
Pak Bagas sama Mang Jaka menggotong satu maket bangunan lengkap yang lumayan agak besar lalu diletakkan di salah satu meja. Dengan antusias Ameera meneliti setiap detil maket yang akan menjadi satu bangunan nyata bukan hanya replika nya saja, Ameera sangat ingin dirinya cepat-cepat menyelesaikannya menjadi satu agrowisata masa depan impiannya.
"Silahkan Bu Ameera, Pak Richard, kalau ada yang akan di perbaiki di rubah, atau di pindahkan di tandai di sebelah mana masih bisa karena ini masih replikanya."
"Baik Pak Bagas, aku sama Bu Ameera sudah meninjau langsung proyek itu, sepertinya untuk urusan lain aku percaya pada Bu Ameera. Pasti Bu Ameera tahu yang paling terbaik, aku percaya dan menyerahkan semuanya. Hanya satu permohonan, Aku sama Bu Ameera akan membangun satu tempat istirahat istimewa di sana dengan view matahari terbit dan tenggelam, menghadap danau dan perkebunan Pala juga Melinjo di sebrang danau itu."
Deg! Ameera begitu terusik dengan pernyataan Richard, itu semua impiannya yang ingin di realisasikan, kenapa Richard juga menginginkan seperti itu?
Apa dia hanya ikut ikutan saja?
Ameera melihat semua detilnya sambil mengelilingi maket replika bangunan itu, sedangkan Richard yang berdiri di seberang Ameera dengan bebas melihat wajah Ameera yang serius meneliti setiap isi dari rincian semua rencana bangunan itu.
"Bu Ameera kira-kira seberapa luas penambahan satu bangunan yang di inginkan Bu Ameera itu?"
"Karena aku yang jadi investornya, aku menginginkan semaksimal mungkin, sampai semua fasilitas bisa memadai dengan sempurna." Richard yang menjawab.
"Pak Richard, kalaupun itu di bangun belakangan juga tak apa, prioritas utama adalah fasilitas wisata, penginapan adalah bagian dari agrowisata itu sendiri dan aku menginginkan hanya sederhana saja yang penting aman dan nyaman ditinggali, karena mungkin aku tidak akan menetap di sana tapi sekali-kali ingin refreshing menikmati alam kemungkinan akan menginap di sana." ucap Ameera sambil memandang Richard.
"Tidak, aku ingin fasilitas di tempat itu begitu istimewa, karena sewaktu-waktu aku juga akan ikut memanfaatkannya aku akan membangunnya dengan fasilitas hotel kelas bintang." jawab Richard mantap.
"Aku pikir alangkah lebih prioritas bangunan agrowisata nya daripada bangunan sampingan yang hanya pelengkap saja." Ameera memandang Richard kembali, seperti menelisik wajah tampan laki-laki yang baru saja menyatakan perasaannya itu.
"Bu Ameera, aku tidak akan mengganggu modal yang sudah jadi kesepakatan dalam investasi ini. Tenang saja selama aset ku masih berjalan dengan baik Bu Ameera tak perlu khawatir, bangunan tambahan itu adalah tanggung jawabku."
"Baiklah Pak Richard, aku serahkan semuanya, Pak Bagas bagaimana semuanya apa ada masalah lain?" Ameera memandang Pak Bagas.
__ADS_1
"Sepertinya tinggal perubahan yang Pak Richard ajuin itu, yang lainnya sudah."
"Baiklah, mulai besok aku akan cairkan dana dan perlu ada transaksi di saksikan Pak Haji Marzuki juga kita bertiga yang akan menangani langsung proyek itu."
"Baik Pak Richard, nanti akan aku sampaikan pada Bapakku, biar besok bisa langsung transaksi dan proyek bisa segera dikerjakan secara massal, sepertinya aku tidak sabar ingin segera melihat maket ini menjadi sesuatu yang nyata." Ameera berbinar sinar matanya.
"Sama Bu Ameera, aku juga nggak sabar." Richard melirik Ameera penuh arti.
"Pak Bagas rupanya hari ini mungkin dicukupkan sampai di sini dulu besok kita lanjutkan menginjak kepada hal yang lebih serius dan segera transaksi kita lakukan, langsung melihat penataan di lapangan, sekarang saya ingin mengundang Pak Bagas sama Bu Ameera untuk makan bersama sebagai awal kerjasama kita, bagaimana Bu Ameera?"
"Boleh." Ameera menjawab pendek.
"Kalau Pak Bagas bagaimana?"
"Karena aku baru saja makan juga untuk lebih lengkapnya aku menyarankan besok saja undangan makannya biar di hadiri Pak Haji Marzuki."
"Eh, oh bo-boleh Pak Richard."
Jawaban yang jauh diluar perkiraan Pak Bagas, dikira dengan penolakan dirinya diajak makan bareng sama Richard Ameera juga akan menolak, tapi mereka malah sepakat mau makan bersama, sialan! membuat Richard membatasi kebersamaan dengan Ameera, ternyata susah, Ameera sepertinya ada hati sama Richard bukan sama dirinya.
"Baiklah kalau begitu kita pamit dulu Pak Bagas kalau memang Pak Bagas nggak mau ikut makan bareng."
"Iya Pak Richard, Bu Ameera silahkan!"
Richard sama Ameera keluar dari vila itu lalu dengan segera ia berjalan duluan membukakan pintu buat Ameera, membuat Amira hatinya begitu menghangat, lalu menaiki mobil Richard, dan Richard berlalu dengan kemenangannya.
__ADS_1
"Ameera, terimakasih untuk segalanya."
"Terimakasih untuk apa? aku tidak memberi apa-apa malah seharusnya aku yang berterima kasih pada Pak Richard karena akan membantu mempercepat pembangunan agrowisata itu, kalau dilanjutkan sama Bapakku mungkin akan selesai dalam jangka waktu lama karena modal yang tidak tersedia begitu banyak."
"Bukan itu, tapi tentang kita hatiku dan hatimu ...."
"Kenapa memang?"
"Kok masih tanya? apa kamu nggak senang mendapat ungkapan perasaan dariku tadi?"
"Aku senang, tapi bisa nggak kita jangan perlihatkan dulu sama orang luar kalau kita berhubungan?"
"Kenapa Ameera? Apa aku tidak pantas buatmu?"
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
__ADS_1
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