
"Kalian sudah kenal, tapi Bapak harus memperkenalkan juga seorang kepercayaan Bapak dari mulai awal membangun proyek itu, bahkan sebagian inspirasi yang Bapak tuangkan ke dalam proyek itu adalah hasil sumbangan ide dari Pak Bagas."
"Oh, rupanya ada yang Bapak percaya juga? boleh biar kita bisa saling diskusi untuk selanjutnya."
"Kalian bertiga pasti cocok dalam menuangkan ide di proyek itu, Bapak serahkan kepada kalian bertiga silakan bangun kelola mekanismenya Bapak ingin mendengar laporan baiknya saja."
Ameera tersenyum dan memandang Richard, untuk pertama kalinya Ameera terang terangan tersenyum di di tujukan pada Richard, membuat Richard seperti di atas awan saja rasanya.
Gejolak hati Richard seperti mendapat lampu hijau, seumur umur baru kali ini memiliki rasa yang sangat berbeda. 'mungkinkah aku benar telah jatuh hati pada Ameera? '
"Ameera aku mau melihat maket kalau sudah jadi nanti, atau bila mungkin aku akan menambahkan sesuatu yang ada di imajinasiku, mungkin ada sebagian ide yang aku tuangkan nanti semoga saja aku bisa menjadi partner kerja yang bagus buat kalian, Ameera dan siapa tadi Pak Bagas? kita bisa satu tujuan dalam kerja sama ini." Richard begitu semangat mengundang keluarga Ameera untuk busa datang ke hotelnya.
"Iya Pak Richard Pak Bagas, nanti akan ada rapat khusus, kalau semua sudah deal untuk mengatur langkah selanjutnya." jawab Ameera.
"Dengan senang hati Ameera, bila mungkin Bapak Haji berkenan di tunggu di hotel kita juga sekalian Ibu dan keluarga, aku undang secara resmi, kita sarasehan di sana." Richard sekalian ingin mengundang keluarga Pak Haji ingin membalas semua kebaikannya.
"Boleh Pak Richard, untuk mempererat tali silaturrahim dan kerjasama kita." Haji Marzuki juga senang.
"Terimakasih Pak Haji."
"Sama-sama Pak Richard, baiklah Bapak permisi dulu karena sudah mendekati waktu ashar, atau mau sekalian ashar dulu di sini bareng Bapak?"
"Oh, i-iya Pak, nanti aku nyusul sama Ameera." spontan Richard menjawab.
"Alhamdulillah, Bapak pulang duluan, silahkan saja ngobrol-ngobrol dulu jangan lupa nanti kita berjamaah di mushola dekat rumah."
"Iya Pak." Ameera menjawab, dirinya tahu itu adalah salah satu kebiasaan sejak dari kecil, keluarga Pak Haji Marzuki kalau lagi ngumpul dan ada di rumah selalu melakukan kegiatan shalat dengan cara berjamaah untuk meningkatkan kebersamaan.
Pak Haji Marzuki bangkit, bersalaman sama Richard dan berjalan ke luar.
"Pak Jaka, masuk temani mereka ngobrol di dalam!"
"Oh Iya, Pak Haji." Mang Jaka sigap pindah dari luar jadi masuk dan duduk di salah satu sudut ruangan depan ada sofa buat santai sambil nonton televisi
Ameera tersenyum saat mendengar suara Bapaknya agak di keras suaranya saat menyuruh Pak Jaka sopir sekalian satpam di vila nya untuk menemani dirinya sama Richard ngobrol di dalam. Peringatan dini sebagai orangtua.
Itu bukan hal aneh, Ameera sama adiknya Aliyah dibesarkan dalam lingkungan yang begitu taat, walau Ameera sama Aliyah sama-sama kuliah dan bergaul dengan dunia luar.
Ameera juga sama seperti anak perempuan yang lain suka akan nonton, dengar musik, bernyanyi be-karaoke juga pernah pacaran putus nyambung, sebelum Bapaknya mengenalkan dengan anak sahabatnya, lalu Ameera menurut untuk menikah setelah berkenalan belum terlalu lama.
Belajar mencintai adalah hal terberat saat sudah menikah, menjadi istri yang baik di jalaninya sampai pada suatu saat semua pengorbanannya sia-sia tak ada artinya, saat Ameera tahu suami yang mulai di cintainya telah menikah dan memiliki anak dengan sekretarisnya.
