Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Pukulan telak


__ADS_3

Richard memandang punggung Ameera dengan perasaan sedih dan malu, malu pada keadaan dirinya, malu pada kenyataan kalau dirinya adalah seorang Presdir yang tidak becus dalam memimpin.


Menata dan mengkondisikan hotel mewah sampai tak ada tempat untuk beribadah.


Seperti pukulan telak di rahangnya, membuat Richard limbung tak berkutik oleh keadaan, hilang kata apa yang harus di ucapkan di hadapan Ameera yang dikaguminya.


Malu kalau ajakan makan siangnya harus batal dan gagal. Salah siapa semua ini? tak mungkin Richard menyalahkan orang lain Benny atau Hanna orang terdekatnya. Richard masuk ke tempat huniannya dengan mengatupkan rahang dan mulut seperti di kunci, di dalam terasa lengang dan sepi, Richard melempar ponselnya ke tempat tidur.


Ponselnya langsung berdering, Richard tak perduli, membiarkan bunyi ponsel itu sampai berakhir dengan sendirinya, lalu berbunyi lagi dan lagi.


'Pasti si Benny, bikin sebal banyak pura-pura dan alasan! '


Richard mengambil ponselnya terlihat di layar tampilan depannya. 'Vanny memanggil ...'


"Hai Van, apa khabar, kamu di mana?" Richard bicara datar.


"Aku di hatimu Rich ganteng, aku kangen kamu!"


"Kamu kangen aku? datang sekarang!"


"Dengan senang hati sayang Rich, aku otw siapkan stamina plus! he he he ..."


Rich memutus sambungan telephon Vanny, kok semua jadi berantakan begini hari ini? yang datang malah lebah manis yang siap dengan sengatannya? Richard marah, kesal dan kecewa tapi entah pada siapa.


Ameera adalah orang yang saat ini begitu di jaganya, baik hati, dan perasaannya. Richard begitu menjaga sikap di hadapan Ameera. Tapi baru bisa jalan bersama yang begitu di nikmatinya lanjut mengajaknya makan siang semua itu harus gagal, Richard kecewa bukan main.


Vanny kini ada di dekatnya, memang hoki dalam segala hal satu orang ini menurut pandangan Richard, selain dalam pekerjaan dan bisnis Vanny memang ahlinya, juga selalu datang saat dirinya begitu bernafsu seperti sekarang ini. Hati Richard lagi marah entah pada siapa, yang pasti pada dirinya. Saat kenyataan dan harapan tak sesuai ekspektasi.


Niat berubah seakan kandas tak bisa di bendung dengan godaan yang datang bertubi-tubi, makan siang yang diidamkan hilang sudah, Ameera pulang, Benny dan Hanna belum datang juga, Vanny yang standby di klab malam yang kalau siang bisa buat kafe dan jadi tempat hangout, Vanny jadi sasaran Richard sebagai pelampiasannya.


Hasrat saat emosi memang begitu gila menguasainya, tak ada kata lain selain bermain solusinya. Richard memang ahlinya.


Richard memijit satu tombol di ponselnya, pintu terbuka dan menutup dengan otomatis.


"Halo sayang Rich, lama kita tak jumpa." Vanny melempar tas branded nya begitu saja di sofa.


Richard kelihatan dingin, Vanny merangkulnya tanpa beban, Richard langsung ******* bibir mungil itu dan memaksa membuka tiga kancing pakaian luar Vanny yang mengenakan setelan blazer hijau tua. Dalaman tangtop senada juga sudah di tarik Richard sambil tak melepaskan gigitan kecil di bibir Vanny.


"Hai, hai Rich! ada apa ini? kelihatan kamu seperti habis puasa setahun? sepertinya kamu rakus banget!"


Richard tak menjawab, malah semakin liar merambah semua bagian tubuh sensitif Vanny.


"Aku kangen Vanny, iya aku memang lagi puasa dan membatasi diri."


"Ada apa memang?"

__ADS_1


"Ssssssssst ...."


Richard memberi kode saatnya bukan ngobrol, tapi bekerja! Richard kembali menyelusupkan wajahnya di dada Vanny, tak perduli Vanny menggelinjang merasa tidak tahan.


Richard membopong tubuh ramping menggairahkan itu ke tempat tidur dari posisi mereka berdiri, pakaian mereka berserakan di lantai.


Vanny tersenyum, begitu suka saat-saat seperti ini. Membiarkan Rich dengan nafsunya memainkan dan melahap semua hartanya tak tersisa.


