
"Maaf Bos Benny, dua hari diikuti Pak Haji Marzuki hanya pergi ke Yayasan saja berkantor seperti biasa tidak ke hotel atau villa yang kemungkinan di sewa Bu Ameera." Satpam melaporkan hasil dua hari mengikuti target utama Haji Marzuki yang semua nihil tidak pergi ke tempat yang dicurigai di situ tinggal Ameera.
"Pokoknya tiap hari ikuti saja, coba dua hari ke depan ya!" jawab Benny merasa tak percaya.
"Baik Bos."
Benny memandang Richard yang sedang mengacak acak rambutnya dan kumis jambang sudah mulai panjang tak diurus lagi dan pakaian yang biasanya tidak berpenampilan lecek seperti itu.
"Aku putus asa Benny! malam nanti Kita desak orangtua Ameera Aku jadi penasaran banget masa membiarkan Rumah tanggaku berantakan begini apa pendapatnya?" ucap Richard dengan mata merah karena kurang tidur.
Benny hanya diam saja.
"Di mana Ameera berada? kok begutu sulit di cari? hanya satu yang membuat Richard ada sedikit rasa tenang karena keluarganya pasti tahu hanya memegang amanah dan komitmen saja tidak memberitahukan Dirinya di mana Ameera berada sungguh semua terlalu menurut Richard.
"Benny, Aku mau ke Mall siapa tahu prediksi Kamu bisa di harapkan!" ucap Richard sambil bangkit dari duduknya.
"Baik Bos."
Sehari hari benny sama Richard tidak pernah ada di tempat selalu saja berpindah-pindah dan seorang satpam tetap mengikuti Haji Marzuki setiap harinya dan ini adalah hari ke-10 dimana Ameera pergi meninggalkan Richard. Lebih dari seminggu Richard kerja nya emosi kemarahan kadang tak terbendung karena ingin menyampaikan dan meluruskan kesalahpahaman pada Ameera tetapi Ameera tidak bergeming masih tetap saja tidak keluar tak ingin menemui Richard ataupun keluarganya atau mungkin keluarganya bisa bertemu tanpa sepengetahuan Richard.
__ADS_1
"Aku lapar mau makan apa saja!" sesampainya di lantai tiga Mall di kota itu.
"Baik Bos." jawab Benny sigap dengan keinginan atasannya.
Richard sama Benny duduk di gerai makan di lantai tiga Mall itu Richard membuka kacamata hitamnya dan memandang jauh ke bawah halaman Mall yang ramai orang dan mobil di parkiran luar masuk dan keluar area Mall.
Baru saja makanan datang dan masih mengepul di depannya Selintas Richard melihat seseorang keluar dari salon kecantikan mirip sama Ameera. Richard berdiri mau meyakinkan karena jauh dari ketinggian gedung dimana Dirinya berada antara keyakinan dan keraguan.
"Benny itu seperti Ameera keluar sari salon lihat! Oh ya ampun itu benar Benny Aku lihat Dia Ameera masuk mobil merahnya! ayo Kita kejar!" teriak Richard berlari meninggalkan Benny dan segala propertinya.
Richard dengan berlari menuruni eskalator dengan berlari melewati beberapa undakan sekali loncat dan langkah panjangnya. Satu lantai dua lantai dan lantai dasar baru parkiran luar Mobil merah yang di sebut Richard itu di naiki Ameera sudah hilang jauh. Richard teriak-teriak seperti orang kesurupan di jalan raya dan bertanya ke mana arah mobil merah barusan.
Benny membuka pintu mobil dan menarik Richard masuk lalu menutup pintu dan Benny kembali ke belakang setir dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari Mall.
"Itu tadi Ameera Benny Aku yakin. Ameera habis dari salon mobilnya merah tidak salah lagi!"
"Mungkin iya Bu Ameera atau hanya halusinasi Bos saja."
"Aku yakin kalau itu Ameera istriku Banny. Pokoknya jalan saja cepat Ameera tak pernah bawa mobil dengan cepat pasti kekejar!"
__ADS_1
"Bos sabar itu mungkin benar Bu Ameera atau orang lain yang mirip Kita usahakan kejar tapi kalau belok ke mana Kita tidak tahu jalan ini panjang apa tiap gang Kita masukin? terus sebelah kiri apa kanan?"
"Arg! Ameera!" Richard teriak kayak orang kesurupan Benny meminggirkan mobilnya takut panik biar Richard tenang dulu.
Richard menuju ninju sandaran jok duduknya dan memaki tak jelas entah marah pada siapa, dan emosinya begitu gampang tersulut.
Benny biasa menghadapai Bos yang seperti ini, saat marah, saat emosi, kecewa ataupun kesal juga saat senang suka dan gembiranya.
"Bos sudah sore mau pulang dan istirahat di mana?" setelah tenang baru Benny bertanya.
"Terserah Kamu!"
Benny menjalankan mobilnya ke villa kembali karena di rasa di situ paling nyaman untuk bisa istirahat dan tenang.
Benny melirik Richard yang memejamkan matanya sambil bersandar di sandaran joknya dengan nafas yang masih terlihat kesal.
********
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️