Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Jody yang sabar


__ADS_3

"Loka, kenapa kamu diam saja, kamu marah?"


"Aku bingung Mas Jody."


"Makan saja dulu nanti ceritanya."


"Mas, kenapa tidak jujur dari awal kalau Mas itu seorang direktur perusahaan?"


"Jujur maksud kamu itu seperti apa Loka? saat aku kenalan sama kamu aku katakan, kenalan! nama saya Jody, pekerjaan sehari-hari direktur aku orang kaya, aku banyak duit, aku udah duda tiga kali, aku gagal dalam rumah tangga dan sekarang ingin serius sama kamu! apa harus begitu saat kenalan?"


"Aaaaah ... Mas Jody bukan begitu juga, tapi aku susah ngomongnya gimana?"


"Kalau susah ngomongnya sini biar aku cium dulu baru lancar ngomongnya, heee ..."


"Ih Mas, banyak orang di sini jangan aneh-aneh deh." Loka mendorong muka Jody yang sudah monyong di sebelahnya.


"Maksud kamu mau ngomong apa? ayo ngomong aja aku lapar biar aku dengar sambil makan."


"Mas Jody nggak serius amat sih? orang mau ngomong juga!"


Loka cemberut.


"Ya, terus maunya apa?" Jody sabar memandang wajah cantik Pitaloka.


"Udah ah, aku juga makan dulu bingung ngomongnya."


"He he he .... makanya dari tadi juga apa kataku, kita makan aja dulu nanti sambil santai pikiran kita udah tenang perut kita udah kenyang baru kita bicara ya?"


Loka Makan dengan diam, mungkin lagi berpikir bagaimana dirinya merancang untuk ngomong menyampaikan isi hatinya, tetapi kenapa begitu susah biar Jody mengerti.

__ADS_1


Jodi memandang Loka di sela-sela suapannya, wajah cantik Loka tetap cantik saja walaupun Loka lagi diam, lagi ngambek juga lagi cemberut, membuat Jody semakin gemes pengen menenggelamkan wajah itu di dadanya dan merangkum wajah itu di kedua tangannya.


Selesai makan Jody baru memandang wajah kekasihnya yang beda usia jauh itu.


"Mau nambah nggak makannya?"


"Nggak!"


"Kok ketus amat?"


"Aku rasa biasa saja!"


"Ya sudah, aku siap dengar kamu sekarang, mau di mana ngomongnya, mau di sini, di mobil, di tempat kost kamu apa di kamar hotel?"


"Maunya Mas Jody itu, di kamar hotel!"


"Aku maunya di alam terbuka, biar nggak merasa sumpek, aku bisa bertanya dan mendapat jawaban."


"Siap, mau di mana ayo aja, tinggal ngomong." Jody berdiri menyodorkan tangannya ke hadapan Loka, Loka menyambutnya berdiri dibantu Jody dari tempat makan lesehan kesukaan Jody.


Membayar makanan lalu ke parkiran menuju mobil mereka di parkir.


"Kamu itu dari tadi murung aja, kenapa sih?" Jody melirik Loka yang masih saja muram.


"Aku nggak habis pikir kenapa Mas tak berterus terang sejak awal kalau Mas Jody itu seorang ..."


"Apa? aku memang seorang apa? apa anehnya Loka? apa bedanya aku seorang kuli seorang pegawai seorang direktur seorang pemimpin? terus kalau aku seorang direktur seperti sekarang ini kamu nggak mau menerima aku sebagai kekasih kamu? Loka, Loka kamu itu aneh banget."


"Tapi aku sendiri yang malu Mas!"

__ADS_1


"Malu? malu sama siapa? kenapa kamu harus malu? aku itu tulus mencintai kamu, aku sayang kamu aku cinta kamu tanpa syarat apapun, aku hanya mengharapkan balasan cinta yang tulus dari kamu Loka, aku ingin bahagiakan kamu, aku ingin menjadikan kamu seorang yang istimewa di hatiku, aku ingin membina masa depan bersamamu, apa salahnya? kenapa kamu begitu jauh berpikir tentang pikiran orang lain? pikirkan perasaan kita, kamu mencintai aku begitu juga aku beres kan?" Jody meminggirkan mobilnya dan menatap wajah yang segera ingin di milikinya.


Loka diam memang tidak ada salahnya cuman setelah dirinya diajak ke rumahnya Mas Jody yang seperti istana, terus dibawa ke pabrik tempatnya bekerja masuk ke ruangannya yang begitu nyaman, semua orang begitu tunduk dan hormat pada Mas Jody, diri Loka begitu kecil tak berarti, Loka begitu rendah diri, begitu minder seakan dirinya tidak sebanding dengan orang lain, seakan dirinya begitu tak berharga, dirinya hanya seorang penyanyi klab malam tetapi Jody begitu mengistimewakan dirinya.


"Kamu mau bicara apalagi masih ada?"


"Mas, aku malu pada keluargamu, aku ini siapa? juga keluargaku tak sebanding dengan keluarga Mas Jody."


"Loka, yang aku cinta itu kamu, aku nggak peduli siapapun yang kuinginkan hanya kamu, aku melihat ketulusan dari matamu dari hatimu bahkan aku banyak belajar dari jalan hidup dan orinsipmu Loka, kamu jangan seperti itu." Jody memberikan pengertian pada gadis di istimewa di sampingnya.


Loka malah menangis, di satu sisi hatinya mencintai Jody tetapi dirinya tidak bisa mengungkapkan semua uneg-unegnya Pada dasarnya Loka merasa dirinya tidak bisa menngimbangi keluarga dan kehidupan mereka sangat berbeda kehidupannya sangat jauh tidak seimbang.


"Loh, kok malah nangis?"


Jody jadi merasa bersalah mungkin dirinya belum bisa mengambil hati Loka dan memasukkan pengertian, yang menurut pendapat Jody semua itu bukan masalah besar pasti Loka bisa beradaptasi dengan keluarganya itu adalah hal biasa.


******


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



Wil, bocah SMP kelas 9, harus berpetualang menemukan siapa bapak kandungnya, agar nama yang tertulis di ijasah betul-betul tidak salah. Selama ini nama bapak kandung di ijasah SD dan beberapa surat penting lainnya tidak sama.


Perjuangannya begitu berat, petunjuk yang ia punya hanya tiga lembar KK. Tak ada tempat bertanya, karena satu-satunya orang terdekat yang ia punya, yaitu ibunya, sudah meninggal.


Petualangan Wil dimulai berdasarkan alamat pada lembar KK, dan tanpa diduga, Wil mengalami hal-hal dahsyat yang begitu luar biasa.


Akankah Wil berhasil menemukan bapak kandungnya?

__ADS_1


__ADS_2