"Pasang balonnya sayang ...."


"Richard, aku masih belum panas" Vanny mendesah manja.


"Pasang sekarang!"


"Kenapa kamu Rich?"


"Pasang sekarang, aku nggak tahan, jagoan ku ingin segera berendam"


"Tapi nanti aku nambah ya!"


"Aku tambah sepuluh kali kalau kamu mau!"


Tak sempat Vanny memainkan dulu sesuatu yang sudah on di bawah perut Richard, padahal itu salah satu kesukaannya, membenamkan wajah dan mulutnya di situ merasakan manis asin kenikmatan.


Richard langsung tancap gas full tak perduli Vanny yang masih ingin lebih lama melakukan foreplay, memacu gairah dan kesal hatinya dengan hentakan luar biasa, hingga Vanny kewalahan melayaninya.


Wajah Ameera membayang di wajah Vanny, senyum yang menawan, wajah cantiknya menari-nari di depan Richard, bicara lembut, memberikan pengertian dengan sopan, setiap ucapannya menyejukkan, mengingatkan saat Richard bicara emosi dan menyalahkan orang lain.


Seketika Richard menarik pedangnya dan berhenti melakukan aksi, sekilat turun dari tubuh Vanny melompat dari tempat tidur mengenakan kembali celana boxer nya.


Vanny hanya melongo dengan sisa nafas yang masih memburu dan memandang keheranan pada Richard yang lain dari biasanya. Richard melemparkan pakaian Vanny ke tempat tidur tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


"Hah! Haaaaaaaaaaaaaaah ....!" Richard berteriak berkali-kali sambil meninju sofa lalu menendangnya.


Melepaskan beban yang begitu berat di hatinya yang terasa begitu berat.


Richard keluar kamarnya yang hanya di sekat kaca menyatu dengan taman dan langsung ke kolam renang.


Masih dengan teriakan yang masih terdengar begitu keras, Richard nyemplung ke kolam renang, berenang dengan tanpa capai bolak-balik seperti ingin membunuh dan menyingkirkan beban hati yang begitu mengganjal perasaannya.


Vanny mengenakan pakaiannya kembali dan berjalan ke kolam renang, duduk di kursi pantai santai, memperhatikan Richard yang masih teriak-teriak di kolam renang.


Akhirnya Richard berhenti, terengah-engah hampir kehabisan nafas dalam kecapaian, telungkup di pinggir tembok kolam renang dengan perasaan lemas berusaha mengatur dan menetralkan nafasnya yang tersengal.


Matanya terpejam membiarkan matahari menghangatkan punggungnya.

__ADS_1


Vanny mendekat mengamati tubuh tinggi besar yang tak bergerak, bulu-bulu di betis dan daerah lainnya luluh tergerai kena basah air.


"Rich! kamu nggak apa-apa sayang?" Hati-hati Vanny mengusap punggung Richard.


Richard masih saja diam dalam posisinya. Lama baru ada pergerakan.


"Rich, kenapa ada masalah apa kamu tak seperti biasanya? tadinya aku serius ada yang mau di sampaikan."


"Apa yang akan kamu sampaikan?"


"Ayolah Rich, aku belum selesai tadi! kenapa kamu berhenti begitu saja?"


"Aku tidak bisa Vanny!"


"Tapi kenapa? berhentinya nggak enak banget!"


"Sudahlah, apa yang akan kamu bicarakan?"


"Richard, aku mencintaimu! aku serius ingin bersamamu, ayolah kita bersama-sama dalam segala hal, aku tak ingin yang lain selain kamu."


"Vanny, sedari awal aku selalu menegaskan jangan main hati, jangan punya perasaan lain selain kita saling mengisi dan saling butuh!"


"Richard, aku merasa kita cocok dan bisa di bawa ke arah serius!"


"Tidak Vanny! itu hanya pandangan dan perasaanmu saja, kita hanya cocok di ranjang dan kita sama-sama saling memuaskan hasrat."


"Richard! coba kamu pikirkan dulu perasaanku ini."


"Aku tidak bisa mencintai kamu Vanny!"


"Tapi karena kamu tidak belajar dan belum mencobanya Rich!"


"Yang kita lakukan barusan dan waktu-waktu ke belakang apa itu? itu lebih dari mencoba kita praktek langsung, semua hanya nafsu kita saja Vanny, tak ada rasa yang lainnya. Maafkan aku Vanny, aku punya kehidupan sendiri."


******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2