Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Bertamu


__ADS_3

"Ben, gimana khabar vila sebelah? apa bidadari nya nggak mau berkunjung ke sini?"


"Oh iya, biar nanti aku telephon dulu Bos."


"Gue jadi mau lihat bidadari sombong pemilik vila itu."


"Bukan dia pemiliknya Bos, tapi orangtuannya."


"Iya itu sama saja, kekayaan Haji Marzuki dan kekayaan anaknya satu sama, kan dia anaknya."


"Tidak seperti itu Bos, harta anak sama orangtua berbeda, harta orangtua anak bisa bebas memiliki selagi orangtua ikhlas, tapi harta anak orangtua tak berani mengusik."


"Maksud lo bidadari itu nggak punya kuasa apapun? misal memberi pengaruh pada orangtuanya biar vila nya di jual?"


"Pengaruh sih pasti ada juga besar dari seorang anak, tapi seberapa tertarik mereka akan menjual vila nya apa enggak? itu masalahnya."


"Pokoknya gue mau ngobrol sama yang lo sebut bidadari itu."


"Baiklah, aku malah senang biar Bos dengar sendiri!"


Angan Richard melayang pada sosok Ameera yang di sebut Benny seperti artis ibukota dan cantik bak bidadari, tak sedikitpun terbayang seperti apa, paling biasa saja penampilan serba tertutup khas anak seorang Haji, karena yang memberi penilaian awal adalah Benny yang notabene awam dengan pengalaman perempuan cantik, dan seleranya bisa Richard baca.


Ada rasa penasaran juga di dalam hati Richard, apa mata Benny benar masih bisa normal melihat wanita cantik?


Richard menjadi ingin tertawa sendiri dengan segala tingkah laku Benny, penasaran dirinya juga kenapa dirinya begitu penasaran dengan orang sombong yang bernama Ameera pemilik vila sebelah itu.


Akh, masa bodo amat dengan semuanya yang penting Richard ingin satu kepastian sejelas jelasnya dan memperoleh data yang valid dari pemiliknya. Karena Richard melihat vila itu seperti tidak terawat dan kumuh seperti kekurangan modal dan kurang pengunjung, mengacu ke situ besar harapan Richard untuk bisa memilikinya dan vila itu berharap akan di jual.


"Telephon sekarang Ben!" Benny tersenyum mengangguk.


"Kok malah Bos yang kelihatan gak sabar sih?"


"Gue bukan nggak sabar pengen melihatnya tapi gue nggak sabar pengen bicara dan ngobrol sama dia, karena semua program gue jangan ada yang terbengkalai termasuk dalam hal apapun."


Benny kelihatan lagi melakukan telepon, Richard memandang Benny yang kelihatan serius dan bicara sangat sopan.


'Dasar Si Benny sepertinya pura-pura saja dia sok alim di depan gue, kelihatannya saja dia begitu lembut bicara sama cewek mungkin di belakangnya gue dia lebih rakus daripada gue.'


Richard memberi penilaian sendiri terhadap Benny

__ADS_1


'Wow, Benny seperti ada ketertarikan pada lawan jenis, itu surprise banget '


Dalam hati Richard itu disyukuri karena itu adalah perubahan besar. Si Benny jadi jadi doyan cewek.


"Oh, begitu ya Bu?" Jawaban Benny di ujung telepon yang tak begitu di fahami maksudnya sama Richard.


"Boleh-boleh, dengan senang hati saya ke situ."


" .... "


"Kebetulan lagi ada, tunggu 5 menit ya, haaa ...."


Benny menutup sambungan telepon mukanya ceria, kelihatan kalau Benny seperti sedang senang.


"Bos, aku jemput Bu Ameera dulu ke vila sebelah."


Busyet di jemput? emang orang apaan dia, seperti ratu saja? apa seistimewa itu orang? ah, ah, ah pasti ada yang salah ini. Kenapa seorang Benny begitu memandang lebih pada orang itu?


Tapi sebelum Richard bertanya dan protes dengan perlakuan Benny yang begitu jarang mengistimewakan seseorang, Benny sudah keluar bangkit dari sofa ruangan Richard.


Richard jadi berpikir mengulang-ulang tentang sosok Ameera, seperti apakah orangnya? seberapa pintar orangnya, juga seberapa cantik? sehingga Benny yang begitu dingin dan kalem pada seorang perempuan menjadi begitu antusias.


Masih dengan lamunan dan angan-angan yang ngambang dan pikirannya yang tak tertuju ke mana-mana, Benny sudah berdiri di depan pintu ruangannya dengan seorang perempuan yang sebelumnya jauh dari perkiraan Richard.


Benny membungkuk mengetuk pintu yang tertutup rapat, dan pintu langsung terbuka.


Richard dapat melihat dari Cctv luar ruangannya.


Benny masuk duluan, dan mundur ke belakang kembali mempersilahkan perempuan itu berjalan di depan lalu dengan hati-hati mempersilahkan perempuan itu duduk.


Richard menurunkan kakinya dari meja dan keluar dari penyekat ruangan berjalan ke sofa ruang tamu.


"Bos, ini Bu Ameera!" Benny langsung memperkenalkan saat Richard muncul.


Ameera yang tadinya duduk berdiri saat Richard datang.


Richard tersenyum, sambil mengulurkan tangannya. Tapi Ameera tak menyambutnya malah memberi salam jauh menyatukan kedua tangannya di dada sambil membungkuk, mengangguk dan tersenyum menatap Richard.


Richard menarik kembali tangannya, dan menarik senyumnya meneliti dan menatap Ameera yang sama menatapnya.

__ADS_1


Ameera bersemu merah mukanya saat beradu pandang dengan Richard, tak seharusnya dirinya memandang begitu dalam pada laki-laki yang baru dikenalnya.


"Maaf saya tak bisa bersentuhan."


Suara empuk Ameera menyadarkan Richard dari keterlaluan.


"Oh, nggak apa-apa, apa harus kelihatan steril sebelum kita berjabat tangan?"


Ameera menatap Richard sambil mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban dari Richard.


"Tidak juga, sebenarnya ini hal sangat biasa, tapi seharusnya Pak Richard tahu atau mungkin belum mempelajari kalau kita bukan mahramnya. Maaf saya sudah tahu nama Pak Richard dari Pak Benny."


"Sama saya juga sudah tahu nama Bu Ameera dari Pak Benny!


Ma-maaf tadi saya bercanda."


Richard merasa kalah kharisma di hadapan Ameera.


"Saya Ameera, anak pemilik vila sebelah, saya perkenalkan kembali diri saya."


"Ba-baik Bu Ameera, maaf kelancangan saya tadi."


Ameera tersenyum dan mengangguk.


******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2