
"Maafkan Annet Bu, Annet salah." Suara pelan Annet tapi begitu kedengaran jelas sama Ibunya.
Ibunya menatap dalam dalam wajah putrinya, serasa melihat masa kecil dan remaja dirinya, yang hidup penuh liku dan meniti perjalanan begitu panjang, sampai sekarang ada di sini.
"Dari awal juga Ibu sudah wanti wanti, jangan lengah, pekerjaan kamu itu sangat besar risikonya, kerja malam, menyenangkan orang, menghibur orang, membuai orang, tapi kamu maksa, Ibu takut kamu kecewa dan sakit hati kalau tak Ibu izinkan, sekarang kan tak meleset semua peringatan Ibu, dengan kecerobohan kamu, sekarang kamu bawa masalah ke rumah rasanya Ibu tak akan sanggup Annet," ucap Ibunya Annet sambil menahan segala rasa sakit dalam hatinya. Duduk mematung menatap putrinya yang baru saja mengadukan masalahnya.
Annet juga diam, tadinya mau bersama Zen datang menghadap Ibunya, di restui nggak di restui akan menikah karena keterpaksaan
Tapi kini, Annet tak bisa berkata-kata, karena Zen di tangkap polisi sebelum datang meminta restu pada Ibunya.
Apa mau di kata semua terlambat, mau sampai kapan sampai Zen di proses? butuh berapa lama? terus masuk bui mungkin menunggu keluar Zen dari hukuman baru menikah? Annet keburu lahiran dan mungkin anak Annet sudah besar nanti.
Sesuatu yang tak mungkin jadi pilihan Annet menunggu Zen keluar dari hukuman. Itulah mungkin jalan terbaik mendekam di apartemen yang di peruntukkan Zen buat dirinya.
__ADS_1
"Kamu harapan Ibu satu satunya, buat siapa Ibu bekerja dan berusaha sekarang ini kalau bukan buat masa depan kamu? Ibu mau kamu jangan sengsara seperti Ibu dulu, makanya Ibu berusaha untuk bisa maju, dan menempatkan diri di lingkungan sini biar bisa di terima tapi perjuangan Ibu sia-sia." Ada sedih yang mendalam di wajah Ibunya Annet.
Annet semakin menunduk tak bisa melakukan pembelaan dirinya, semua beku tak ada jalan di tengah pikirannya yang lagi kacau seperti ini.
"Kamu hamil dengan seseorang yang punya istri, sekarang orangnya terlibat kasus serius dan ditangkap polisi kemungkinan akan dihukum dengan waktu yang tidak pasti, Apakah kamu sebodoh itu anakku? kenapa kamu lakukan dan berikan semua pada Ibu? Ibu berusaha menyekolahkan kamu agar kamu bisa sedikit punya pendidikan, moral, agama dan kesusilaan bisa bijaksana dalam menentukan pilihan dan masa depan, Tapi perjalanan hidup kamu salah langkah tak bisa meredam ambisi mu sendiri, kamu keukeuh dalam pilihan yang kamu yakini akan baik-baik saja."
"Annet menyadari kini Bu."
Setitik bola bening keluar dari ujung mata Annet, terasa perih dan begitu menusuk semua yang dikatakan Ibunya, tetapi bukan kata-kata yang membuat dirinya sakit tetapi kesadaran dirinya sesal yang tiada guna menerima akibat dari perbuatannya sendiri itu yang lebih menyakitkan.
Bukannya kebahagiaan yang dirinya berikan kepada Ibunya, bukannya penghargaan atas semua upaya perjuangan dan jerih payahnya tapi malah kedukaan dan kecewa yang Aneet suguhkan pada Ibunya, juga permasalahan dan sanksi sosial seandainya dirinya berada di sini dalam keadaan hamil tanpa suami.
"Annet, rasa sayang seorang Ibu terhadap anaknya tidak terbatas. Sejak kecil hingga dewasa bahkan sampai berumah tangga pun anak tetap dalam kecemasan seorang Ibu sebagai orang tua, tetapi Ibu akan tega untuk mendidik kamu kali ini, untuk kesadaran kamu dan kemandirian kamu, Ibu akan menitipkan kamu di sahabat Ibu sampai kamu punya pasangan untuk menikah, atau bila tak mendapatkan pasangan biar kamu lahiran di sana."
__ADS_1
Sejenak Annet tertegun, hilang sudah harapannya kembali pulang dan berkumpul dengan Ibunya kembali, mengisi waktu dengan membantu Ibunya sampai saatnya melahirkan.
"Apapun keinginan Ibu Annet akan jalani, hanya satu maaf yang Ibu berikan."
"Maaf tidak akan merubah keadaan, pikirkan kesalahanmu, jadikan semua perenungan dan bahan introspeksi diri dengan sebaik-baiknya, itu adalah pilihanmu dan konsekuensinya. Itu pilihan terbaik menurut Ibu, bersiaplah nanti malam kita berangkat."
"Ibu, apa secepat itu? bukankah kandungan aku belum kelihatan?" tanya Annet pada Ibunya.
Annet berpikir mungkin dirinya akan diizinkan beberapa waktu tinggal di rumahnya, bisa membantu bantu kesibukan Ibunya, siapa tahu Ibunya berubah pikiran dan mengizinkan dirinya tetap tinggal di sini.
"Lebih cepat lebih baik, melihat kamu ada di sini Ibu akan selalu merasa bersalah, semakin sakit dan kecewa hati Ibu."
"Baiklah Bu."
__ADS_1