Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Kebersamaan yang manis


__ADS_3

"Ini tempatnya Rich, luas kan? itu danau kalau sudah siap kita bisa ber-sampan di sana, yang pakai tali ini buat jalur jalan menuju ke titik-titik area tertentu, di sini buat jajanan berbagai kuliner menghadap danau, di sana kebun Pala dan Melinjo sebagai jalur wisata edukasi dan sawah juga, pemancingan ini jangan di hilangkan, sebagai area edukasi wisata alam juga."


"Wow, wow, wow ... Ameera aku begitu mengaguminya, aku tertarik banget jujur aku kagum dengan penataan awal yang masih berjalan ini, aku akan investasi di sini, ini luar biasa banget." Richard begitu antusias.


"Untuk jelasnya kamu bisa lihat di gambar dan peta luas juga ukuran dengan yang sebenarnya, maket-nya lagi proses di bikin."


Maket adalah bentuk tiruan dalam tiga dimensi dan berskala kecil. Maket biasanya terbuat dari kayu, kertas, tanah liat, dan sebagainya. Maket berguna untuk menampilkan gambaran visual mengenai bangunan atau area yang dimaksud dengan skala yang tepat, tanpa perlu mengamati langsung objek aslinya.


"Sayang Bapakku nggak ada di sini ya Rich. Jadi kita tidak bisa ngobrol panjang lebar, tapi aku janji nanti sampai di rumah aku akan sampaikan keinginanmu untuk berinvestasi di sini, juga antusias kamu ikut andil dalam merancang tata Agrowisata ini."


"Ameera, aku seperti hidup kembali berada di sini, mungkin seperti hatimu aku menjadi ikut betah dan menginginkan tempat ini untuk aku modalin. Semoga jadi tempat yang berarti dan memberi arti bagi orang lain."


Richard menyodorkan tangannya saat Ameera melewati jalanan berbatu dengan hak sepatu yang agak tinggi. Juga saat melintasi parit yang belum jadi, dengan senang hati Richard membantu sekecil apapun kesulitan Ameera.


Mereka berjalan-jalan keliling area, dengan antusias dan muka berbinar Ameera.


Ameera juga sedikit bisa menerka walau hanya perkiraan saja, kenapa hatinya selalu berdesir dag dig dug saat Richard menyentuh tangannya dengan alasan memberikan pertolongan spontan.


Ameera sendiri seperti tidak sadar kalau itu sesuatu yang dirinya jaga bersentuhan dengan yang bukan mahram, tapi semua itu selalu diingat setelah kejadian dan dirinya mengucapkan terimakasih, kenapa dirinya begitu tidak fokus kalau di hadapan Richard? apa pesona Sang Presdir flamboyan begitu menawan hatinya?


Kenyamanan di rasakan hati keduanya Richard sama Ameera, ngobrol sampai lupa waktu, dan berjalan di kebun Pala juga Melinjo sambil tak lupa Ameera menyapa dan mengajak ngobrol saat bertemu dengan setiap pekerja yang bekerja di perkebunan Bapaknya. Juga beberapa orang yang lagi mengerjakan pekerjaan di area yang akan dibikin wisata agro.


Selain Ameera dan Richard yang berada di area itu sudah ada beberapa wisatawan yang hanya sekedar berjalan-jalan menikmati keindahan alam pemandangan an dan sekedar melihat-lihat tempat wisata yang masih di bangun dan di kondisikan.


"Richard, aku ingin saat bangun tidurku melihat matahari terbit dari sini, melihat danau dan pemandangan hijau perkebunan."


"Semoga harapanmu itu akan jadi kenyataan Ameera."


"Aamiin, semoga jadi kenyataan Richard."


Betapa ingin Richard mengatakan perasaannya, kegelisahannya, harapan dan keinginan untuk merealisasikan harapannya Ameera, tapi begitu cepat apa itu lebih baik?


'Tidak! jangan, akan merasa malu dengan kebersamaan yang belum lama masa langsung jatuh hati?'


'Tapi mungkin ini jatuh ini cinta pada pandangan pertama, apa salahnya?'


Melihat sinyal dan respon baik adalah satu peningkatan besar bagi Richard, mereka bisa berjalan-jalan berdua otak Richard mulai bekerja benar apa yang diucapkan Benny sering bersama, sering berinteraksi sering berkomunikasi itu kunci awal untuk menjalin keseriusan, memperlihatkan sikap baik dan memberikan perhatian itu juga sesuatu sesuatu hal yang tidak bisa diabaikan.


"Ameera, apa kamu haus?"


"Banget."

__ADS_1


"Ayo kita cari minum, mungkin di sebelah sana ada warung minuman."


