Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Hati yang mengagumi


__ADS_3

"Assalamualaikum Ameera, apa khabar?" Richard masuk ke ruangan kantor Ameera dengan diantar seorang satpam.


"Waalaikum salaam, hai Richard ya ampuuuuun ... akhirnya kamu datang juga berkunjung ke sini, maaf tempatnya hanya begini."


"Aku tidak melihat tempatnya Ameera, menerima penyambutan yang begitu baik dan senyum kamu aku sudah betah di sini, heee ...."


"Ah, Richard jangan begitu, aku jadi nggak enak."


"Santai saja Bu Ameera, saya hanya ingin ngobrol lebih jauh lagi dan bicara tentang proyek yang Bu Ameera tawarkan waktu itu." Richard menetralkan suasana.


"Maaf Richard, jangan panggil aku Ibu aku jadi merasa tua, sebenarnya aku belum bicara sama Bapakku, tapi aku yakin Bapak bisa menerima investor dari luar mungkin dengan persyaratan tertentu. Bagaimana kalau hari ini kita ngobrolnya sama Bapakku juga?"


"Oh maaf lupa, heee ...Dengan senang hati Ameera, dengan begitu aku bisa berkenalan langsung dengan seseorang yang sangat berpengaruh di daerah ini seorang pengusaha dan tokoh masyarakat yang dikenal banyak orang dan sukses dalam bisnis."


"Jangan berlebihan memuji Richard, sebab yang berhak di puji hanya Yang Maha Kuasa. Justru aku yang kagum padamu Richard, kamu telah sukses di bidang usaha yang kamu geluti."


Ameera balik memuji.


"Berarti kita saling mengagumi Ameera, tak apa-apa yang paling penting kita bisa menjalin hubungan kerjasama dengan baik."


"Iya Rich."


Richard tersenyum, tak puas rasa hatinya memandang wajah berkerudung di hadapannya. Selalu tersenyum dengan sopan memperlihatkan bibir merah muda yang menggoda dan barisan gigi yang berjejer rapi.


Juga senyum yang sangat sulit di lupakan Richard.


"Maaf Richard, kita ngobrolnya di ruangan depan situ saja ya, untuk mencegah fitnah, sambil aku telephon Bapakku dulu."


"Kan di sini juga kita tidak ngapa-ngapain Ameera?"


"Richard, seorang perempuan dan laki-laki bukan mahram dalam satu ruangan itu tidak di perbolehkan, karena akan mendatangkan fitnah dan tuduhan walau tidak berbuat apapun."


"Oke, mari kita pindah ngobrolnya."


Ameera menelephon Bapaknya, tapi entak kenapa tak ada jawaban, berkali di sambungkan tetap saja tidak diangkat, lalu pada Ibunya.


Ameera mendapatkan jawaban kalau bapaknya sedang keluar bersama Pak Bagaskara entah itu ke proyek entah itu ke sekolahan yang pasti Bapaknya tidak ada di rumah.


"Bapak lagi Keluar Richard, jadi kita nggak bisa ngobrol langsung sama Bapak."


"Nggak-nggak apa-apa Ameera, lain kali juga bisa, sekalian kita melihat proyek itu."


"Sekarang juga kita bisa melihat proyek itu kalau kamu mau Rich, tapi aku nggak ada mobil lagi di pakai Mang Jaka antar Aliyah belanja."

__ADS_1


"Serius kamu Ameera mau ajak aku lihat proyek itu?"


"Iya, boleh emang kenapa?"


"Oke, aku telephon Benny dulu biar anterin mobil ke sini."


Richard begitu antusias, dan langsung mencabut ponselnya dan memberi perintah pada Benny.


"Rich, ajak aja Benny sekalian biar dia juga tahu proyek itu."


"Benny lagi ada kerjaan urgent Ameera, mungkin lain kali dia bisa ikut."


Ameera hanya mengangkat kedua alisnya dan mengangguk.


'Akhirnya aku bisa satu mobil sama Ameera, langkah dan awal yang bagus yang selama ini aku inginkan.' Hati Richard bersorak dadanya seakan mau meledak.


"Tuh mobilnya sudah datang, Ayo kita berangkat sekarang." Richard begitu gembira melihat Benny mengantar mobilnya dan memarkir di halaman vila Ameera.


Ameera bersiap-siap mengambil ponsel di meja kerjanya, juga tas tangan branded yang berukuran setengah dari map. memasukkan ponselnya dan sedikit berdandan membetulkan kerudung dan membereskan sedikit pakaiannya.


