Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Kerjasama


__ADS_3

"Annet, kita bicara di dalam saja." Zen membuka salah satu pintu kamar hotel dan masuk duluan diikuti Janeeta yang selesai nyanyi, waktu menunjukkan pukul 23:20 malam.


"Baik Bos Zen, senang rasanya bisa bicara hati ke hati."


"Annet apa hubunganmu dengan Bos Richard dan sekarang seperti apa sehingga kamu terdampar di sini?"


"Terlalu panjang ceritanya, tapi intinya kami bermitra, dan punya hubungan istimewa. Aku masih belum rela kalau Bos Richard jatuh ke tangan orang lain."


"Aku sebenarnya bukan orang yang tepat jadi perantara kamu sama Bos Richard Annet, aku hanya manajer klab malam."


"Tapi setidaknya kita bisa berpartner dengan rapi dan baik Bos Zen."


"Aku mengerti tujuanmu, tapi Bos Richard itu punya power yang begitu kuat, kaki dan tangan yang banyak jadi akankah kita temukan jalan menuju ke arah itu, seperti yang kamu harapkan?"


"Pasti akan ada jalan kalau kita punya kemauan, aku akan mencobanya menembusnya kembali." ucap Annet begitu yakin.


Apa yang bisa aku bantu?mungkin akan aku pelajari dan pertimbangkan baik buruknya."


"Langkah awal karena aku tak bisa bertemu dengan Bos Richard, aku ingin bertemu muka dan melihat wajahnya seperti apa saat bertemu denganku."


"Apa langkah selanjutnya setelah kamu bertemu?"


"Aku akan melihat apa dia masih tertarik denganku apa tidak? seperti apa cewek yang mendampinginya sekarang? aku begitu ingin melihat dan aku begitu berambisi dengan semua yang dimiliki Bos Richard duitnya dan juga asetnya."


Zen mengangguk-angguk tanda sudah faham niat Annet yang sebenarnya, tapi dirinya juga harus berhati-hati karena menyangkut pekerjaan dan harga dirinya.


"Apa keuntungan buatku seandainya semua berhasil dan kalau semua gagal bagaimana?"


"Aku bisa memberi warna dalam kehidupan Bos Zen, aku bisa mengisi kekosongan waktu yang kita miliki bersama, dan satu lagi saat aku bisa masuk di kehidupan Bos Richard kembali apalagi sampai bisa menjadikan aku seorang istri, Bos Zen akan menjadi seorang prioritas dalam pekerjaan dan bisa jadi tempat konsultasi ku."


"Annet, bukan aku mendukungmu tapi aku akan melihat dulu seberapa berpeluang nya kamu dalam masalah ini, aku bukan orang suci, mungkin suatu saat aku akan tergoda sama kamu, tapi saat ini kita jangan dulu deh."

__ADS_1


"Kenapa Bos Zen? kita santai saja di sini berdua masa kita ngobrol saja? aku begitu tertarik dengan Bos Zen sejak pertama kita berkenalan, tak apa semua hanya kita yang tahu dan saling butuh, ya kan?" Annet mulai mengusap jambang tumbuh subur di muka Zen yang sedikit kasar karena di biarkan tumbuh setelah di cukur.


Tangan Annet mulai menyasar leher dan dada Zen yang berkemeja rapi dengan sweeter rajut sebagai lapis luar.


"Kenapa Bos menolak? padahal aku tahu sorot mata Bos sejak kita bertemu pertama kali. Aku juga sama mengagumimu Bos Zen."


"A-Annet ... aku tidak menolak, tapi aku belum sejauh itu ...."


"Ssssssssst, jangan menolak, aku juga sama mendamba kebersamaan."


Annet duduk di sebelah paha Zen yang sedang duduk di sofa mini, tangannya begitu tahu harus diarahkan ke mana.


"Kita suka sama suka, kenapa harus bohong pada diri kita?"


