
"Ameera maafkan aku, yang terlalu banyak nuntut. Aku merasa bersalah telah meminta memeluk kamu. Aku begitu tak sopan ya? tapi percayalah aku tidak bermaksud jelek, Aku terlalu sayang, terlalu cinta! ingin rasanya aku ungkapkan semuanya hanya ingin memastikan kamu tahu isi hatiku."
"Nggak apa-apa Rich, aku mengerti. Kita pulang saja sekarang ya." Ameera bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menyusuri pinggiran danau yang begitu tenang. Memandang riak air yang begitu bening dan sawah yang begitu luas membentang.
Richard yang masih tertegun, menyadari semuanya, hatinya merasa takut.
"Tapi kamu nggak marah kan?" sela Richard sambil berlari kecil mengejar langkah panjang Ameera, begitu takut dirinya menyinggung perasaannya.
Ameera melirik Richard yang yang menyusul tiap langkah-langkahnya "Lho kenapa marah? aku juga menginginkannya Richard, tapi kalah dengan akal sehatku! selain ini ruang terbuka apa kita nyaman pelukan di sini?" sanggah Ameera sambil tersenyum.
"Haaaa ... Ameera, beruntungnya aku punya pacar kamu kalau bukan kamu pacarku sekarang, mungkin aku sudah benar-benar menjadi orang gila semua dilakukan tanpa akal sehat."
"Sudahlah Rich, antar aku pulang sekarang ya." sahut Ameera.
"Ameera boleh aku ajak kamu ke tempat hunian ku, aku ajak kamu minum jus, buah apa kesukaanmu?"
"Boleh, aku suka semua buah Rich apa aja, sekarang aku mampir tapi langsung pulang ya!"
"Dengan senang hati Ameera nanti aku pesankan dulu minumannya biar pas kita datang kita langsung bisa menikmatinya, rasanya panas begini minum jus sama melihat wajah cantik kamu pasti tambah adem hatiku." Richard kelihatan senang, mengambil ponsel dari saku celananya dan menelephon seseorang.
"Jangan berlebihan Rich, kamu juga laki-laki paling manis dan baik juga paling tampan yang pernah aku kenal." puji Ameera membalas pujian Richard pada dirinya.
"Makasih sayang, walau kamu belum nyicipin tapi sudah memberi penilaian manis padaku, kamu jangan dulu memujiku, aku tidak semanis pandanganmu Ameera, aku itu orangnya keras kepala, nggak sabaran, pemarah, egois, dan banyak lagi predikat yang ada di diriku, entah kenapa, tapi kata Benny biar jadi ciri khas yang bisa di ingat malah katanya, tapi aku sangat penyayang, dan senang memanjakan."
"Aku belum pernah melihat kamu marah Rich, malah aku menilai kamu orangnya romantis, sama penyayang ... tapi kalau egois, pemarah dan nggak sabaran semua orang juga pasti ada, aku juga bisa marah kok kalau aku merasa di khianati, aku juga bisa keras kepala kalau menyangkut masalah prinsip, bahkan aku bisa egois kalau aku memang merasa benar." tutur Ameera jadi panjang ngomongnya.
"Tapi aku bisa selembut sutra juga Ameera sayang, suatu saat kamu pasti merasakan."
"Iya Rich, tapi aku belum bisa membayangkan, aku takut mabuk duluan heee ... kita minum di Restourant Hotelnya saja ya?"
"Kenapa? apa kamu merasa takut sama aku? takut aku memaksamu? kalau kamu ingin nyaman kita ajak juga Hanna sama Benny ke ruangan itu, aku pengen kamu jangan menyimpan curiga sekecil apapun padaku, aku hanya ingin ngobrol berdua sama kamu tak seperti di telepon." ucap Richard meyakinkan Ameera.
"Richard, menurutku malah ada Hanna sama Benny mereka akan merasa canggung saat kita ngobrol berdua, kenapa nggak di tempat terbuka saja? di ruangan umum gitu."
"Ameera, aku tak mau orang melihat kamu sama aku begitu serasi ganteng dan cantik jadi tontonan, takut orang pada ngeces dan iri pada kita."
"Ah, Richard kamu ngomong apaan sih?"
__ADS_1
"Haaa ..." Richard tertawa Ameera merasa kena jebakan. Ameera memukul lengan Richard dan Richard menangkapnya, mereka berpegangan tangan sampai ke tempat mobil Richard di parkir.
Sampai hotel Richard dengan bangga membukakan pintu mobil buat Ameera, walau berulang kali Ameera menolaknya malah senangnya keluar duluan, tapi Richard selalu saja ada akalnya hanya sekedar bisa membantu Ameera turun dan mereka bisa bersentuhan.