Richard memanfaatkan saat Ameera masuk ruangannya itu dengan berjalan keluar duluan menghampiri Benny dan membisikkan sesuatu di telinganya. Disambut oleh Benny dengan anggukan kepala dan mesem-mesem menahan senyum melihat Bosnya seperti ABG lagi jatuh cinta.


"Ayo Pak Benny, ikut kita melihat proyek yang aku tawarkan sama Pak Richard itu." Suara empuk Ameera membuat Benny melirik.


"Oh, nggak apa Pak Benny lain kali mungkin bisa."


"Iya, Bu Ameera."


Richard membukakan pintu bagi Ameera dan menunggu Ameera memasuki mobilnya, Richard menyodorkan tangannya bermaksud membantu Ameera naik, Ameera menyambut tangan itu tanpa melihat wajah sumringah Richard.


Setelah Ameera duduk manis di jok depan, baru Richard memutari mobilnya dan masuk lalu duduk di jok kemudi.


"Kita ke arah mana sayang, eh Ameera, maaf aku salah, heee ... karena kebiasaan memanggil asisten dan karyawan ku begitu."


Ameera tersenyum, dan melirik Pria blasteran di sampingnya.


"Lurus saja dulu nanti beloknya aku tunjukin."


"Siap Nyonya!"


"Aku bukan Nyonya siapa-siapa Richard."


"Tapi suatu saat pasti akan menjadi Nyonya"

__ADS_1


"Harapan selalu ada, tapi dalam waktu sekarang aku belum berpikir, masih terasa sakit hati ini, dan aku mengalami semacam trauma yang tak bisa aku bagi dengan orang lain, cukup aku saja yang merasakannya sendiri."


"Bukan aku sok menggurui Ameera, ini pengalaman temanku, obat sakit hati oleh pria obatnya pria lagi begitupun sebaliknya, gagal dalam pekerjaan semangat memacu diri lebih baik lagi, kecewa oleh seseorang berjuang buktikan diri kita bisa dan mampu."


"Aku berusaha menata diri lebih baik lagi Richard, tapi tak semudah teori dalam mempraktekannya, berusaha menyibukkan diri salah satu yang paling masuk akal."


"Oke, itu sudah bagus Ameera, kita sudah berteman kalau kamu suntuk mungkin seperti saat ini, kita bisa jalan bareng, ngobrol atau kita makan bareng lalu sambil melihat proyek dan menata apa yang seharusnya di prioritaskan."


"Makasih Richard, kamu baik banget pantesan semua karyawannya begitu akrab sampai di panggil sayang segala."


"Astagfirullah, Rich kita anteng aja ngobrol pikiranku kemana nggak fokus amat kita kelewat jauh ini."


"Nggak apa Ameera, nanti di depan belok lagi, maaf aku mengganggu konsentrasimu, aku pengen jalan jauh sama kamu heee ...."


Ameera lagi-lagi tersenyum membuat Rich semakin ingin menggodanya.


Ameera tak bisa menolak pesona Richard yang begitu menawan di hadapannya, tapi mungkin sebatas mengaguminya saja.


Ameera sadar diri, status dirinya dan Richard yang berbeda. Richard masih sendiri dengan kesuksesan yang luar biasa menurut Ameera, asetnya begitu banyak hotelnya ada beberapa, paras menawan tampang blasteran tinggi tegap dengan badan kokoh, setiap wanita sangat mengidamkan pria seperti Richard tak terkecuali dirinya juga.


Status dirinya yang janda cerai sungguh tak enak di dengar, bukan predikat yang begitu bagus dan membanggakan bagi semua wanita, tapi predikat yang harus segera di pulihkan.


"Hai, ngelamun aja aku ada di sini heee ...." ucap Richard membuyarkan lamunan Ameera.


"Aku nggak melamun tapi lagi berkhayal Rich!"


"Wow, bagi dong khayalannya, kalau nggak masukin aku dalam khayalannya, haaa...."


"Aku berkhayal ingin punya tempat peristirahatan di lokasi agrowisata itu nanti Rich, entah akan terealisasi apa tidak."


"Ameera, kita lihat dulu lokasinya sepertinya tempat itu begitu nyaman buat kamu."


"Bukan nyaman-nyaman lagi Richard, aku rasanya ingin tinggal di sana."


Richard semakin penasaran, dan ingin membuktikan kebenaran apa yang diucapkan Ameera bahkan sampai dibawa ke dalam khayalannya ingin segera tahu dan melihat obyek itu yang membuat Ameera ingin tempat istirahat di sana jauhnya ingin tinggal di sana.


'Ameera aku mungkin berpikiran begitu seandainya sudah melihat tempat lokasi proyek itu."


*****


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2