Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Masih labil


__ADS_3

Zen memeluknya berusaha menenangkan dengan menciumnya tapi Annet begitu kelihatan masih emosi dan gamang, tak bisa dipungkiri kalau Annet telah memberinya kepuasan. Zen berusaha memahami dan memikirkan apa maunya Annet.


Bertanggungjawab mungkin belum terpikirkan sama Annet, walaupun memang sama dengan dirinya belum mantap untuk mengambil keputusan, tapi itu adalah keputusan akhir yang harus diambilnya dan memberi solusi terbaik dan jaminan buat kedepannya kehidupan Annet, karena Annet mungkin mengandung darah dagingnya.


Zen berusaha sebijaksana mungkin berbicara dan menghadapi sikap Annet yang


yang masih syok karena semua terjadi di luar dugaannya.


"Jangan di sesali, apa yang kamu ragukan hemght?" Zen mengusap kepala Annet.


"Aku bingung Zen, apa penyelesaiannya semudah yang kamu pikirkan kita menikah lalu usai masalah tak seperti itu buatku" Annet bicara dengan hidung memerah karena tangisan.


"Oke, aku hanya menawarkan pilihan padamu dan itu akan kembali kepadamu yang memutuskan, aku masih bisa menawarkan solusi baik padamu karena aku mencintaimu. Pikirkanlah dulu semuanya, apa yang terbaik buatmu yang terbaik buat semuanya."


"Aku tak bisa berpikir Zen! semuanya jadi kacau."


"Hiduplah bersamaku kamu tidak akan kurang apapun, jangan berpikir lagi laki-laki lain kalau untuk masalah keuntungan yang selalu kamu bicarakan, Aku akan beri semuanya dan satu lagi tentang kepuasan apa aku kurang begitu memuaskan untukmu?"

__ADS_1


Annet diam merasa serba salah merasa dalam posisi dilema mengambil keputusan menikah dengan Zen tidak segampang itu dirinya harus bicara sama Ibu kandungnya dan Zen sudah memiliki anak dan istri akan seperti apa rumah tangganya nanti? tentu dirinya akan menjadi onak duri dalam rumah tangga Zen sendiri, walaupun pada dasarnya Zen kepala rumah tangga dan itu bisa dilakukannya memiliki istri dari satu.


"permasalahan lainnya dan hal yang paling membelitnya adalah perjanjian dengan Jefry kekasihnya sedangkan Jefry sudah menyimpan sebagian tabungannya pada tabungan Annet memang gampang tinggal mengembalikan tetapi apakah Jefry menerima pemutusan sepihak dari dirinya?


"Ayo kita pulang dulu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan semua perlu pemikiran yang matang, kesalahan dalam suatu hubungan itu biasa, namanya juga manusia pasti ada lupanya."


"Jangan jangan Bos Zen memang sengaja tak ber-pengaman saat melakukannya?"


"Annet kok kamu jadi nuduh aku seperti itu apa dasarnya? oke aku mencintaimu aku selalu bergairah saat dekat denganmu, tapi aku selalu ingat yang kita lakukan itu adalah salah aku tidak ada niat untuk menghamili kamu, tapi saat kita terlena dalam kenikmatan kita sama sama lupa, mungkin saat aku naik yang ke sekian kalinya kamu juga tidak kontrol, jadi kita berdua sama-sama lengah."


"Aku mau istirahat! aki perlu berpikir."


Sekali lagi Zen memeluk dan mencium Annet dan merengkuhnya diajaknya berdiri, lalu keluar ruangannya tak seperti biasanya Annet begitu manja memeluk sebelah lengan Zen saat mereka akan menghabiskan waktu malam mereka di apartemen Zen, kali ini Annet berjalan duluan dengan muka menunduk entah apa yang dipikirkannya yang pasti Annet sedang dalam masalah besar.


Ada dua orang di dalam mobil yang mengintai mereka, kemana mereka perginya menjelang tengah malam setelah bubar klub malam The Rich sekitar jam 23:00.


Annet membuka pintu mobil dan langsung masuk, begitu juga Zen langsung menghidupkan mobil dan mobil mulai berjalan keluar dari peraturan parkir.

__ADS_1


"Kamu tak ada transaksi menemui orang dulu malam ini?" suara parau Annet bertanya tanpa melihat ataupun melirik ke arah Zen.


"Tadi aku sudah melempar barang langsung pada pemesan, kelihatannya kamu membawa keberuntungan malam ini Annet, tadinya aku mau bersenang senang bersamamu, aku selalu kangen kamu tapi kamu datang dengan masalah, ya sudah kita istirahat dulu biar pikiran kita jernih."


"Keberuntungan apa yang Bos maksud?"


"Aku mengeluarkan mobil tiga ilegal malam ini tanpa bea cukai dan lolos dari pemeriksaan, belum penjualan besi proyek, aku duduk di meja dengan ponsel malam ini dengan keuntungan sangat fantastis!


Senyumlah sayang apa yang kamu inginkan?" ucap Zen seperti memberi harapan dan membesarkan hati Annet dan menggiring dengan iming iming biar annet mau menikah dengan dirinya.


Annet berusaha menyunggingkan senyumannya walau kelihatan sangat dipaksakan.


Sampai kamar apartemen di lantai lima Annet melempar tubuhnya ke tempat tidur yang super nyaman, setelah sebelumnya membuka jaket kulit yang menutupi gaun malam mininya dengan atasannya tanktop leher rendahnya Zen berusaha membiarkannya.


Zen membuka kulkas mengambil minuman dan menuangkannya satu untuk dirinya satu lagi buat Annet.


"Sayang, minum dulu nih biar kelihatan segar, cuma jus buah bagus kok buat Ibu hamil!"

__ADS_1


"Zen! kenapa kamu seakan senang saat tahu aku hamil?"


__ADS_2