Annet mendekatkan dadanya dengan pakaian leher rendah ke muka Zen yang sudah salah fokus dan salah tingkah dengan rasanya sendiri.


Wangi parfum begitu menyeruak ke hidung Zen yang mulai terbius dengan suguhan Annet.


Tak bisa menolak lagi di satu ruangan hanya mereka berdua, akhirnya Zen tenggelam di dada hangat Annet yang begitu kesepian dengan hasrat yang begitu bergelora.


Zen begitu sibuk dengan semua menu yang Annet suguhkan seperti menemukan sesuatu yang baru, tak bisa di pungkiri Zen pemain juga yang begitu siap memuaskan Annet saat ini.


Annet tak perduli siapa Zen sebenarnya, yang pasti Zen begitu gagah dan tampan dan punya wewenang di klab malam itu, Annet harus punya sandaran dan partner dalam hidupnya, saat Richard menjauh, juga kekasihnya pergi lagi berlayar, Annet menjatuhkan pilihan pada pria keturunan Arab yang begitu menarik hatinya.


"Bos, aku senang banget kita bisa berkenalan lagi di dalam kamar ini berdua." bisik Annet di telinga Zen.


"Annet, kamu begitu menggoda aku, kamu membuat aku lupa diri dan lupa segalanya."


"Lupakanlah, dan temaram kan lampunya kita nikmati malam ini berdua Bos." sekilat Zen mengganti lampu menjadi lampu tidur, senyum Annet menyambutnya.


"Annet mulai menanggalkan pakaian Zen dan membuka satu persatu kemeja licin Zen yang mukanya begitu kelihatan beringas seperti ingin segera menerkam Annet. Tapi matanya kelihatan sayu menahan rasa yang ingin segera di lepaskan nya.

__ADS_1


Annet tersenyum saat Zen tak mau melepaskan ciumannya dan dada Annet begitu terhimpit di badannya.


"Annet aku tak bisa menahan lebih lama lagi, periksa senjataku, Aku sudah tak mau menunggu lebih lama lagi."


Annet terbelalak saat melihat di balik celana boxer Zen yang begitu big size, Annet begitu senang sasarannya begitu tepat dan perkiraannya tak meleset.


Kepuasan di depan mata pikir Annet, dan perkenalan pun di mulai, atas dasar suka sama suka dan Annet begitu berharap Zen bisa jadi partner dalam usahanya walaupun dirinya juga harus berkorban dan di balik semuanya Annet tetap bisa menikmati semua rencananya.


Satu babak telah mereka lalui dengan begitu menggebu, Annet yang begitu terlatih dengan bebas mengekspresikan permainan cantiknya, hanya dengan beberapa hentakan saja usai sudah, walau Annet agak kecewa terobati oleh ikatan yang telah mereka mulai.


Entah seperti apa rencana Annet selanjutnya, Zen juga tidak tahu hanya Zen begitu menikmati dan begitu telah puas bisa tidur dengan primadona baru klab malamnya.


Zen memandang langit langit kamar hotel itu, pikirannya kacau dan mengembara begitu jauh tak bertepi, ini kencan pertamanya setelah dirinya menikah dan punya anak, ada rasa sesal di dalam hatinya.


Kenapa dirinya begitu terperdaya oleh pesona seorang Janeeta?


Zen mengenakan kembali pakaiannya, ini baru pertama dan pasti akan ada selanjutnya lagi, Zen begitu takut akan segala yang sangat beralasan, rasa berdosa pada istrinya karena dirinya telah melakukan penghianatan besar dalam sebuah rumah tangga.


Zen melirik Janeeta yang masih telanjang dan badannya di tutupin selimut, lalu bangkit keluar kamar dan sekali lagi melirik Janeeta yang tak bergerak mungkin sudah tidur karena kecapaian.


Sejuta rasa bersalah begitu bergelayut di dalam hatinya.


Zen duduk termangu di taman depan mendapat lampu klab malam susah di matikan, karena klab malam sudah tutup.


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2