
"Dari mana Zen Sayang?" sapa Tante Diana saat Zen datang dan menyimpan kunci mobil di meja kerja Tante Diana.
Tante Diana lagi mengobrol dengan seorang perempuan yang berpakaian begitu minim.
"Aku habis jalan saja melihat semua yang pernah Aku tinggali dulu, tapi Aku belum bertemu semua Anak buahku," jawab Zen masih saja berdiri menjulang di hadapan Tante Diana.
"Duduk sini. Aku memulai bisnis pelayanan di rumah ini menguras kantong Bos Bos dan pengusaha nakal yang tidak puas dengan pasangannya, jangan heran kalau sebagian rumahku di pergunakan sebagai bagian dari bisnisku, tadinya Aku mau numpang dulu di hotel Richard tapi Kamu pasti sudah tahu jawaban Richard jangankan bersedia memberi tempat malah seakan mengusirku!" ucap Tante Diana sambil menarik tangan Zen duduk di sampingnya.
"Baiklah, Aku bertemu seseorang Anak buahku tadi dan rencananya berusaha membangun kembali usaha yang dulu pernah Aku kuasai." jawab Zen dengan bersandar di sofa ruang tamu itu.
"Masih bisa terhubung jaringannya?" Tante Diana menepuk paha Zen.
__ADS_1
"Semua masih lengkap, kapan modal bisa Tante cairkan?" tanya Zen sambil membelai bibir Tante Diana yang lagi menatap di sampingnya
Tante Diana memberi kode pada perempuan itu dan perempuan itu lalu tersenyum mengangguk dan bangkit keluar dari ruangan itu.
"Perlu berapa Zen sampai Kamu bisa jalan lagi usahanya?" tanya tante Diana menangkap tangan Zen dan menggenggamnya.
"Tak terbatas! beri yang pantas saja, Aku berusaha mau minta pesangon pada Richard sambil memancing Si brengsek kacung Benny yang sombong keluar Aku mau menonjok nya biar tidak sombong hanya jadi kacung!"
"Kamu memang pantas mendapat pesangon?"
"Zen apa perlu semua itu? Ingat Aku tak mau kehilanganmu Sayang, juga tak mau Kamu kenapa-kenapa Kamu itu milikku," Tante Diana jadi duduk di pangkuan Zen.
__ADS_1
Ah, Tante nggak usah khawatir semua ada prosesnya Aku meminta bagianku saja oada Richard masa sekian tahun berkontribusi tak ada timbal baliknya? Aku punya anak dan mantan istri dan Anak dari Annet yang belum Aku pastikan jadi atau tidaknya itu juga tanggungjawab ku!"
"Aku nggak mau ikut campur Zen Sayang itu urusan laki-laki, Walau Aku merasa kecewa dan kesal pada Richard yang seperti kacang lupa kulitnya tapi Aku berusaha menghargai keputusannya Aku hanya butuh kegagahan Kamu saja di ranjang Zen! hanya pesanku kalau memungkinkan dapat lanjutkan kalau peluangnya zonk tinggalkan urus usahamu saja Aku mendukung sepenuhnya asal setiap Aku butuh Kamu selalu ada!"
"Hahaha ... sangat siap Tanteku Sayang, berapa orang yang sudah standby di sini cewek cewek itu?"
"Sementara cukup 4. Ingat! itu bukan mangsamu Kamu hanya milikku jangan bagi ini pada yang lain!" Tante Diana meremas bawah perut Zen yang sudah menggunung.
"Juniorku hanya butuh yang sudah ahli juga profesional dan yang sudah berpengalaman Tante!" bisik Zen sambil sedikit mengigit kuping tante Diana yang merinding di buatnya.
Malam, pagi dan sorenya mereka hanya mengisi dengan bermain kesenangan berdua, Melayani Tante Diana yang tak ada puas dan kenyangnya membuat Zen merasa tertantang ingin membuat Tante Diana takluk tapi begitu kuat dan tahan banting cewek yang satu ini. Benar-benar binal dan terlatih dalam bermain.
__ADS_1
********
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️