
"Apa? menikah?" Richard seperti mau meloncat saja saking kagetnya.
"Begini Pak Richard, Benny kebelet mau nikah, tapi mungkin dana lagi seret karena lagi membereskan membangun rumah, Bapak sarankan nanti saja menikah setelah rumah selesai, mengumpulkan tabungan lagi untuk bekal menikah tetapi Benny berkeras ingin menikah dalam waktu dekat, Bapak tidak bisa melarangnya."
"Jadi?" Richard mengerutkan dahinya masih dengan perasaan tak percaya mendengar apa yang dikatakan Bapaknya Benny.
"Sebagai orang tua kami tidak bisa menghalanginya dan sore tadi dia menikah walaupun secara siri asal sah saja dulu menurut agama itu akan lebih baik. Menurut pendapat semua orang, juga saudara kami seharusnya begitu daripada kita terjerumus pada sesuatu hal yang tidak benar mending mereka sah dulu, nanti setelah selesai rumah ada rezekinya baru dia akan resmikan pernikahannya seperti itu Pak Richard."
"Astagfirullah, Benny kenapa tidak bicara dulu padaku Pak? tidak ngomong sama sekali, Benny ya ampun ....!"
Richard menyesali keputusan Benny, tapi apa mau di kata, sekarang Benny sudah resmi menikah walau masih siri sah menurut agama cuma belum tercatat di administrasi negara. Berarti sudah bisa bongkar bongkar.
"Benny sekarang ada di mana?"
"Pasti di rumah Hanna istrinya."
Richard tersenyum sendiri, dan pamitan pada bapaknya Benny dia kembali ke kamar hunian nya dan.malam baru kira-kira jam 20:00.
'Sialan Si Benny benar-benar nekad juga, berani amat menikah tak beri tahu gue, memang gue atasan seperti apa? atasan tak perduli? atasan pelit? kasihan amat lo Ben, lo kepercayaan gue tapi untuk modal menikah saja lo nggak punya.'
'Kontribusi lo di perusahaan ini begitu besar dari awal sampai sekarang tapi kenapa lo terlalu jujur? bahkan untuk ngomong saja begitu sulitnya? sedang gue selalu ingin di bantu dalam hal apapun.'
Richard terasa sedih mengingat nasib orang begitu berbeda-beda dirinya yang berkecimpung dengan kemewahan dan harta yang berlebih hanya menghamburkan uang dipakai untuk hal-hal yang tidak berguna sedangkan anak buahnya sendiri Benny sekedar untuk meresmikan pernikahannya juga begitu belum terjangkau.
Tapi Benny punya bangunan rumah mewah untuk ukuran kampung di situ, itu juga kebanggan buat Richard, mungkin ada yang di prioritaskan dulu dan memang harus ada yang di kalahkan jika ingin meraih sesuatu dan fokus dulu pada satu hal.
Seperti dirinya yang harus berkorban lahir batin luar dan dalam untuk meraih harapannya dan saat ini dirinya harus ada yang dikorbankan yaitu kebiasaan dan kesenangannya. Bahkan bila mungkin harus mulai berubah semua kejelekan harus mulai dikikis habis bahkan Richard berencana merenovasi dan merubah tatanan kamarnya agar tidak mengingatkan pada setiap perempuan yang pernah masuk di dalamnya.
Richard meraih ponselnya berusaha menghubungi Benny kembali, tapi lama nggak di angkat walau telephon aktif dengan panggilan berdering.
Richard paling tidak suka pada semua orang kalau tidak on time, Benny pun tahu semua orang di lingkungannya tahu.
__ADS_1
Akhirnya Benny yang menelephon Richard, karena harus seperti itu harus dengan secepatnya menghubungi kembali saat telephon tidak sempat diangkat.
"Ya Bos, ada apa?"
"Gue cemas sama lo Benny! lo ada di mana sekarang?"
"Aku ada di rumah."
"Akan ada mobil ambulan menjemput ke rumah lo saat ini ya, gue mau lo di rawat kalau memang lo benar sakit."
"Tapi aku sakitnya nggak parah parah banget Bos, cukup istirahat aja semoga besok aku sembuh kembali."
"Jadi malam ini benar lo mau istirahat? nggak akan kerja?" Richard sengaja mengerjai Benny dengan memberondong pertanyaan yang membuat Benny mengerutkan dahinya.
"Sepertinya begitu Bos."
"Gue rasa kalau lo tetap di rumah lo nggak akan bisa istirahat, pokoknya gua kirim mobil ambulan biar lo bisa dirawat rumah sakit sekarang juga."
"Waduh Bos nggak usah ngerepotin, aku sekarang udah mendingan kayaknya besok aku janji aku pasti sehat, aku sudah bisa kerja dan yang pertama aku lakukan adalah besok datang pada Ameera."
"Pokoknya aku akan memenuhi janji kalau aku akan mempersatukan Bos sama Bu Ameera apapun hambatannya, tapi aku juga sambil melihat keseriusan Bos dulu."
"Gue mau tahu apa lo sukses dalam misi ini apa nggak, buktikan apa trik lo! makanya lo harus sembuh."
"Iya aku sembuh besok juga, tapi nggak bisa tidur sepertinya malam ini, besok agak siangan ya Bos."
"Jelas lo nggak akan tidur karena lo mau bongkar koper malam ini! Lo kapan mau jujur sama gue heh? apa nanti kalau istri lo si Hanna sudah hamil apa?"
"Maksud Bos apa?"
"Lo kira gue nggak tahu kalau lo sudah menikah?"
__ADS_1
"Bos dari mana tahu?"
"Lo nggak usah tanya darimana, yang pasti gue tahu semuanya. Sebenarnya gue marah karena gue udah nggak dianggap sama lo, lo pikir gue siapa? tak perduli sama lo berdua? kenapa tak lo bicarakan semuanya biar ada solusinya? nikah siri kasihan amat orang kepercayaan gue sampai segitunya!"
"Aku sama Hanna minta maaf, Bos dengan berbagai pertimbangan kami melakukan semua ini karena kami juga malu atas semua kebaikan yang Bos berikan pada kami, sudah terlalu banyak yang aku terima."
"Semua sudah terjadi, besok lo harus masuk! gue galau sendiri."
"Siap Bos!"
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Novel : Begitulah Takdir
By : Yuthika Sarah
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntun mu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
__ADS_1
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?