Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Menghibur dengan permainan


__ADS_3

"Annet, aku berusaha memberikan perhatian sama kamu, aku berusaha menjadi orang baik di hadapanmu, kalau di bilang aku senang aku memang senang, dan selalu senang apalagi saat ada kamu di sampingku, kini kamu hamil benihku ngapain di bikin rumit?" Zen membuka pakaiannya semuanya dan siap naik tempat tidur, hanya menyisakan celana boxer nya saja.


"Zen aku bingung!"


"Lupakan saja dulu semua masalah, malam ini kita bersenang senang dulu, pagi-pagi aku transfer ke rekening kamu berapa yang kamu mau dari keuntunganku malam ini, tapi ada syaratnya kamu senyum dulu!" Zen tersenyum duluan akhirnya Annet juga tersenyum walau di rasa Annet begitu getir.


"Annet sayang, kamu kan sudah isi benihku, dan aku rasa tak ada jalan lain selain kita harus menikah suatu saat, maukah kamu terima transferan dari benihku tanpa pengaman malam ini?" Zen berusaha merayu Annet, sambil mencumbunya dengan ciuman dan belaian.


Annet hanya diam, hatinya tak bisa menolak kenikmatan yang selalu tawarkan Zen.


"Mungkin setelah kita melakukannya kamu akan merasa yakin kepadaku dan bisa mengambil keputusan sayang." Zen semakin merangsek dengan hasratnya.


"Lakukan Zen! kamu selalu tak bisa aku tolak!"


"Aku akan beri kamu kenikmatan malam ini, dan aku mengaku kalau benih yang tumbuh di perutmu adalah benihku."


Annet mencium leher Zen dan menyusuinya sampai ke perut bawah.


"Jaga benihku di perutmu, akan aku beri kamu segalanya." bisik Zen di telinga Annet. Annet mengangguk sambil memejamkan matanya.


Zen telah melepas semua penutup yang menempel di tubuhnya, Annet begitu suka memainkannya senjata maksimal siap kokang siapa saja partner ranjangnya sebelum penetrasi akhir.

__ADS_1


"Annet, pasti akan nikmat rasanya mencicipi kamu tanpa pengaman, kita lakukan sekarang dalam keadaan sadar ya?"


"Jangan banyak bicara Zen lakukan sekarang!"


"Terima kasih Annet sayang,


tentu saja dengan senang hati kita berpesta malam ini, pesta kemenangan kita akhirnya aku memenangkan kamu."


Zen merasa telah berterus terang tentang bisnisnya pada Annet jadi Zen juga harus mengamankan usahanya sebisa mungkin menutup mulut Annet yang mungkin bisa saja berkoar-koar pada siapa saja, seandainya tak tertutupi keinginannya salahsatunya dengan menghamilinya dan menikahinya, itu cara aman.


Berdua melakukannya dengan senang hati, seolah lupa akan masalah di belakang mereka yang tanpa diketahui mengintai terus.


Annet menikmati kenikmatan sesaat, tapi akibatnya akan membekas sepanjang hayat, lupa semua orang yang di cintai dan mencintainya, dan Zen merasa banyak duit dan bisa didapat dengan mudah, jadi begitu mudah juga untuk mengeluarkannya bisa membeli semua kenikmatan yang padahal anak istrinya begitu berharap baik pada suami dan Bapak mereka.


Itulah pemikiran gampang dan praktis, tanpa mereka tahu banyak hati yang tersakiti.


Annet selalu keuntungan yang di pikirannya, dan Zen hanya kenikmatan dan selalu bergairah saat dekat dengan Annet, itulah umpan yang menyesatkan siapa saja, tak pandai menjaga diri dengan perkataan, dengan nafsunya sendiri.


Berdua terkulai kecapekan, Zen bangun dari mengatur nafasnya dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Annet malah menggulung tubuhnya dengan selimut masih di tempat tidur.

__ADS_1


Zen keluar kamar mandi dan memakai kembali pakaiannya, menghampiri Annet dan mengusap kepalanya.


"Bangun dong, ke kamar mandi, apa kamu lapar?"


Annet menggeleng.


"Biasanya kamu lapar, aku bikin mie instan pedas mau ya?"


Zen membangunkan dan menarik perlahan tangan Annet dan menyangga tubuhnya dengan mengangkat punggung Annet biar duduk dan bersandar di dadanya.


"Senyum dong murung banget, besok siang aku masuk sorean kita belanja apa yang kamu mau ya!"


Annet mengangguk dan tersenyum.


"Annet ada satu hal yang akan aku sampaikan padamu walaupun itu aku tidak tahu apa suatu kabar yang baik atau buruk buatmu."


"Apa itu Zen?"


"Bos Richard akan menikah seminggu lagi, sebagai kabar baik apa buruk buatmu apa kamu sudah tahu dan mendengar semuanya? aku tahu bukan sesuatu yang tepat kamu mengetahui semuanya saat ini tetapi aku hanya mengingatkan kalau perjuanganmu untuk mendapatkan seorang Richard pupus sudah, kali ini aku pemenangnya kenapa aku berkata begitu karena aku tahu keputusan Richard mengambil satu perempuan untuk dijadikan istrinya adalah keputusan besar dalam hidupnya." Zen merasa puas telah menghamili Janneta.


Annet diam dirinya sudah memperkirakan itu, tapi sebelum mendapatkan kabar dirinya masih tetap berharap bisa bertemu sang flamboyan.

__ADS_1


Dengan siapa Richard menikah itu menjadi pertanyaan dirinya Apakah wanita yang tabrakan dengan dirinya di butik itu, atau dengan seseorang yang menyuapinya di tempat huniannya waktu Richard sakit?


semua itu hanya menjadi pertanyaannya dalam hatinya.


__ADS_2