"Sepertinya jauh Rich, aku sudah lelah. Harinya cerah banget sampai aku kegerahan."


"Gimana kalau kita sudahi saja melihat-lihat areanya, kita cukupkan untuk hari ini? kita masuk mobil aku kasihan lihat kamu kegerahan sampai muka merah begitu, di mobil kan ada Ac-nya."


"Boleh Rich, jadi kita pulang saja?"


"Ya, tapi aku akan ajak kamu makan siang dulu, kita lanjutkan ngobrolnya nanti."


Ameera yang merasa kecapean menurut saja apa yang di sampaikan Richard. Mereka begitu jauh berjalan mungkin hanya setengahnya saja yang bisa mereka injak.


Karena mobil Richard jauh terparkir di pinggir jalan, kalau di paksakan masuk ke area masih berbatu karena lagi pembangunan parit-parit dulu dan juga pembagian lahan ada yang ditinggikan ada yang direndahkan ada yang dikeruk dengan berbagai penataan yang telah terkonsep.


Richard juga kelihatan mukanya memerah karena kecapekan dan sinar mentari, lumayan bakar lemak dan kalori seperti satu sesi nge-gym saja rasanya.


Saat Ameera merasa lelah dan jalannya mulai melambat Richard menarik tangannya mengajak istirahat dibawah pohon rindang sebelum mereka sampai ke mobil, sekali lagi Amira mengikuti apa yang disarankan Richard.


"Boleh aku ajak kamu makan siang?"


"Heemght ...."


"Mau di mana? boleh kamu yang rekomendasikan." Kali ini Richard memandang dari jarak yang begitu dekat wajah cantik Ameera yang berkeringat.


Richard mengambil sapu tangan dari saku celananya, memberikan pada Ameera.


"Kamu nggak bawa tissue kan?"


"Nggak, tapi biarin Rich, Aku ada ujung kerudung nih." Ameera menolak sambil mengusap perlahan keringat di keningnya dengan ujung kerudung.


"Pakai aja, nggak apa-apa." Rich menjejalkan sapu tangan ke tangan Ameera.


"Berarti kalau makannya di hotelku juga mau?"


"Boleh aja"


"Serius Ameera? oke aku akan telephon Hanna sama Benny biar mereka bisa memberikan pesan pada koki. kamu mau makan apa?"


"Apa aja aku makan Richard, mau makanan cepat saji, masakan kampung dan tradisional semua aku suka."


"Baiklah kita makan di restoran koki kesayangan aku, heee ..."

__ADS_1


"Richard, ayo kita jalan lagi."


"Tunggu saja di sini, biar aku ambil mobilnya ke sini, sepertinya jalanan ini bisa di lalui walau belum rata banget."


Richard berjalan sendiri, menyusuri jalan yang agak terjal, dalam pandangan Ameera begitu gagahnya seorang Richard, 'Tapi kenapa sampai saat ini belum berumah tangga?''


Ada satu pertanyaan yang menjadi unek-unek di dalam hati Ameera dan belum pernah di singgung oleh Richard sendiri.


Sosok seorang Richard menjadi perhatian Ameera untuk lebih sedikit tahu tentang kehidupannya seperti apa, melihat dan tahu kesehariannya juga keluarganya.


Richard yang begitu mempesona setiap wanita termasuk Ameera, membuat dada dan hati Ameera berdesir saat berdekatan dan saat mengingatnya hanya senyum yang keluar dari mulut Ameera.


Richard datang dengan mobilnya, Ameera mendekat lalu membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di samping Richard.


Senang banget dan bangga bisa duduk di samping seorang cantik di sebelahnya. Richard memandang Ameera yang menaiki mobilnya sampai duduk dengan manis di sebelahnya.


"Kita jalan-jalan dulu ya sayang sebelum koki restoran menyiapkan pesanan kita."


"Rich, kenapa kamu memanggil aku dengan sebutan seperti itu?" Ameera memandang dalam wajah simpatik menarik itu.


"Astaga, aku lupa Ameera, maaf ya aku merasa begitu sayang juga sama kamu, mungkin sebagai apa sebagai sahabat begitu."


Ameera senyum sambil melirik sang blasteran di sampingnya. Mobil mulai jalan perlahan.


Richard pura-pura lupa padahal sengaja ingin tahu respon Ameera, Richard berhasil membuat senyum yang begitu manis di bibir menggoda Ameera.


"Kamu anak paling gede ya?"


"Iya kenapa?"


"Berarti kita sama, aku punya adik cewek satu masih kuliah mungkin sama kayak adik kamu Aliyah usianya."


"Oh ya? keluargamu masih komplit Rich?"


"Masih."


"Kamu aslinya mana sih?"


******


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2