Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Syarat tanpa syarat.


__ADS_3

Ameera membuka pagar besi yang begitu kokoh membentengi rumah megah orangtuanya, masuk ke pelataran rumahnya yang begitu asri dan sejuk dan juga luas tak ada siapapun di teras depan. Semua terasa lengang.


Karena pintu tak tertutup Ameera langsung memberi salam dan masuk, diiringi Richard di belakangnya.


"Silahkan duduk!" suara berat H. Marzuki mengagetkan keduanya kontan Ameera sama Richard berhenti. Ibu Hj. Salamah datang dari dalam mengangguk pada Richard dan mempersilahkan untuk duduk juga.


Nyali Richard jadi ciut hilang semua ucapan yang di rancang nya sejak tadi. Ameera duduk duluan disusul Richard mengikutinya duduk di samping Ameera.


Pak H. Marzuki diam mengamati Ameera dan Richard dengan ujung matanya mengamati sampai mereka duduk dan merasa rileks.


Ameera tak berani menatap Bapaknya, hanya menunduk saja sampai Pak H. Marzuki mulai bicara.


"Bapak tidak melarang kalian dekat, tapi harus jelas tujuan kedekatan kalian itu juga harus mengikuti aturan, Bapak menyayangkan kejadian sore tadi seharusnya semua itu tidak terjadi."


Deg! Richard langsung merasa itu semua salahnya, tapi siapa yang sanggup melihat semua kejadian seperti tadi di depan matanya?


Semua orang pasti gatal ingin mengambil tindakan.


"Apa semua tak ada jalan lain?" H. Marzuki bicara pelan tapi pasti, dan kedengaran tegas.


"Apa salah Ameera Pak?" Ameera merasa dirinya hanya jadi korban, bukan yang malah di salahkan.


Kesalahan kamu adalah membuat emosi orang lain, dan memicu keributan, karena kalian tidak menjaga perasaan orang lain walaupun itu mantan suamimu yang masih begitu mengharapkan mu."


Ameera diam Richard juga.


"Harusnya kalian lebih dewasa dalam bersikap, bersabar itu lebih baik."


Ameera ingin menjawab semua yang di ucapkan Bapaknya, tapi pantaskah bersitegang dengan orangtuanya? begitu banyak jawaban yang ingin Ameera lontarkan sebagai pembelaan diri, sebagai jawaban dari semua yang diucapkan Bapaknya.


Ameera ingin membalikan fakta dan membeberkan pemaksaan mantan suaminya, kenapa kalau orang sudah tak mau harus di paksa mau? bukankah itu yang di sebut pelanggaran?


Tak ada pilihan lain selain diam dengan semua jawaban hanya ada dalam hatinya saja.

__ADS_1


"Bapak jadi ragu dengan hubungan kalian selanjutnya apa bisa lebih baik? belum apa-apa sudah bikin bonyok orang lain? apa tidak ada jalan selain baku hantam menyelesaikan masalah?"


Ameera merasa ingin membela Richard, tapi semua serba salah bicara terus terang harus dari mana memulainya? Ameera tak bisa membela siapapun baik Richard ataupun dirinya. Ameera merasa bingung merasa berada di pihak yang serba salah Ameera memandang Bapaknya lalu berdiri dan berlari ke kamarnya tanpa menghiraukan siapapun.


Ameera ingin protes tapi dirinya tidak mampu, Haji Marzuki menganggap Ameera telah berlaku kurang sopan disaat dirinya belum selesai bicara, Haji Marzuki ingin memanggilnya kembali tetapi Bu Hj. Salamah menahannya.


"Biarkan Pak sudah jangan menambah beban anak lagi semua sudah cukup jelas Ameera sudah tidak menginginkan lagi kebersamaan bersama Nak Fathir, sudahlah Pak biarkan dia memilih sendiri jalan hidupnya."


"Bapak hanya memberi tahukan kalau tindakannya selama ini kurang baik, bukan memaksa. Bapak tahu Ameera sudah bulat berpisah dan sudah ada pilihan hatinya."


Ameera jarang banget ngambek seperti itu kalau tidak begitu terluka hatinya, Ameera jarang terbuka dalam hal apapun sama kedua orang tuanya Ameera kebanyakan memilih curhat sama adiknya, atau lebih banyak diam dan menyelesaikan sendiri masalahnya.


