
"Kamu aslinya mana sih?"
"Aku? orang sini lah emang kenapa? beda? lebih ganteng? haaa ...." Richard tertawa begitu enak.
Ameera hanya tersenyum mendengar kelakar Richard, ' jujur memang beda makanya nanya, dan kamu ganteng
"Ibuku asli orang sini, Mama Amalia, Sunda dari Bandung cantik banget seperti kamu cantiknya mungkin, pada masa mudanya konon katanya jadi idola dan rebutan, haaa ... Bapakku Papa Isaak keturunan Belanda dari nenek dan kakekku yang asli Belanda, jadi memang aku hasil dari campuran makanya ganteng begini."
'Emang ganteng, tapi kamu sombong Richard'
"Tapi aku di besarkan dan tinggal sama Nenek dari mulai sekolah sampai kuliah karena aku nakal, Aku balik ke Bandung tidak betah sama orang tua balik lagi ke sini mulai jadi pengangguran bersama teman satu frekuensi Benny, mulai kerja dan nabung merintis usaha sampai sekarang."
Ameera menyimak apa yang di ceritakan Richard.
"Nenek meninggal aku bangun tanahnya kesini-sini jadi salah satu hotel yang aku tempatin sekarang. Eh, tak tahunya tetangga hotel ku bidadari cantik."
"Ah, kamu Richard, suka berlebihan." Ameera merasa malu sendiri.
"Aku kan udah cerita, kamu dong sekarang cerita." Richard melirik Ameera di sampingnya.
"Oh, aku asli orang sini, nggak ada yang lainnya."
"Ah, kamu curang masa segitu doang ceritanya?"
"Apa yang harus aku ceritakan Rich? aku belum punya prestasi seperti kamu yang membanggakan keluarga, malah aku orang yang gagal membahagiakan kedua orangtuaku, aku masih dalam tanggungan orangtuaku."
Ameera seperti malu pada dirinya sendiri, melihat kehidupannya yang hanya seperti ini, belum sukses seperti Richard dan lepas dari orangtua bisa hidup dan menghidupi orang lain.
"Kamu kan perempuan, tak seharusnya kerja, dan orangtua sudah seharusnya memberi jalan untuk masa depan anaknya."
"Iya sih, tapi kalau kita punya ilmu dan kemampuan kenapa tidak untuk memanfaatkannya?"
"Ameera, boleh aku jadi temanmu?"
"Kan sekarang juga kita sudah berteman Richard! maksudmu apa?"
"Oh, eh a-aku lupa lagi mau ngomong apa sama kamu, heee ... kamu bikin aku nggak fokus."
"Loh, kok kenapa dengan aku?"
__ADS_1
"Emght ... Ameera boleh kalau malam aku lagi sendiri menelephon kamu? ta-tapi kalau sekiranya mengganggu jangan." Richard malah meralat ucapannya sendiri, walau Ameera belum memberi jawaban.
"Oh, boleh kenapa nggak boleh? tapi aku biasa tidur nggak terlalu malam, juga malam-malam tertentu aku ada pengajian rutin di Yayasan juga pengajian keluarga, kalau ponselku mati maaf ya."
Richard hatinya bergejolak, seperti bersorak yang begitu keras dan lantang mengabarkan kebahagiaan hatinya.
"Richard, boleh aku bertanya sesuatu padamu tapi begitu pribadi, karena kita sudah jadi teman, kamu tersinggung nggak?"
"Ya ampuuuuun Ameera, tanyakanlah dengan senang hati aku akan menjawab apapun itu. Aku tidak ingin ada yang disembunyikan, kehidupanku pekerjaanku, Bisnisku, keluargaku tanyakanlah semuanya!"
"Kenapa sampai usia segini kamu masih belum berpikir untuk berkeluarga? secara ekonomi kamu sudah mampu lebih dari cukup untuk menghidupi keluargamu, apa kamu tak ingin punya keluarga dan hidup nyaman di dalamnya?"
"Ameera, pertanyaan mu harus aku jawab panjang kali lebar, juga itu akan menyangkut kejujuran ku, karena kita telah sampai kita makan saja dulu ya, bagaimana?"
"Boleh, Rich."
"Oke nanti sambil kita makan aku akan jawab pertanyaannya."
Richard memarkir mobilnya di tempatnya khusus, lalu turun tapi tak sempat membukakan pintu buat Ameera karena Ameera sudah duluan turun.
