
"Ameera! apa yang kamu lakukan dengan laki-laki itu, dari mana?"
"Apa perduli mu Mas? kenapa baru sekarang kamu begitu mempermasalahkan semuanya? kita sudah bebas, sama-sama nggak ada ikatan lagi, kita tentukan masa depan dan jalan kita masing-masing." jawab Ameera.
"Karena aku masih perduli padamu, katakan siapa orang itu yang barusan mengantar kamu pulang? apa itu yang kamu sebut sebagai calon mu itu?" tanya Fathir kelihatan begitu menekan Ameera.
"Kalau iya kenapa? apa aku yang akan di salahkan? salahkan saja!
Karena wanita selalu jadi pusat salah."
"Aku tidak menyalahkan mu, aku hanya bertanya!"
"Bertanya biasa saja jangan seperti orang marah, marah pada siapa? semua sudah selesai. Lapangkanlah hati Mas Fathir jangan selalu mengedepankan emosi, setiap kita bertemu selalu saja ada ketegangan."
"Ameera!"
"Sudahlah Mas Fathir kenapa setiap kita bertemu selalu tegang selalu emosi dan amarah? aku sudah tidak mau lagi mediasi untuk apa toh pada akhirnya jawabanku tetap sama, aku sudah tidak mau memikirkan pernikahan ini, kita hanya berantem mempermasalahkan masalah yang tidak jelas."
"Ameera aku masih begitu menginginkanmu!"
"Tapi aku tidak Mas, sekali lagi aku katakan tidak! sampai kapanpun tetap tidak, biarkan aku hidup bebas punya pilihan sendiri, punya masa depan sendiri, pulanglah cerita kita memang harus berakhir."
"Ameera, apa kamu akan biarkan aku dalam keterpurukan sendiri?"
"Mas Fathir! pulanglah jangan meratap, apapun tak akan merubah keputusanku." Ameera kelihatan begitu emosi.
"Baiklah Ameera aku akan pulang besok, aku biarkan kamu lepas dalam kebebasan, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
"Jangan mendoakan orang dalam keadaan emosi karena semua itu tak berarti apa-apa dan hanya sia-sia saja, tak berarti apapun dan tak akan jadi doa yang ikhlas."
Fathir menatap wajah Ameera yang masih duduk di kursi tamu vila melati milik keluarganya.
"Aku akan menyerahkan kembali kamu pada orangtuamu, walaupun aku begitu berat, ayo kita pulang sekarang!" ajak Fathir masih dengan pengharapan.
"Pulanglah, silahkan bicara pada kedua orangtuaku tak usah ada aku juga tak apa-apa, aku masih ada janji, juga nggak akan pulang aku nginep di sini saja."
"Ameera mungkin ini saat terakhir aku bertemu sama kamu, bisakah aku menjabat tanganmu?"
"Asalnya kita baik-baik dan aku ingin berpisah kembali baik-baik, kenapa enggak Mas Fathir?" Ameera tersenyum mengulurkan tangannya.
Fathir mendekat sambil tak lepas meneliti wajah cantik Ameera yang tak sempat dirinya mengagumi dan memujinya, baru kini menyadari betapa cantiknya Ameera dan lembut cara bicaranya.
Fathir menyambut tangan Ameera dan menariknya dengan cepat sehingga Ameera tersentak tak bisa melepaskan diri, Ameera meronta saat Fathir menahan punggungnya dan muka Fathir menyasar wajah Ameera
"Mas! apa-apaan sih? kenapa kamu jadi tak tahu aturan?"
__ADS_1
"Jangan salahkan aku memaksamu Ameera, kamu jangan sok suci, setiap hari kamu pergi entah kemana sama laki-laki yang bukan hak mu, apa bedanya aku saat ini memaksamu?"
"Dasar brengsek! kamu sudah gila Mas!"
"Ya aku memang gila, karena kamu."
"Tolong! Mang Jaka! Mas lepaskan!"
"Teriak lah, Mang Jaka lagi antar adikmu belanja, di sini hanya ada kita, aku masih penasaran sama kamu, kenapa kita tidak sama-sama gila sekalian? kita jadikan perpisahan ini jadi yang paling berkesan buat kita."
"Astaghfirullahaladzim Maaaaaas! jangan, lepaskan, toloooooong...."
