk kamar mandi sambil manyun biasanya jam segini mereka lagi asyik bikin kusut seprai.
Loka dengan cekatan menyelesaikan semuanya dan memisahkan peralatan yang kotor, tersenyum melihat hasil kerjanya malam ini ada lima dus kue talam ubi semua di kerjakannya sendiri di bantu sama Jody suaminya.
Loka memandang wajah suaminya yang telah tidur dengan pulsanya hatinya merasa bersalah tak memenuhi keinginan suaminya malam ini.
Loka menghibur dirinya pagi masih bisa kalau sekarang membangunkan suaminya kasihan tidurnya jadi terganggu.
Akhirnya Loka merebahkan tubuhnya setelah menyelimuti suaminya berusaha memejamkan mata lelahnya.
__ADS_1
Angannya melayang jauh mengangkasa kalau pesanan nanti banyak tak mungkin dirinya kerjakan sendiri hanya di bantu suaminya walau cuma di bantu bungkus satu persatu kue yang sudah jadi. Itu juga Jody sudah cemberut karena menganggu waktu kebersamaan dan kesenangannya.
Loka tidur memeluk punggung Jody, Jody yang sadar istrinya nemplok di belakangnya lalu berbalik dan menyelusupkan mukanya di dada istrinya yang begitu subur dan sudah tak ber-pengaman lalu tidur kembali dalam kehangatan dada Loka.
drrrrrrd drrrrrrd drrrrrrd....
Suara ponsel membangunkan Loka dan Jody yang tidur dengan pulas karena tidur larut malam dan waktu telah menunjukkan jam setengah tujuh.
Loka terperanjat sambil menutupi dadanya yang terbuka. Lalu mengucek matanya melihat jam dinding dalam kamarnya.
"Ya ampun Mas Kita kesiangan harusnya kue ini sudah diantar bangun dong antar Aku naik motor aja biar cepat Mas."
Dengan malas Jody akhirnya bangun juga sambil menatap tubuh Loka yang berpakaian minim dan dada yang tertutup sedikit saja, kalau tidak akan mengantar kue pasti sudah di tariknya kembali dan menyergapnya.
*******
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️