Ameera tahu karena memang dirinya harus menjaga kesopanan dan adab dan tata krama saat dengan siapapun berduaan ngobrol.
__ADS_1
"Kenapa tersenyum?" Richard mulai berani menggoda Ameera.
Saat mereka berdua, bertiga Mang Jaka jauh di pojok sana.
"Richard, kamu dengar nggak Bapak tadi nyuruh Pak Jaka ngapain?"
"Aku nggak fokus Ameera, jadi nggak begitu dengar apa yang diucapkan Bapakmu tadi tapi hanya kedengaran bicara sama siapa gitu. Memang bapakmu bicara apa tadi?" ucap Richard bingung.
"Kamu nggak fokus kenapa? apa lagi ada masalah?" Ameera malah balik tanya.
"Iya, masalahnya kamu!" Richard semakin berani.
"Kok aku sih? kenapa? perasaan aku nggak punya salah sama kamu."
"Salah besar justru, aku melihat senyum kamu masuk di dada ini, tak bisa keluar lagi membuat aku gagal fokus, dan hati ini jadi nggak enak, di bawa apapun."
Deg! Ameera semakin tahu, Richard begitu berani menggoda dirinya, hati Ameera melambung tapi sedikit marah dengan gombalan yang di lontarkan Richard barusan.
"Sepertinya aku biasa saja, tidak menebar pesona berlebihan, tapi seandainya itu menjadi masalah buat Pak Richard itu adalah masalah Pak Richard sendiri."
"Memang masalahku Ameera, tapi ada kontribusi kamu."
"Semoga saja bukan kontribusi yang jelek." Ameera tersenyum, kesekian kalinya begitu menusuk hati Richard.
"Oke kita jangan bicara kata hati dulu, yang nyata saja ya." sela Ameera mengalihkan pembicaraan, Ameera tahu pembicaraan Richard semakin menjurus ke arah pribadi perasaan hatinya. Ameera belum siap dengan semuanya.
Richard mengerti, Ameera begitu sopan memotong obrolan mereka.
"Pak Richard katanya tadi mau ikut aku sholat Ashar?"
"Boleh." jawab Richard pasti.
"Ya nanti, sekalian biar tahu rumah tempat tinggal aku."
'Dengan senang hati Ameera, aku tak mau lama-lama aku akan mengatakan perasaanku, apapun jawaban kamu, kamu adalah orang pertama yang telah merubah warna hidupku merubah segalanya, kini aku semakin yakin kalau bersamamu itu yang terbaik.'
"Kenapa kamu masih saja panggil aku dengan kata Pak?"
"Aku merasa nggak enak kalau di hadapan orang lain atau orang tuaku sendiri takutnya aku dibilang tidak sopan dan terlalu sok akrab."
"Ameera kamu hobi nya apa sih?"
"Banyak!"
__ADS_1
"Hobi biasanya nggak banyak, tapi paling ada beberapa, kamu kok hobinya banyak, diantaranya apa?"
"Aku hobi baca, denger musik, nyanyi, masak, juga wisata kuliner."
"Wah, kesukaan aku semua itu, kapan kita bisa wisata kuliner sama-sama apa kamu punya rekomendasi tempat yang bagus nggak?"
"Kesukaan kamu kok banyak juga? diantaranya apa?"
"Yang paling aku suka melihat kamu senyum."
"Tapi senyum nggak ada di list hobi ku?" Ameera juga balik menggoda Richard.
"Biarin tapi aku sukanya itu!"
Deg! ke sekian kalinya Richard menyentuh hati Ameera, membuat Ameera merasa malu sendiri, Richard begitu berani seakan tahu isi hatinya, padahal Ameera tidak memperlihatkan rasa sukanya. Walau sebenarnya telah ada di dalam hatinya sejak mereka bertemu pertama kali.
"Mang Jaka, tolong ambilkan lagi minum buat tamunya."
"Oh, iya Neng." Mang Jaka langsung ke belakang mengambil lagi minuman air botol mineral.
"Aku lama banget bertamu nya ya? sampai dua kali di kasih minum."
"Nggak apa-apa, mau makan juga boleh." sahut Ameera tersenyum mengiyakan jawaban Richard.
"Nggak, kalau makan di luar aku mau."
"Tapi aku janji mau makan di rumah pada Ibu, kalau mau sekalian ayo aja, Aku biasa makan setelah sholat berjamaah."
"Nggak lah Ameera, aku malu kenal belum lama masa langsung minta makan?"
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1