Ameera turun dengan di bantu Richard, Manajer Alvin menghampirinya merasa ada pandangan aneh dengan Bos Richard kali ini, selain jarang datang ke klab malam, tiba-tiba tampil dengan perempuan berhijab sungguh pemandangan luar biasa.
Alvin menghampiri Ameera sama Richard yang berjalan dari parkiran hotel.
"Alvin, ada perlu sama aku?" sapa Richard duluan bicara saat Alvin mendekat.
"Sedikit Bos, tapi kalau mengganggu nanti juga nggak apa-apa. Apalagi Bos lagi sibuk ada tamunya."
"Kenalkan, ini Ameera calon istriku, maaf aku kenalkan duluan sama kamu, karena aku belum sempat mengenalkan pada semuanya." Richard begitu yakin dengan ucapannya.
Ameera merona mukanya, tapi tak bisa membantah apa yang di ucapkan Richard, Alvin membungkuk dan mau menyalami Ameera, tapi seperti biasa Ameera hanya memberi salam dari jarak jauh.
"Saya Alvin, manajer di klab malam sini" ucap Alvin mengenalkan diri.
"Ameera."
"Sama-sama." jawab Ameera pendek.
"Ada apa? apa tidak bisa bicara sama Benny dulu?" Richard bicara begitu berwibawa.
"Pak Benny sejak siang pergi sama Hanna nggak tahu kemana, tapi kata orang kantor mau cek kamar di hotel kota katanya."
"Oke, Alvin nanti saja ya kita bicara, karena saya lagi ada tamu istimewa."
"Oh, baik Bos. Saya permisi dulu, mari Bu Ameera." Alvin undur diri Ameera mengangguk sambil tersenyum.
"Gimana sayang mau minum di mana?" tanya Richard memandang pada Ameera, meneliti riak roman wajahnya saat dirinya perkenalkan pada manajer Alvin sebagai calon istri, tapi Ameera kelihatan datar-datar saja.
"Ayo dimana aja terserah."
"Ya sudah, mari ikut aku."
Richard berjalan menyusuri taman hotel, melewati pinggir kolam renang dan sampailah di ruangan hunian dirinya.
__ADS_1
Richard memencet kode kunci dari ponselnya dan pintu terbuka.
"Masuk Ameera, tak apa-apa kita buka lebar-lebar pintunya, walau tak banyak orang yang akan melihat kebersamaan kita tapi percayalah tidak akan terjadi apa-apa." Richard merasa takut Ameera jadi trauma masuk ke tempatnya.
Ameera tersenyum, dan melangkah mengikuti Richard.
"Ameera, aku pengen penilaian kamu tentang tempat tinggal ku, yang hanya menempel di hotel ini, tapi aku membikin nya senyaman mungkin karena di ruangan ini aku akan tinggal dan menempatinya, aku ingin merasa betah di sini. Bagaimana tempat ini menurut kamu?" Richard mendekati Ameera.
"Luar biasa Rich, aku suka tempat kamu ini dan semua orang pasti akan berucap sama seperti aku, begitu istimewa dan sangat nyaman."
"Benarkah itu Ameera? aku berharap suatu saat kita bisa bersama dalam keadaan halal di tempat ini." sahut Richard sangat gembira.
"Iya Rich, semoga."
"Ameera tempat ini baru Hanna rubah dari posisi awal, dan ada sebagian yang di ganti, itu hanya untuk suasana baru saja, juga siap menanti penghuni baru yang sangat cantik!"
Ameera tersenyum merasa tersanjung.
Richard begitu senang Ameera menyukai semua design dan semua ornamen yang ada di ruangan tempat tinggalnya.
Ameera berjalan perlahan diikuti Richard, berkeliling dari mulai ruangan tamu yang begitu artistik, bersebelahan dengan ruangan tidur yang ukurannya sama segede ruangan tamu, maju sedikit ada meja makan mini dengan dapur tanpa kompor hanya ada kulkas dan mungkin nggak ada peralatan dapur, maju lagi wastafel dan lemari kayu minimalis modern. Semua yang ada di situ begitu unik dan sangat ekslusif.
Di sekat kaca tebal langsung pemandangan taman dengan tanaman berkelas seperti bonsai beringin putih dan bunga sakura hasil reka genetika, juga bunga dan tanaman yang begitu rimbun,.palm dan Pinus kecil menciptakan hutan kecil di dalam satu ruangan. Tertata di pot keramik dan langsung di ruangan terbuka kolam renang dan gazebo di pojok kanan dan pojok kiri kursi pantai santai dengan payung warna putih
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1