
Kebahagiaan keluarga H. Marzuki kembali lengkap dengan pulangnya Ameera ke rumahnya. Walaupun kebahagiaan yang samar, yang sebenarnya bukan kebahagiaan dan berkumpul seperti ini yang di harapkan, tetapi semua harus terjadi seperti ini.
Yang di harapkan adalah kebahagiaan rumahtangga anaknya Ameera, pulang dengan membawa anak dan suami, bukan dengan status janda dan perkawinan yang berakhir dengan surat talak.
Semua di jadikan pelajaran yang sangat berharga bagi keluarga H. Marzuki, perjodohan yang diharapkan bisa menyambung lebih eratnya tali silaturahmi dengan sahabatnya malah berakhir dengan perasaan kecewa dan marah dalam hati H. Marzuki mendapat kenyataan kalau anaknya telah dikhianati.
Tak ada kata sesal yang berarti selain pelajaran berharga yang bisa dipetik dari semua kejadian. Yang terpenting menata masa depan anaknya untuk bisa lebih baik lagi dan bisa kembali ceria bisa menata diri, beranjak dari keterpurukan dari permasalahan yang telah dialaminya.
Haji Marzuki akan menyerahkan sepenuhnya masa depan perusahaannya kepada anak-anaknya, untuk bisa lebih dinamis dan optimal kalau dikelola sama generasi selanjutnya.
Dirinya hanya akan jadi penasehat saja, dan dewan pertimbangan setiap pendapat yang di ajukan anaknya.
Tak akan mengatur-atur lagi kehidupan anak-anak nya, apalagi masa depannya. H Marzuki yakin masa depan anak-anaknya akan lebih baik dari dirinya dan akan punya sejarahnya masing-masing.
"Aliyah, gimana tamu di vila penuh nggak malam minggu kemarin?" H. Marzuki memandang putri bungsunya.
"Penuh Pak, banyak banget pengunjung yang nginep dan liburan di vila Kita."
"Rezeki orang tidak bakal ketukar pada punya porsinya masing-masing, pada punya bagiannya masing-masing. Walaupun di lingkungan kita telah bertebaran hotel-hotel mewah tetapi peminat vila kita masih saja banyak tidak tertampung."
"Ameera, apa kira-kira rencana mu? Bapak bukan ingin menyuruh kamu bekerja, tapi berkegiatan lah sedikit biar kamu bisa sosialisasi lagi dengan baik di lingkungan sini, kalau ada kesibukan yang bermanfaat Bapak sama Ibu pasti senang."
"Ameera masih berpikir Pak."
"Sebenarnya ada satu yang ingin bapak sampaikan kepadamu Ameera, yang selama ini belum sempat Bapak sampaikan selama kamu tidak ada disini."
__ADS_1
Ameera memandang Bapaknya siap mendengarkan apa yang akan di katakan nya.
"Bapak punya proyek yang masih di bangun dan dibenahi walaupun pada awalnya adalah proyek coba-coba Bapak, tapi ke sini sini belum selesai juga proyeknya sudah banyak peminat yang mengunjungi tempat itu."
Ameera tersenyum mengangguk sedikit sambil tetap memandang Bapaknya.
"Bapak memanfaatkan tanah kosong untuk di jadikan wisata keluarga, di area perkebunan Melinjo dan Pala, Bapak ingin itu menjadi agro wisata yang bisa teruskan kamu poles dan benahi."
"Oh, ya? kekinian juga pemikiran Bapak! dapat ide dari mana Bapak?" Ameera begitu antusias.
"Soal ide ada aja, banyak banget di berita juga soal wisata yang lagi banyak di kunjungi yang sekarang lagi naik daun."
"Iya Kak Ameera, masyarakat sekarang lebih memilih kembali wisata ke alam daripada wisata di mal-mal dan perkotaan yang sudah semakin tidak nyaman. Apalagi aku juga sudah mulai mempromosikan walaupun pembangunannya belum selesai masih banyak yang harus dibenahi, setiap tamu yang datang ke villa selalu ditawarkan untuk berwisata alam yang masih menyatu dengan vila kita."
"Wow, bagus banget Aliyah akan jadi kesatuan dari tempat menginap dan agrowisata menjadi paduan yang saling melengkapi. Semoga dengan kehadiranku di sini bisa menambah ide lagi untuk bisa lebih memberikan warna dalam pembenahan tempat wisata itu, juga di villa yang selama ini Bapak kelola."
"Lho kok begitu? Al?"
"Aku jadi terbengkalai kuliah Kak, sekarang aku tidak terlalu fokus kuliah karena kesibukan, kalau ada Kak Ameera kan aku bisa hanya membantu saja kan?"
"Baiklah Pak, aku akan fokus di vila dan agrowisata itu, tadinya aku mau kembali ke sekolah, tapi semua aku rasa jadi tak menarik lagi. Juga kamu Aliyah walaupun kamu kuliah tetap harus bisa meluangkan waktu untuk bisa membantu kelancaran usaha kita."
"Pasti Kak, tapi aku jangan di Bebani tanggungjawab yang berat-berat."
"Pak seandainya aku mau merubah status vila itu menjadi Hotel dan membangunnya dengan lebih memodernkan ada nggak kira kira modalnya?"
__ADS_1
Pak H. Marzuki tertegun sejenak lalu tersenyum bijaksana menanggapi ide yang di cetuskan Ameera anaknya.
"Jalankan saja, modal tidak perlu sekaligus berangsur saja, buktinya Bapak juga membangun wisata itu dengan modal yang tak terhitung akhirnya sampai saat ini masih bisa berjalan. Seandainya itu yang terbaik lakukan saja, modal Bapak siap usahakan urus dulu perizinannya."
Ameera tersenyum, jawaban Bapaknya memang tidak mengecewakan selalu ada solusi setiap permasalahan yang di diskusikan nya.
"Kenapa kamu begitu tertarik dengan pengembangan vila di banding dengan pendidikan dan sekolah yang dulu pernak digeluti?"
"Karena selama di Surabaya Ameera selalu membantu pekerjaan Mas Fathir, Ameera ingin membesarkan usaha sendiri di bidang ini, dan menjadi tertarik untuk bisa terjun langsung."
"Bapak senang mendengarnya, jadikan vila kita lebih menjual, atau kalau bisa jadikan vila itu jadi status hotel keluarga yang nyaman tak kumuh seperti kelihatan sekarang ini."
"Baik Pak, mulai besok Ameera akan berada di vila dan membenahi dulu manajemennya, mengurus statusnya, dan konsultasi dengan teman Ameera yang biasa membangun dan punya usaha kontraktor di bidang bangun membangun.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
- Meniti Pelangi
- Pesona Aryanti
- Biarkan Aku Memilih
- Masa Lalu Sang Presdir
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