
"Minta apapun padaku Sayang mau apa? Kamu adalah segalanya dalam hidupku Ameera Sayang. Hari ini Kamu telah menyempurnakan kebahagiaanku dengan mengandung benihku seperti yang Aku harapkan selama ini seorang bakal calon bayi laki-laki yang Aku banggakan," ucap Richard sambil sesekali meremas jemari lembut Ameera yang duduk di sampingnya.
"Usap usap tiap malam perutku sampai tidur! pijit kakiku kalau terasa pegal, pokoknya lebih rajin lagi bangun paginya kalau bisa belajar ke mushola sama Bapak! mulai besok Mas yang bangunin Aku," ucap Ameera berlagak serius.
"Hahaha... ta kira minta yang lain bukankah saling usap dan isap itu kebiasaan Kita Sayang? jadi nggak usah di pinta! tiap malam pasti Aku bangunin apalagi paginya kalau soal bangun Aku juaranya, tapi kalau ke mushola shubuh shubuh ampun deh bertahap ya maghrib aja sama isya dulu ya," sahut Richard sambil tertawa.
Ameera merasa salah bicara kali ini malah memancing suaminya ke arah lain.
"Tak di pinta juga Aku pijit kok Sayang, asal tunjukkin di mana yang mau di pijitnya? depan paling Aku suka belakang juga boleh kalau soal pijit pijitan itu kesenanganku pijit belakang samping apalagi depannya" sahut Richard masih dengan tawa senangnya.
Ameera cemberut sambil memandang wajah bahagia suaminya.
"Sudah Aku bilang kalau feeling ku tepat, semangatku menengok tak pernah surut Sayang selalu saja menagih!" ucap Richard sambil mencolek hidung mancung Ameera.
"Mas! kalau nanti Aku lahiran harus persiapkan diri, 40 hari lho!" ucap Ameera tersenyum melihat ekspresi Richard yang langsung kalem.
"Ya ampun Sayang nggak bisa nawar dua minggu saja, atau lebih dikit lah gitu?" wajah Richard berubah sedikit muram.
"Ssssst...jangan banyak nawar kita lihat saja nanti!" ujar Ameera tersenyum.
Ameera tak bisa banyangkan bagaimana tersiksanya Richard kalau tak bisa yang namanya main, dan itu akan sangat beresiko kalau masih dalam masa rawan sudah di pakai. Timbul kekhawatiran Ameera Richard mencari pelampiasan lain tapi masa iya nggak bisa nahan banyak cara untuk meredam semua keinginan yang satu itu.
Richard memang gila main, seperti tak ada kata bosannya, mungkin penyemangat kerja dan hidupnya adalah kemewahan yang di raihnya dan main itu.
Ameera senang-senang saja malah mungkin dirinya jadi ketularan juga karena kebiasaan setelah menikah menjadi kebiasaanya hampir tiap malam mereka bermesraan tak pernah absen.
Rumahtangganya dulu dengan Fathir Ameera paling hubungan suami istri satu sampai dua kali dalam satu minggu, di sadarinya kini itu mungkin Suaminya Fathir melakukannya juga dengan istri yang lain yang akhirnya ketahuan juga.
Memang bagi pasangan muda kurang kalau dihitung dalam jumlah secara kualitas hubungan normal yang sebenarnya.
Kini Ameera merasakan tak pernah kehilangan satu malam pun dengan Richard suaminya yang tak pernah bosan melakukannya siang dan malam.
__ADS_1
Bagi Richard makan, tidur dan yang satu itu adalah tiga kebutuhan pokok hidup yang sangat manusiawi bagi siapa saja.
Ameera merasa takut stamina suaminya ambruk, karena setiap peregangan memerlukan energi bukan sedikit tapi Richard malah tertawa, mengatakan penemuan seorang ilmuwan yang entah benar atau betul. Seseorang yang sering melakukan hubungan suami istri tidak beresiko mengalami gangguan prostat itu bisa dibuktikan tetapi seseorang yang jarang melakukan hubungan suami istri beresiko mengalami gangguan prostat tinggi karena menahan libidonya.
Melihat Richard enjoy saja dengan hobby, kebiasaan dan kesenangannya Ameera juga menjadi enjoy juga.
Kehidupannya sangat bahagia dan Ameera sendiri merasa hampir sempurna kini. Suami yang sangat sayang dan lebih dari mapan, kehidupan pribadi yang sangat dirinya harapkan kini dijalani dengan suka cita dan kehamilannya kini menambah semuanya semakin berwarna.