Buk! jleb! satu pukulan dan tendangan me-mentalkan Fathir dan melepaskan Ameera dari kungkungan Fathir.
"Dasar kurang ajar! bangsat kamu, enyah lah dari hadapanku brengsek!"
Fathir terkapar di lantai merintih memegang perutnya. Matanya begitu menyala memandang Richard.
"Richard?"
"Ya Ameera, aku merasa nggak enak hati aku hanya ingin memastikan kamu sudah pulang apa belum, ternyata ada bajing*n tak tahu malu di sini, rupanya ini orangnya? begitu tak ada apa-apanya, ayo bangkit! jangan hanya beraninya sama perempuan!"
Fathir tak menjawab terasa nyeri sebelah pipinya dan ada rasa asin di sudut bibirnya, mukanya jadi lebam matanya bengkak.
"Aku bisa sadis dengan siapa saja yang mengganggu kenyamanan seseorang, apalagi seseorang itu yang begitu istimewa di hatiku, jadilah laki-laki Bung! jangan hanya bisa memaksa."
Fathir masih meringis tak berani menatap Richard yang menjulang di atasnya, nyalinya ciut hatinya begitu kerdil di hadapan Ameera dan Richard.
Ayo aku tantang mau di mana? di parkiran?"
"Rich sudah, sudah!" teriak Ameera.
Richard menarik kakinya dan meraih kemeja Fathir sampai berdiri.
"Minta maaf di hadapanku pada Ameera kekasihku dan calon istriku!"
Ameera hanya diam, hatinya juga merasa sakit melihat keadaan Fathir begitu payah, muka lebam mata menyipit sebelah dan tetap memegangi perutnya. Bagaimanapun Fathir pernah mengisi hati dan hari-harinya.
"Maafkan Ameera Mas Fathir, Ameera sudah ingatkan Mas beberapa kali, tapi Mas begitu memaksa."
"Jangan pernah meneteskan airmata berharga mu Ameera sayang, ingat saat dia perlakukan kamu dengan begitu tak adil dan tak berperasaan." ucap Richard merasa tak suka melihat Ameera menangis.
"Richard, biarkan dia pergi."
"A-amira ma-afkan semua hilafku, aku begitu tak bisa berpikir jernih lagi." ucap Fathir terbata.
__ADS_1
Richard mengambil saputangan dari saku celananya, mengusap mata Ameera yang berair. Memeluknya sekilas sekedar menguatkan.
Aliyah datang sama Mang Jaka begitu heran melihat Mas Fathir begitu kesakitan.
"Kak Ameera, kenapa, ada apa?"
tanya Aliyah pada Ameera, tapi Ameera tak menjawabnya hanya menyeka airmatanya.
Ameera begitu sakit dan sedih hatinya, tak menyangka semua sampai harus ada kontak fisik segala, tapi dirinya begitu beruntung Richard datang saat yang begitu tepat. Kalau tidak ada entah akan seperti apa.
"Hanya pelajaran bagi orang yang suka memaksa, Aliyah. Apalagi yang sudah bukan haknya!"
Aliyah menatap Fathir bergantian sama Kakaknya dan Richard seakan meminta penjelasan.
"Sudahlah Mas Fathir, aku memaafkan Mas untuk kesekian kalinya, pulanglah dengan membawa kelapangan hati, kita sama-sama saling do'a kan yang terbaik."
"Sekali lagi maafkan aku Ameera."
Ameera mengangguk sambil tersenyum.
"Aliyah, aku membawa kakakmu ke tempatku sementara, sampai orang yang tak tahu malu ini pergi, biarkan Kakakmu tenang dulu dia akan berada di tempatku jangan khawatir, aku takut Ameera pergi menghindari orang ini jadi aku pastikan Ameera ada di tempatku dengan aman."
Aliyah mengangguk, tak bicara apapun.
Richard menggandeng membawa Ameera keluar dan mereka berjalan menuju The Rich Hotel
Ameera samar mendengar kata-kata adiknya Aliyah di tujukan pada Mas fathir.
"Mang Jaka tolong bawa Mas Fathir ke rumah, biar aku laporkan sama Bapak."
Fathir hanya diam sambil menahan rasa sakit di perutnya.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1