
"Halo Benny, kirim sarapan biasa ke villa, kasihan istriku yang lagi menyusui sekaligus dua orang dan habis melewati malam panjang!" ucap Richard di ujung sambungan telepon.
"Ya siap Bos," jawab Benny padahal Benny juga kesiangan dan masih di rumah habis membayar lunas saat dirinya sama istrinya habis minum jamu tapi semua tak bersama karena Benny menemani Richard bertemu mertuanya malam itu.
"Bang kok bilang siap? kan pasti Kita agak siangan ke kantornya?" ucap Hanna mengingatkan suaminya.
"Biar diantar pegawai lain saja sepertinya Bos nggak tidur semalaman begadang berdua itu, lihat saja sebentar lagi Richie pasti punya Adik!" kekeh Benny di tempat tidur.
Hanna diam diujung tempat tidur. Merasa Dirinya paling tidak beruntung.
Benny merasa kalau bicara Anak atau hamil di depan istrinya suka langsung diam pasti Hanna merasa sensitif saja bawaannya.
Benny cepat meralat ucapannya sambil memeluk Hanna kembali. Hanna yang masih saja mengatur nafas dan mengeringkan keringat setelah semalam dan paginya bergelut dengan dirinya saling memberikan kenikmatan.
"Hanna jangan murung gitu ah, mulai memahami kehidupan Kita. Senang dong Kita bisa normal sesuka hati Kita bisa bersama nggak usah merenggut begitu Aku tanam tiap malam tapi sabar kalau semua itu belum ada hasil. Senyumlah bahagiakan dirimu dan suamimu ini Kita bikin hidup rumah tangga Kita bahagia dulu bahagia saja, setelah itu Kita berdoa dan pasrah juga berserah diri yang seharusnya Kita lakukan sebagai suami istri. Setelah Kita pasrahkan semuanya tidak mungkin do'a tidak terkabul walaupun kapan saatnya Kita tidak tahu. Jangan bebani hati Kita itu semua akan datang saat Kita merasa yakin."
Hanna berusaha tersenyum dan mengangguk. Memang tak bisa dipungkiri keinginan tinggi untuk memiliki seorang Anak bagi seseorang menghadirkan dilema dalam hidupnya banyak pertanyaan apakah dirinya yang tidak bisa hamil atau suaminya yang tidak bisa memberikan keturunan banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran setiap suami istri tetapi Benny selalu bijaksana menghibur istrinya.
__ADS_1
"Ayo mandi sudah telat banget Kamu duluan sana Aku mau telpon dulu orang kitchen biar langsung bisa diantar ke vila kasihan Bos Kita kelaparan."
Benny sekali lagi mengelus punggung istrinya dan Hanna bangkit sambil menutupi dadanya dengan pakaian yang belum di kenakan nya.
Hanna heran kok suaminya bisa santai seperti itu? padahal biasanya paling on time kalau pada pekerjaan.
Saat di kamar mandi Benny menggoda Hanna istrinya dengan menggoyang goyangkan juniornya dan menggesek gesekkan lagi senjata itu ke paha istrinya.
"Ah, Abang suka nggak jelas deh apaan itu?"
"Ih Abang, Aku sudah mandinya!"
"Eh, Sayang sepertinya enak di sini di bawah shower lho ..."
"Yang bener aja Bang?"
"Kenapa nggak bener? coba elus dulu deh sebentar punya Abang nih kayaknya nggak tahan lihat pinggul semok Kamu Sayang."
__ADS_1
"Bang ini sudah siang!"
"Jangan suka menolak kesenangan Kita Sayang, Aku sudah telepon orang kitchen biar Kita berangkat siang saja ayolah lihat nih Kamu suka kan?" benny mempermainkan junior kesayangannya yang mengandung panjang dengan sempurna.
Hanna tersenyum mengangguk senang juga lihat benda tumpul menegang di bawah perut suaminya itu. dan langsung menyergapnya.
"Balik badan Sayang di bawah shower kayaknya nikmatnya lain deh awas ketagihan lho!"
"Aw, Abang enak banget ternyata..." pekik lirih Hanna dengan meringis saat sesuatu menghujam dari arah belakang ke arah lorong sempitnya sambil berdiri. Kedua tangan Hanna berpegangan pada bibir bathtub.
Dengan leluasa tangan Benny merambah dada ranum nan subur di depannya menambah kencang ******* Hanna.
Badan licin semua terasa jadi sensasi yang terasa begitu nikmat sehingga tidak perlu waktu lama Benny menyelesaikan part pekerjaannya di pagi itu.
*********
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1