Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Cinta dengan kesadaran


__ADS_3

"Astagfirullah Annet. Kenapa baru sekarang kamu kasih tahu Ibu? kenapa kemarin-kemarin kamu tak mengabari saat perut kamu mulai terasa mulas?" Ibunya Annet kaget waktu Annet mengabari via telephon kalau dirinya sudah melahirkan.


"Alhamdulillah semua lancar Bu, anakku laki-laki, aku takut tiba-tiba Ibu cemas, kalau dikabari setelah lahir mungkin Ibu bisa lebih tenang. Bahkan aku sudah pulang ke Yayasan." ucap Annet di ujung sambungan telephon.


"Ya Allah Annet, sama siapa kamu pergi ke Puskesmas? Ibu menunggu-nunggu kabar dari kamu atau Ibu Haji Saodah, saat kamu akan melahirkan, walaupun Ibu kecewa dengan keadaanmu tetapi semua telah terjadi, kamu tetap anak Ibu menyadari semua tak perlu disesali segalanya telah menjadi nasib kita, tadinya Ibu ingin menemani kamu saat melahirkan."


"Nggak apa-apa Bu, Annet bisa menjalani semuanya, Alhamdulillah persalinannya lancar," tukas Annet memperlihatkan ketegarannya.


Rasa sesak di dada Annet sedikit berkurang juga di hati Ibunya, satu beban telah lepas di jalani tinggal berpikir ke depannya akan seperti apa?


Seandainya Ibunya tak menerima dirinya dan anaknya nanti, Annet siap menjalani sebagai orangtua tunggal dan akan mulai berdikari mengontrak di suatu tempat dan memulai usaha dengan modal yang ada dan ingin membesarkan anaknya dengan kasih sayang sebagai seorang Ibu.


Sementara dirinya pulih akan tetap berada di Yayasan sambil tetap dengan kegiatannya seperti kemarin-kemarin.


Annet menutup pembicaraan dengan Ibunya, ada kelegaan di hatinya, ternyata Ibunya masih ada perhatian pada dirinya, walau sejuta kecewa dan luka telah Annet torehkan di hati Ibunya.


Kedepannya Annet berniat ingin merubah haluan hidupnya, hidup dalam angan-angan dan ambisi begitu melelahkan hati dan perasaannya, hingga tak terkendali semuanya, sampai tak perduli apapun yang menimpa pada dirinya, Annet sendiri kini merasakan sia-sia mengejar segala yang menjadi keinginannya, tak perduli luka dan kecewa orang lain termasuk istri Zen, juga Ibunya sendiri yang telah begitu banyak dikecewakan.


Annet menimbang ponselnya kapan kira-kira waktu yang tepat untuk menelephon Jefry? apa ucapan pertama yang akan di ucapkan nya?


Annet merasa semua harus di selesaikan atau mungkin di mulai, Annet harus tahu sikap Jefry kini setelah dirinya melahirkan.


Tak ada lagi pilihan yang lain untuk ke depannya selain Annet sadar dengan kesalahannya dan tak akan mengulang lagi, Apalagi kalau seandainya jawaban Jefry siap dengan segala yang ada pada dirinya menerima apa adanya Annet dan bayi mungilnya, Annet siap menikah membina keluarga dengan Jefry yang memang kekasihnya sejak lama.


Tapi seandainya Jefry tak bisa menerimanya, itu mungkin yang terbaik juga buat Annet, Annet telah mengkhianatinya, Annet akan dengan berbesar hati menerimanya.

__ADS_1


Akhirnya telepon tersambung juga kenapa baru sekarang Annet merasa begitu takut saat menunggu telepon Jefry diangkat, lama nada dering di ponselnya berbunyi sampai putus dengan sendirinya dan Annet mengulang kembali.


"Ya, Annet?"


"Jef!"


"Ya, kamu baik-baik aja kan?" ucap Jefry biasa saja.


"A-a-ku su-dah lahiran Jef!"


"Ya ampuuuuun Annet, katakan di mana kamu sekarang? di mana letak Yayasan yang kamu katakan itu?"


"Kenapa Jef?"


"Jef?"


"Kenapa nggak boleh? masih seperti waktu terakhir kita pulang? kamu selalu menolak aku ajak serius dengan bermacam-macam alasan. Apa sekarang juga masih menolak?"


"Tapi Jef ... aku merasa bersalah banget padamu."


"Justru aku juga merasa bersalah juga padamu, telah merenggut untuk pertama kali kesucian kamu waktu itu, lalu aku tinggalkan dengan kamu dalam dambaan keinginan yang menagih, biarlah kesalahan kita di masa lalu jadi kisah kita, aku tetap mencintaimu Annet, Ibumu telah merestui hubungan kita, pulihkan dulu kesehatan kamu kita menikah baik-baik."


"Jef?"


"Aku ..."

__ADS_1


"Sudahlah Annet, jangan salahkan dirimu, salahkan juga aku dalam hal ini, yang penting kedepannya kita sama-sama punya niat baik kita hidup dalam satu ikatan yang benar."


"Baiklah Jef, mungkin kita di takdir kan berjodoh, aku tunggu kamu di sini dengan kerinduan mu."


"Pasti Annet, besok aku datang sama Ibumu."


"Hah? secepat itu kamu akrab sama Ibuku?"


"Aku berusaha meyakinkan Ibumu Annet, sepertinya Ibumu mulai percaya kalau aku bakal jadi menantu yang baik buat kamu."


"Dasar kamu!"


"Haaa ... rasanya tak sabar ingin memberi adik buat bayi kamu Annet."


"Astaghfirullahaladzim Jef? Aku baru tiga hari lahiran, jangan ngaco deh, lagian kita harus nikah dulu."


"Becanda Annet, aku menunggu kamu siap dalam hal apapun, kapan kamu siapnya kita sah kan dan halalkan hubungan kita, karena aku telah melibatkan orang tua dalam masalah kita ini."


"Jef!"


"Apa? apa ada keraguan di hati kamu Annet?"


"Enggak Jef, malah aku menghargai semua keputusan kamu, aku juga kangen kamu." jawab Annet tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


__ADS_1


__ADS_2