
Selesai berbincang dan memberi instruksi sama mandor pelaksana lapangan Ameera sama Hanna istirahat di vila, ternyata Benny sudah mengirim orang untuk mengurus vila Bosnya petugas cleaning servis dari hotel.
Sesuatu yang belum terpikirkan sama Ameera tapi Richard sudah lebih dulu memberikan instruksi untuk melayani segala kebutuhan dirinya juga istrinya.
Ameera merasa terharu melihat vila idamannya begitu rapi dan terawat, walau waktu di tinggal dalam keadaan berantakan, apalagi di dalam kamarnya begitu saja di tinggalkan. Sekarang sampai ke kamar-kamarnya sudah begitu bersih dan rapi kembali.
"Cerita dong Hanna gimana awalnya kalian saling tertarik? pasti Pak Benny ya yang duluan curi perhatian kamu?" ucap Ameera sambil duduk di sofa di lantai bawah sambil senyum memandang Hanna.
"Sepertinya tak seindah kisah Bu Ameera, kami saling tertarik karena satu pekerjaan di situ, entah siapa yang memulai tak bisa di pastikan tapi mungkin kami sudah punya rasa masing-masing, berawal dari perhatian kecil terus masuk ke dalam hati dan akhirnya kami sama-sama saling jatuh cinta mungkin seperti itu." jawab Hanna tak malu mengakui.
"Iya Hanna, kalau sudah jodoh begitu mudah jalannya. Aku juga tertarik sejak pandangan pertama dan Richard juga sepertinya sama, eh akhirnya jadi juga." Ameera cerita sendiri kisah cintanya.
Ameera begitu suka dengan Hanna, orangnya supel, cantik dan menarik, cara kerjanya apik dan detil sampai soal terkecil di perhatikan, pantas Richard suaminya cocok sekian tahun bersamanya apalagi sekarang menikah sama Benny kepercayaan suaminya juga.
Deru mobil berhenti di halaman, Ameera berdiri menengok lewat kaca, senyumnya mengembang melihat siapa yang datang.
Hanna duluan keluar menyambut yang baru datang.
Richard masuk dan Benny duduk di kursi teras sama Hanna, Ameera berjalan ke pintu dan menyambut Richard dengan senyuman.
"Sayang, sudah bertemu mandor, sama Pak Bagas nya?"
"Pak Bagas nggak masuk, tapi mandor ada. Aku sudah bertemu tadi."
Richard memeluk Ameera sekilas dan mencium keningnya lalu menuntunnya perlahan dan duduk di sofa bersisian.
"Gimana hasil pekerjaannya, selama ini? apa seperti aku memuaskan?" Ameera mencubit pinggang Richard sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Sudah, semuanya sudah hampir rampung tinggal di beberapa titik saja ada jembatan kecil yang lagi dikasih kerangka besi dan dalam masa pengerjaan, ada titik-titik lain masih dalam pembenahan mungkin itu sudah dianggap selesai, semua sudah aku kontrol sama Hanna jadi capek habis keliling." jawab Ameera begitu semangat melaporkan.
"Sudah-sudah, semua akan selesai pada akhirnya, kamu jangan terlalu capek sayang takut pusing malam kan kurang tidur, mending istirahat aku tidak setuju kamu sudah ke lapangan mengontrol ini, itu." Richard memandang wajah istrinya yang agak merah mungkin karena capek dan panas.
Ameera ke atas mengambil tasnya dan mengunci kamarnya kembali, diikuti Hanna.
"Ben pulang, kita ngobrol lanjutannya di kantor saja." Richard memberitahu Benny yang masih ada di teras.
"Siap Bos, nggak nginep di sini?"
"Nggak, kapan-kapan saja nginep di sini, soalnya Mang Jaka pasti ikut nginep juga, aku sama Ameera nggak mau di ganggu."
"Haaaa ...ya sudah kita pulang aja, mobil mau di bawa siapa?"
"Mobil biar gue yang bawa, lo sama Hanna. Kalau nggak mau pulang boleh, mau bulan madu lanjutan ada tuh dikamar bawah, gue mau pulang."
"Nggak, enakan di rumah. Lagian ini masih jam kerja masih banyak kerjaan ku. Nanti sore meeting kan membahas soal yang barusan kita datangi?" jawab Benny mengingatkan Richard Bosnya.
"Nggak bisa, karena akan ada yang diputuskan menggantikan manajer Zen yang di tangkap polisi."
"Tapi boleh gue istirahat sampai ashar, gue nggak tidur semalaman, jadi butuh istirahat."
"Ini sudah malam ke berapa? Bos masih belum tidur? Masya Allah ngapain aja?"
"Ssssssssst ... gue baru bisa perang malam tadi, PMR!"
"Haaaa ... pantesan, kasihan banget. Tapi gool kan semalam?"
__ADS_1
"Kalau nggak gool, bukan Richard Isaak, Benny!"
"Haaaa ...."
"Kalian mau pulang nggak? ngobrol bisik-bisik kalau ketawa aja ngakak berdua, kayak cewek aja pasti ngomongin jorok itu!"
Hanna menyemprot suaminya juga Richard yang sedang asyik ngobrol berdua, Hanna turun dari lantai dua vila itu di ikuti Ameera sambil senyum senyum.
Mereka keluar dan mengunci vila itu kembali.
"Ada apa sih Rich di Hotel itu?"
"Ada masalah sedikit sayang, nggak apa-apa, hanya orang yang mengambil keuntungan dari kebebasan yang aku berikan pada dirinya, sayang orang itu orang yang aku percaya, akhirnya di tangkap polisi karena menggunakan Hotel ku sebagai tempat transaksi ilegal."
"Masya Allah Rich, jadi kamu kena getahnya dong?"
"Sedikit introgasi pasti ada aja karena aku pemiliknya, mereka ketahuan bertransaksi di hotel aku tetapi aku sama Benny akan didampingi pengacara untuk menyatakan kalau kami tidak tahu menahu tentang bisnis yang dijalankan manajer Zen, dan emang begitu kenyataannya."
"Pasti aja ribet kalau urusan dengan hukum."
"Nggak apa sayang, banyak pelajaran dan hikmah dari kejadian ini, sekarang kita ke tempat impian kita." ucap Richard sambil mengusap pipi Ameera. Menghidupkan mesin mobilnya dan mobil berjalan menyusul Benny sama Hanna yang ngacir duluan.
"Iya Rich."
"Sayang aku belum makan siang."
"Sama aku juga, kita makan dimana?"
__ADS_1
"Di kamar saja ya!"
"Rich!"