
"Rich aku pulang ya sudah sore."
Ameera berjalan melenggang setelah Richard melepaskan pelukan dan ciumannya.
"Ameera, minuman kamu belum habis sayang." Richard mengambilkan gelas Ameera.
Ameera tak hirau kata-kata Richard, sibuk dengan perasaannya sendiri. Terus saja berjalan melewati taman dan kolam renang, lalu masuk ke bangunan teduh masuk ruang utama dan mengambil tasnya di sofa.
"Ameera kamu marah ya?" Richard mengimbangi langkah kaki jenjang yang berjalan dengan sangat tergesa.
"Tidak, aku tidak marah karena semua itu adalah kesalahanku juga," ucap Ameera, suaranya seperti tercekat di tenggorokannya.
"Ameera, tapi aku telah memaksa kamu, untuk ke sekian kalinya maafkan aku ya!" ucap Richard tak sabar mendengar Ameera menyatakan tidak marah. Richard merasa takut luar biasa.
"Aku memaafkan mu Richard, semua itu aku yang salah, aku menggiring sebuah kesempatan dan itu di manfaatkan oleh rasa kita berdua, menjadikan semua tak terbendung," tutur Ameera meneliti wajah Richard yang begitu khawatir. Merasa kasihan tapi pengen marah pada wajah ganteng di sampingnya itu.
"Ameera, aku menyesal, maafkan aku aku tak bisa menolak semua pesonamu, percayalah aku begitu mencintaimu." Richard berusaha menangkap pergelangan tangan Ameera.
"Cintailah aku dengan rasa yang benar Richard! bukan malah bawa aku pada hal yang tidak. benar. Jujur aku juga mencintaimu tak bisa untuk menolak mu itu kesalahanku, tapi aku mohon semua jangan di mulai."
"Ameera!" Richard tersenyum, mengangguk pasti, " Aku tak akan mengulanginya, kecuali kamu yang minta."
"Sudah, jangan didramatisir, itu bukan awal kesempatanmu buat selanjutnya, aku pulang dulu ya!"
"Aku antar kamu sampai vila ya."
Ameera tersenyum mengangguk hati Richard begitu tak tenang, apa yang dirinya lakukan telah melewati batas yang seharusnya.
Ameera juga merasa risih harus keluar kamar seorang laki laki pada kenyataannya diri tidak melakukan apapun tetapi fitnah dan prasangka orang tidak bisa dibendung dengan pembelaan apapun, tetap saja dirinya dalam posisi salah, salah dan salah.
__ADS_1
Dalam hatinya Ameera mengutuk dirinya kenapa begitu murahan di hadapan Richard? apa pesonanya Richard begitu tak kuasa dirinya tolak?
Ya, Richard memang punya pesona luar biasa, semua ingin merasakan pelukan hangatnya, ciumannya begitu lembut membuai diri Ameera, Ameera merasakan merinding sendiri, saat bibir panas itu menjelajah dan menyasar mulutnya dengan sedikit liar tak terkendali, tubuh yang sangat ideal tinggi kokoh, dan wajah tampan khas blasteran Belanda-Indonesia memanjakan semua mata yang memandangnya.
Ameera merinding membayangkan dan merasakannya, seperti magnet yang menghipnotis tak memberikan reaksi apa-apa selain menikmatinya. Sampai di situ Ameera menghentikan yang baru saja dialaminya, sungguh tak bisa membayangkan lebih jauh lagi sesuatu yang mungkin akan membuat dirinya melayang.
Mereka berjalan berjajaran seolah mereka baru kenal tidak begitu banyak cakap, Richard dengan ketakutannya, dan Ameera dengan perasaannya sendiri .
"Mir! yakin kamu nggak marah?"
"Jangan pernah panggil dengan nama yang hanya sepenggal aku sungguh tidak suka! aku ini perempuan 'Mir' itu identik panggilan untuk Amir seorang laki-laki, panggil Ameera saja, ucap Ameera sambil memandang wajah Richard.
"Oh, alah jadi nambah deh marahnya, maaf ya Ameera sayang, aku nggak tahu, padahal aku juga sama gak mau di panggil Chad, enakan di panggil Richard atau Rich, atau boleh panggil aku ganteng saja aku malah suka! heeee ...."
Ameera mau tidak mau akhirnya tersenyum juga, melirik laki-laki yang memang ganteng diatas rata-rata di sampingnya.
Ameera hanya tersenyum saja, memang acara mereka bertelepon ria setiap malamnya, seperti ABG yang baru mengenal pacaran.
"Rich, sampai sini aja ya."
Sampai kamu masuk saja sayang."
"Kalau gitu kita nggak ada usainya dong, aku habis dari tempat kamu, kamu antar aku sampai tempatku, nanti kamu malah pengen di antar lagi, aneh memang kita ini!"
"Heeeee ... nggak apa-apa, aku seneng kok, sehari semalam bersama kamu juga nggak apa-apa."
"Selesaikan proyek itu, baru kita bicara serius! dan bisa bersama sama tiap hari dan malamnya"
"Sangat yakin Ameera semua itu akan selesai sesuai rencana, tunggu aku akan melamarmu, Aku akan membawamu ke tempat barusan kita berdua saat kita sudah sah jadi suami istri, aku akan buat kamu tak pernah tidur di tiap malam-malamnya."
__ADS_1
"Pulang sana, istirahat jangan mulai ngaco!" ucap Ameera sambil melambaikan tangannya, menahan senyum.
Mereka berpisah di pintu gerbang Vila Melati keluarga Haji Marzuki, Ameera tak akan lupa semua ucapan Richard barusan, hatinya penuh rasa bersalah, tapi begitu menyenangkan untuk di kenang kala sendiri.
Ameera masuk ke pelataran parkiran vila dan melintasinya, menuju ruang depan tempat menerima tamu dan kafe kecil sekedar untuk minum dan duduk santai tamu vila saat chek out atau chek in. Juga untuk beli kebutuhan sehari-hari dan makanan kecil.
Indah yang bekerja gantian sama Aliyah standby di vila saat Ameera keluar, juga sebelum ada Ameera di vila itu Indah sudah kerja di vila keluarga Haji Marzuki. Bahkan jauh sebelum Ameera menikah dan di bawa suaminya dan kini kembali ke sini.
"Kak Ameera dari mana?" suara Aliyah membuyarkan lamunan Ameera.
"Dari proyek, ada apa?"
"Mending Kak Ameera jangan pulang deh, kalau nggak pergi aja lagi!" tutur Aliyah di Aminin Indah di sampingnya dengan anggukan kepala.
"Aliyah ada apa?"
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1