"Salahkan saya Pak Haji dalam masalah ini, jangan salahkan Ameera, dia hanya jadi korban nafsu orang yang tak tahu malu, kalau saya nggak datang akan seperti apa jadinya? saya bukan orang yang bisa diam lihat orang tersudut tak berdaya, apalagi ini Ameera orang yang saya cintai, pada orang lainpun pasti saya akan melakukan tindakan begitu."


Sudahlah Nak Richard, Bapaknya terlalu mendramatisir karena di satu pihak Nak Fathir anak sahabatnya. Kalau bisa tak ingin semua terjadi seperti ini, Ibu tak menyalahkan Nak Richard juga Bapak juga hanya menyayangkan saja Nak Fathir pulang dalam keadaan babak belur, di situ kami merasa tidak enaknya."


"Sudah sepantasnya kalau tidak sopan harus seperti itu." ujar Richard.


"Iya, Ibu mengerti. Semua permasalahan berasal dari Nak Fathir sendiri." Haji Marzuki hanya diam memang semua salah bukan pada Ameera dan Richard.


Pak Haji Marzuki tertegun, tak sedikitpun menyangka kalau Richard mau bicara jauh tentang hubungannya dengan Ameera, karena perkiraan Haji Marzuki semua itu masih dalam pengamatan Richard hubungan Ameera, takutnya selama ini hanya perasaan sesaat saja saat mereka sering bersama-sama ke proyek pembangunan agrowisata bersama-sama, tapi perkiraannya meleset Richard cepat menyatakan perasaannya, dan niat baiknya, dan memberitahukan kepada dirinya.


"Bagus! punya bekal persiapan apa Nak Richard untuk membangun rumahtangga dengan putri Bapak? sudah siapkah menjadi imam yang baik? pemimpin dalam rumahtangga dan menjadi suri teladan dalam mendidik istri dan anak-anak kalian kelak?" tanya H. Marzuki menguji apa jawaban Richard.


"Sampai saat ini hanya punya niat baik Pak Haji, ilmu dalam agama masih belajar, semua akan saya jalani dengan tanggungjawab, walaupun saya sepi soal ilmu tapi saya mau belajar dari siapapun termasuk dari Ameera, soal rezeki sekarang juga usaha lagi berjalan, InsyaAllah saya bisa mencukupi Ameera juga anak-anak saya kelak." Richard bicara begitu mudah kalau sudah di mulai, yang tadinya merasa kikuk dan bingung.


"Baik! akan saya pertimbangkan dulu semuanya, semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya. Saya tidak melihat harta dan usahanya walaupun itu tetap menjadi bahan pertimbangan tetapi bekal yang paling utama dalam memasuki gerbang rumah tangga yaitu niat baik tadi, tapi tak cukup niat saja karena saya harus bertanya dulu sama Ameera nya sendiri."


Ibu Haji Salamah tersenyum merasa dirinya begitu cocok sama Richard, begitu sopan saat mereka bicara dan bertemu.


"Jadi kapan kira-kira saya bisa ajak orangtua saya ke sini Pak Haji?" tanya Richard begitu tak sabar.


"Saya mau bertanya satu hal sama Nak Richard."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Apa tujuan Anda ingin meminang putri Bapak?"


"Karena aku mencintainya, Ameera juga sama, kita saling mencintai."


"Bapak takut itu hanya suka sama suka kalian karena seringnya bertemu di proyek, apa tidak ada unsur lain dari niat yang Nak Richard sampaikan ini?"


"Pak Haji, saya berniat tulus, saya baru merasa begitu tertarik dengan Ameera karena ilmunya, karena merasa saya sepi akan ilmu, hanya Ameera yang begitu membuat hati saya tersentuh dan semua begitu ingin saya realisasikan dan nyatakan dalam satu ikatan resmi yang halal."


"Baik! Bapak pegang ucapanmu, itu sebagai janji kamu bukan hanya pada Ameera tapi pada saya sebagai orangtuanya.


Kapanpun bawa orangtuamu ke sini saya menunggunya, untuk bisa berkenalan."


"Jadi Pak Haji sama Bu Haji menerima saya? apa ada syaratnya?"


"Saya suka kalau ada orang yang bertanya syarat."


"Katakan saja Pak Haji! saya akan mencoba memenuhi syarat itu."


"Syaratnya, cintailah dan bahagiakan Ameera tanpa syarat apapun, hanya itu!"


Richard tertegun begitu dalam kata kata itu, tapi dengan niat dalam hatinya semoga semua jadi kenyataan dirinya bisa bahagiakan Ameera selamanya.


****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2