
Waktu menunjukan pukul 23:07 saat Ibunya Annet masuk kamar dan mendapatkan putrinya sudah terlelap.
Sakit rasanya hati seorang Ibu memandang putri dan mengingat nasibnya yang salah jalan dengan keras hati mengikuti keinginan dan ambisi yang menyesatkan.
Bagaimanapun Janeeta adalah putrinya, perjuangan membesarkannya, perjuangan membawa dari negaranya yang tengah dilanda konflik waktu itu berapa puluh tahun lalu, dan perjuangan juga saat pindah warga negara sampai diakui di sini dengan bantuan berbagai pihak.
Teman seperjuangannya Bunda Haji Saodah adalah saksi perjalanan kisah Ibunya Annet, menerima dengan tangan terbuka dan menganggap Annet adalah anaknya juga, walau dari kecil baru ketemu lagi saat ada masalah kini.
Rasa sayang Ibunya Annet terlihat saat habis-habisan menitipkan Annet pada Bunda Haji Saodah. Apalagi Annet dalam keadaan hamil. Kecemasan yang sangat beralasan, tapi Ibunya Annet harus tegas kali ini walau dirasa terlambat, berharap kedepannya Annet dapat hikmah dari keberadaannya di sini.
Ibunya menyelimuti Annet, tak banyak yang di katakan dan dipesankan takut malah jadi beban buat anaknya. Semua sudah di serahkan pada Haji Saodah. Betah nggak betah semoga Annet bisa menghabiskan waktunya di sini dan belajar membuka mata hatinya dan menjadikannya pelajaran hidup.
Ibunya Annet merebahkan tubuhnya di samping Annet, mengukir segala angan dan harapan dalam pikirannya, juga segala masalah yang menimpa anak dan keluarganya dianggap sebagai musibah dan cobaan hidup, semoga ada secercah titik harapan untuk kedepannya.
*****
__ADS_1
Lega rasanya hati Ibunya Annet telah memperkenalkan tempat tinggal untuk sementara waktu di sini, yakin dan percaya kalau Haji Saodah bisa membimbing Annet, tinggal Annet nya yang harus berusaha keras menyesuaikan diri di sini.
Pagi-pagi Mamanya Annet sudah bangun dan melaksanakan kewajiban sholat subuh nya, dan membiarkan Annet masih lelap dalam tidurnya.
Lanjut ke dapur memperlihatkan kemampuannya bikin kue buat sarapan semua penghuni Yayasan itu, semua merasa senang dengan hadirnya Ibunya Annet, terlebih Ibu Haji Saodah karena mereka bisa ngobrol tentang apapun dan pengalaman selama mereka menjalani kehidupan masing-masing.
Setelah Annet bangun baru Ibunya Annet pamitan, dan tak banyak yang dipesankan hanya jaga kesehatan, banyak belajar dan bisa menitipkan diri sebaik-baiknya, sehingga tempat ini menjadi tempat yang membuat Annet betah dan banyak mendapat hikmah, manfaatkan diri buat sesama sekecil apapun kemampuan kita.
Begitu singkat tapi padat akan makna setiap apa yang Ibunya ucapkan, tak mampu Annet menjawab hanya pelukan dan permintaan maaf di saksikan anak-anak Yayasan yang tak mengerti arti dari tangisan Ibu dan anak itu.
Tak mudah semua orang berada di tempat ini pada awalnya, pasti akan merasa terbuang, kalau dititipkan keluarga dan akan merasa sendiri kalau datang sendiri, perlu penyesuaian dan niat kuat untuk berubah berada di sini.
Membawanya duduk di sofa dan mengajaknya bicara.
"Sudahlah Annet sayang, hapus air matamu. Jangan jadikan itu senjata kesedihanmu, walau menangis adalah pernyataan sesal dan kesedihan kita, semua itu bisa kita lawan, sesal boleh saja tapi untuk memacu kita berubah, jangan pikirkan apapun, yang penting jaga kesehatan kamu, hiduplah seperti biasa, nanti juga akan terbiasa, banyak kegiatan yang bisa kamu ikuti di sini dan saling beri manfaat sama yang lain juga dedikasikan selama di sini menjadi orang yang bermanfaat, minimal kamu mandiri tak menjadi beban dan merepotkan orang lain, kamu sudah dewasa mulailah berpikir positif, ada Ibu di sini boleh tanya apapun," ucap Ibu Haji Saodah panjang lebar memberi motivasi pada Annet.
__ADS_1
"Iya Bu, mulai saat ini aku mencoba keluar dari masalah dan masa lalu hitam ku selama ini, pengalaman dan kejadian memberi banyak pelajaran berharga padaku." jawab Annet sambil mengusap titik airmatanya.
"Bagus itu sudah merupakan hikmah yang bisa kamu ambil, mulailah dengan kehidupan yang baru, banyak kegiatan sosial dan keagamaan di sini yang bisa kamu ikuti, pengajian, pendalaman agama, keterampilan perempuan juga laki-laki, kegiatan olahraga, kerja bakti dan lain-lain." tutur Bunda Haji Saodah begitu lembut.
"Iya Bu semoga keberadaan ku di sini bisa memberikan ketenangan buat Ibuku yang selama ini aku kecewakan," ucap Annet penuh pengharapan.
"Bagus, sebenarnya itu juga sudah satu kebahagiaan buat Ibumu, mulailah dengan niat baik semoga hidupmu ke depan menjadi bermanfaat."
"Iya Bu, boleh aku mengambil segala sesuatu barang-barang ku di tempatku tinggal kemarin?"
Ibu Haji Saodah diam, berpikir takut Annet minggat dan kembali ke dunia nya, tapi dalam keadaan hamil mungkinkah?
"Boleh banget sayang, nanti Ibu yang antar sama sopir."
Annet tersenyum mengangguk, memberi keyakinan pada Haji Saodah.
__ADS_1