Kata main dalam kesehariannya itu sudah biasa Richard ucapkan, dan menyenangkan hati suami juga mengikuti keinginannya adalah kebahagiaan Ameera juga.
"Mas langsung ke Villa ya!"
"Asyik. Bisa santai kita di sana nanti," jawab Richard sambil meremas jemari Ameera di sampingnya.
"Bukan buat santai, Aku mau audit semua manajemen di sana, Aliyah memang masih harus banyak bimbingan, tapi masih bisa diandalkan ada Pak Bagas yang mendampingi dan sesekali Bapak juga datang walau sekedar mengontrol.
"Sudah serahin saja pada Aliyah. Biar banyak belajar dan Kamu bisa fokus Sayang!" ucap Richard menyarankan.
"Fokus buat persiapan lahiran dan kita bisa bebas berduaan kayak gini kalau sementara Kamu lepasin dulu tanggungjawab di Agrowisata itu," ucap Richard sambil melirik Ameera di sampingnya.
"Apa selama ini pelayananku kurang Mas? sampai Aku harus melepas tanggungjawab segala?" tanya Ameera merasa tidak setuju.
"Bukan begitu Sayang, Kamu mau apa sekarang? semua yang berhubungan dengan kegiatanmu jujur Aku merasa khawatir sebenarnya bukan melepas tanggung jawab tetapi mengurangi saja mungkin sampai Kamu selesai lahiran dan bisa beraktivitas dengan normal kembali."
"Sekarang juga Aku sudah banyak mengurangi kegiatan di luar, hanya sekali-kali mungkin mengontrol seperti ini saja dan itu juga mungkin untuk kesehatanku. Ibu hamil bukan harus diam sama sekali tetapi perlu aktivitas juga walaupun sangat dibatasi untuk pekerjaan tertentu," ucap Ameera meyakinkan suaminya.
"Enggak kok nggak terganggu, Aku juga senang Sayang asal Kamu senang menjalaninya, hanya kalau bisa Aku ingin melihat Kamu istirahat saja menungguku pulang kerja, menyambut dengan senyuman manismu, membukakan pakaianku, Aku sanggup memberimu segalanya dan mencukupi apapun yang Kamu minta," ucap Richard terdengar kalau dirinya menginginkan Ameera mengurangi aktivitas nya di luar.
"Aku masih kuat Rich, dan itu baktiku juga pada orangtuaku, membantu, mengarahkan dan membimbing Aliyah itu bagian tanggung jawabku," sahut Ameera dengan kelembutannya memberi pengertian pada suaminya.
"Iya Sayang Aku mengerti, Kamu terlalu tanggungjawab pada orangtua Adik dan suamimu, membuat Aku tambah sayang dan cinta sama Kamu!"
__ADS_1
Ameera mesem mendengar pujian dan sanjungan Richard.
"Sepertinya ada udang di balik celana tuh pujian!" sergah Ameera.
Richard ngakak sendiri sambil menaruh tangan Ameera di antara dua pahanya.
"Kamu tahu aja Aku sedang bahagia Sayang. Kenapa hayo tebak?"
"Karena feeling-nya tepat bakal punya jagoan!"
"Betul banget Ameera Sayang, pasti ganteng percis Aku!"
"Tapi jangan di turunin gombalnya!"
"Memang Aku gombal heh...?" Richard terkekeh sendiri.
"Lebih dari gombal tapi mesum banget, tiap waktu menuntut, yang diucapkan dan diobrolkan hanya soal itu, otaknya hanya main dan main!" bisik Ameera di telinga Richard sambil sebelah tangannya meremas perlahan tangannya yang masih ada diantara pangkal dua paha Richard.
Richard melenguh dan sebentar menahan tangan Ameera berasa di situ dan akhirnya tertawa lalu menepikan mobilnya membuka sabuk pengaman dan mencium pipi Ameera sambil berbisik.
"Nanti main di Villa ya!"
"Main apa?" sambut Ameera berlagak tak faham.
"Main pedang-pedangan Sayang masa masak-masakan?"
Ameera tertawa sambil turun di bimbing Richard yang menyodorkan tangannya. Richard berjalan menuju kantor Agrowisata yang tidak jauh dari Vila nya sambil merengkuh bahu Ameera menjaga Ameera dengan segala ketakutannya, takut Ameera jatuh, takut Ameera jalannya kencang kencang, dan takut Ameera kecapaian.
*******
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1