Dengan gagah dan bangga Richard berjalan melewati lobby hotel berjalan bersisian dengan Ameera, menuju ke samping kantornya lalu melewati taman dan benteng kolam renang yang tinggi lalu sampai di huniannya, tempat tinggal ekslusif hanya orang tertentu yang boleh masuk ke dalamnya.
"Aku biasa makan di dalam, jadi gimana?"
"Ya sudah, batalkan saja kita makan di luar kalau mau di tempat terbuka di ruangan publik."
"O-oke Ameera, aku minta maaf, aku ingin ngobrol leluasa sama kamu tadinya, ma-makanya aku ajak ke tempat tinggalku jadi kita bisa santai makan di taman dan gazebo, tapi nggak apa-apa kamu tidak usah khawatir akan ada Benny sama Hanna yang akan menemani kita makan siang, karena tanggung kita sudah memesan makanan dan mungkin sekarang sudah ada di ruanganku, kamu tunggu saja dulu di sini saya memanggil Benny sama Hanna asistenku."
"Oke, boleh biar kit ajak sekalian makan bareng." Ameera duduk di bangku taman sambil mengagumi kemegahan bangunan The Rich Hotel dari dekat bahkan Ameera ada di dalamnya kini.
Richard kelihatan mengambil ponselnya dan menyambungkannya ke nomor Benny.
"Ya Bos, ada apa?"
"Lo sama Hanna ke ruangan gue sekarang, temani gue makan sama Ameera!" Richard langsung dengan perintahnya.
"Aduuuuuuh Bos, aku lagi pacaran makan di luar bareng Hanna, Bos makan aja berdua kan ini waktu istirahat Bos."
"Pokoknya lo pulang sekarang, lanjutkan makannya di sini nggak pakai alasan apapun gue tunggu sekarang!"
__ADS_1
"Bos, jangan gitu dong minta kebijaksanaannya lihat pacarku baru nyuap satu suap gimana ini?"
"Lo mau gagalkan makan siang gue? gue tampol pala lo! bubar pacarannya siang bolong begini pacaran! pulang gue mau lo berdua sepuluh menit sudah ada di sini!" Richard memutus sambungan telephon sama Benny.
"Rich, kok begitu? siapa yang kamu paksa suruh datang?" Ameera mendengar dan menangkap pembicaraan Richard walau hanya sepihak.
"Benny sama Hanna lagi makan di luar, aku suruh balik biar makan di sini saja bareng kita."
"Astagfirullah, Rich jangan memaksakan keinginan, apalagi mereka lagi tanggung."
"Mereka lagi tanggung pacaran, biarin nanti makannya lanjut di sini!"
"Rich, nggak boleh begitu, mengganggu privasi orang itu tidak baik, apalagi mereka butuh istirahat mereka tahu diri mencari waktu senggang itu tidak mudah di sela-sela pekerjaan mereka kenapa kita tidak makan di luar saja?"
"Ameera, mereka asistenku mereka harus menghargai aku juga, apa salahnya mereka pulang dan makan siang sama kita?"
"Itu nggak salah Richard, kamu berhak mengatur mereka dan mereka wajib taat akan aturan, tapi memaksa orang saat orang sedang punya acara pribadi dalam waktu istirahat itu kurang baik hanya karena ingin di temani makan siang."
Richard diam.
"Aku tidak suka kamu memaksakan keinginan, mereka berhak dengan hidupnya, berhak dengan perasaannya, berhak dengan waktunya, lagian sekarang waktu sholat Dzuhur aku mau sholat dulu, mari kita melakukan kewajiban sholat dulu di mana hotel ini musholanya?"
"Maaf Ameera, hotel ini tidak ada musholanya."
"Astagfirullah Richard, kalau gitu aku pulang dulu ke vila, aku mau sholat dulu, kalau mau ikut mari silahkan kita sholat berjamaah."
Richard diam se-diam diamnya di hadapan Ameera, hatinya berontak tapi tak berdaya, harapan makan siang semua buyar ambyar hilang sudah selera makannya.
Tapi pukulan telak paling merasa bersalah di hadapan Ameera adalah Richard tidak menyediakan tempat untuk beribadah, padahal mayoritas malah hampir semua karyawan dan dirinya adalah satu keyakinan.
"Maaf Richard, aku pulang dulu, mungkin lain kali kita bisa makan siang bareng."
Ameera membungkuk di samping Richard dan berlalu.
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
__ADS_1