
"Bos, aku sudah di kantor mau bertemu di mana?" ucap Benny di ujung telephon.
"Aku ke kantor saja, tunggu di ruangan ku, Hanna sudah datang juga?" jawab Richard selalu saja Hanna yang ditanyakan karena Richard begitu merasa tentram kalau Hanna masuk kerja, dan dirinya bisa meminta apapun dan Hanna yang paling mengerti apapun tentang dirinya.
"Sudah lagi bikin kopi, di kitchen. Bos ngopi sekalian?" tanya Benny masih di ujung telephon.
"Nggak, gue lagi pengen susu hangat."
"Oh, kalau itu mah nanti dua malam lagi!"
"Haaaa ... lo tahu aja!"
"Ya tahu lah, yang diinginkan seorang pengantin baru itu apa setelah akad nikah? pengen cepat semua tamu itu pulang, dan bisa berduaan cuma itu!" Benny terkekeh sendiri.
"Oke, tunggu gue ganti pakaian dulu sebentar lagi jalan ke situ."
Telephon terputus.
__ADS_1
Richard mematut dirinya di depan cermin, meneliti tubuh kekarnya, dari muka sampai ujung kakinya. Rambut masih pendek sedang, nggak usah cukuran, jambang jenggot besok saja kerokan, Richard mengepalkan dan mengangkat kedua tangannya di dada, menonjolkan semua otot baj binaragawan. Harusnya hari ini jadwal nge-gym, memandang perut kotak-kotaknya dan mengusap senjata kebanggaannya sambil bergumam senyum sendiri, 'nanti sebentar lagi kita piknik halal, sabar jangan nagih sekarang!'
Richard berjalan setengah telanjang membuka lemari pakaian yang tertata dengan rapi dengan klasifikasinya, memilih pakaian santai dan mengenakannya.
Sekali lagi Richard menyapu pandang ke seluruh ruangan huniannya sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Semua ruangan di rubah hampir tujuh puluh persen dari tatanan awal bahkan di cat ulang bagian tertentu.
Richard merasa nyaman dengan hasil akhir dari decor dan begitu puas hasil diskusi sama design interior di bantu Hanna buat konsultasinya. terasa ruangan baru dan suasana baru, menyambut penghuni baru dua hari dua malam lagi.
Sampai ke pinggir kolam renang dan halaman taman luarnya tak luput dari perubahan dan sentuhan baru, tapi Richard semakin merasa kesepian di tempat tunggalnya yang begitu mewah.
Mungkin sudah saatnya harus ada teman dan seorang istri yang menemaninya, mengisi hari-hari dan kesibukannya. Tak ada yang dirindukan Richard selain saat-saat kebersamaan bersama orang yang selalu di hatinya Ameera.
Richard ingin melewatkan malam pertama bersama Ameera tercinta di tempat ini, semaksimal mungkin Richard ingin menyempurnakan semua keperluan dirinya dan istrinya nanti, Hanna pasti tahu apa kekurangannya, karena selama ini hanya keperluan yang bersifat laki-laki yang mendominasi isi ruangannya.
Richard telah mengosongkan satu lemari untuk pakaian istrinya nanti, lemari modern dengan desain menjulang sampai langit-langit kamar, Richard masih saja mikir apa yang kurang biar Ameera merasa betah di sini.
Tapi sampai saat ini Richard sudah puas dengan semuanya.
__ADS_1
Richard berjalan keluar dengan langkah panjang, hatinya masih belum tenang, keluarganya sudah ada di sini tapi masih pada istirahat, apa semua sudah selesai segala keperluannya? hari ini akan di cek semua dan akan ada rapat keluarganya.
"Pagi Bos! cerah kelihatannya, membuat hatiku juga merasa senang." sapa Benny saat Richard mau masuk ruangannya yang melewati ruangan Benny dan Hanna.
"Tak secerah lo yang baru saya sarapan nikmat!"
"Haaaa ... ssssssssst objeknya datang nanti nggak jadi di bikinin kopinya." Benny melihat Hanna datang dengan kopi mengepul di nampan.
"Syukur lo sudah bisa melewati dua masalah sekaligus Ben, menikah sama menyelesaikan program rumah." ucap Richard merasa bangga pada tangan kanannya juga sahabatnya.
"Alhamdulillah, berkat Bos juga. Dukungan penuh tak terhingga terimakasihnya tak terbatas, sekarang tinggal mensukseskan pernikahan Bos sama penyelesaian proyek kerja sama itu." jawab Benny, tetap ada jarak dalam hal apapun saat bicara, bagaimanapun Richard adalah atasannya walau mereka juga teman yang sama-sama gila suka saling ledek.
"Gue rasanya kayak mimpi Ben, kadang tak percaya gue mau nikah dalam hitungan hari dan dua kali duapuluhan empat jam lagi gue akan jadi suami. Sama kayak lo hampir menyelesaikan dua proyek sekaligus, satu proyek hati gue sama Ameera, satu lagi proyek kerjasama itu." Richard bicara begitu berbinar.
"Itulah hidayah Bos, kalau Yang Maha Kuasa sudah mengizinkan tak ada satu hal pun yang akan sulit, walau di rasa kita tak mungkin, semua akan di mudahkan." jawab Benny, sama senang bener hatinya, melihat kegembiraan di muka sahabat sekaligus atasannya.
Hanna datang dengan kopi di nampan.
__ADS_1