Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Masih perih


__ADS_3

Ameera memasuki kamarnya dan merebahkan badannya yang terasa letih di tempat tidur.


Aliyah menarik koper dan menyimpannya di pojok kamarnya.


"Kak, di sini ya kopernya kalau-kalau Kakak ada yang di perlukan." ucap Aliyah sambil memandang Kakaknya.


"Iya Al, makasih ya." jawab Ameera tanpa merubah posisinya.


Aliyah keluar dan menutup pintu perlahan.


Ameera membuka mata dan bangun lalu duduk mengusap seprai tempat tidurnya yang tak berubah dari dulu, walaupun kurang lebih dua tahun setengah lamanya di tinggalkan posisinya masih tetap seperti ini, tempat tidur, lemari pakaian, meja rias dan meja komputer gandengan dengan meja televisi. Mungkin hanya seprai nya saja yang di ganti.


Ameera mengerti tak ada satu tempat ternyaman selain rumah orangtuannya, dan tak ada tempat pulang yang paling di kangenin selain rumah masa kecilnya.


Ameera bangkit memandang dari kaca kamarnya ke arah agak jauh terlihat banyak bangunan baru, mungkin hotel-hotel baru yang baru berdiri di bangun dan di modern kan, begitu pangling dan suasananya telah berubah.


Ameera belum tahu apa yang akan di lakukannya, mungkin yang paling ingin di lakukannya ingin mengajar dan kembali ke sekolah yayasan orangtuanya, Keluarga H.Marzuki mempunyai sekolah dari mulai TK, MI, atau Madrasah Ibtidaiyah setara SD, dan MTs, Madrasah Tsanawiyah setara SMP dan Madrasah Aliyah setara SMA. Yang di kelola di bawah naungan Yayasan Al-Ikhlas.


Mungkin dengan begitu harus mulai menyibukkan diri, Ameera pelan-pelan akan melupakan semua mimpi buruk dan telah dialaminya.


Apa akan mengelola penginapan keluarga yaitu 'Vila Melati' yang di komersilkan kedua orangtuanya sejak lama. Sepertinya Ameera ingin merubah tatanan dan kalau bisa ingin di rubah statusnya menjadi sebuah hotel yang modern mungkin akan lebih bisa komersil lagi.


Ide bermunculan di otak Ameera tapi ingin di yakinkan baik buruknya, apa terjun ke sekolah atau mengelola vila saja?


Ameera bangkit, membuka salah satu koper dan mengambil handuk, keluar lalu masuk ke kamar mandi.


Badan yang terasa letih kembali segar setelah mendapatkan guyuran air mandi.


Keluarga H. Marzuki adalah keluarga terpandang yang memiliki aset di beberapa usaha yang turun temurun juga hasil pengembangan dan ekspansi H. Marzuki sendiri.


Usaha di bidang penginapan keluarga yaitu Vila Melati, Yayasan Al- Ikhlas dan agrowisata perkebunan Tangkil/ Melinjo dan Pala juga pariwisata alam yang baru-baru ini di kembangkan nya di daerah Puncak Bogor alias Kota Hujan.


H. Marzuki selain memiliki aset yang begitu banyak bisa dibilang sebagai orang pembayar pajak terbesar di daerahnya, juga sangat terkenal religi di lingkungan tempat tinggalnya.


Tak heran semua masyarakat tak ada satupun yang tak kenal nama H. Marzuki.


Ameera berkeliling rumahnya yang paling mewah dan besar di daerah lingkungan itu, Hunian yang sangat nyaman dengan udara yang sangat sejuk.


Dengan pemandangan yang begitu indah ke arah lembah, pemukiman, bukit-bukit dan daerah tempat bercocok tanam sayuran terbentang jauh menghijau.


Rumahnya ada di belakang Vila Melati masuk sekitar 300 m dari jalan raya.

__ADS_1


Ameera kuliah dan lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Tak sempat mengabdikan ilmunya keburu berkenalan dan tepatnya di kenalkan orangtuanya dengan anak sahabat H. Marzuki yaitu Fathir Fadhil Hikmawan yang akhirnya mereka sama menerima keinginan orangtua mereka kenalan pacaran sebentar lalu menikah.


"Neng Ameera makan dulu kata Bu Haji." Bibi asisten rumah tangga keluarganya menawarkan makan kepada Ameera.


"Oh iya Bi, nanti saja perasaan aku masih kenyang." Ameera menolak dengan sopan.


"Iya Neng, tapi jangan cuma merasa kenyang aja, tapi nggak masuk apa-apa malah nanti masuk angin."


"Iya Bibi, nanti aku juga makan, semua orang pada kemana Bi? kok pada sepi?" Ameera celingukan tak melihat satu pun anggota keluarga ini.


"Memang sejak kapan di rumah gede ini ramai Neng? kecuali Neng Ameera nanti punya anak baru ramai kali heee ...." Bibi sekenanya aja ngomongnya. Membuat Ameera Deg! ada yang rasa sakit dan goresan luka dalam hatinya.


Semua yang di katakan Bibi benar, memang di rumah ini sejak dulu sepi, Ameera hanya berdua sama adiknya Aliyah yang sudah gede punya kesibukan masing-masing. Orangtuanya juga sama super sibuk dengan urusan usahanya paling yang ada di rumahnya Bibi saja.


"Neng Aliyah ke depan sama Bapak di tugaskan di vila, Bapak sama Ibu ke sana ke perkebunan, katanya mau nengok orang lagi pada kerja katanya mau bikin proyek besar Bapak di sana, Bibi nggak tahu Neng."


"Proyek apa Bi?" Ameera mengerutkan keningnya.


"Bibi tahunya nggak jelas Neng, cuma kata Bu haji mau bikin tempat hiburan piknik keluarga gitu." Jawaban Bibi malah menambah penasaran Ameera.


Ameera tersenyum mengusap punggung Bibi, yang sejak kecil seingatnya selalu setia ikut keluarganya, mengurus dirinya dan Aliyah sejak kecil dengan telatennya.


"Aku nggak pulang dua tahun lebih, pulang ke sini jadi pangling Bi."


"Orang asing Bi?"


"Iya, kata Neng Aliyah orang asing."


"Hehehe ... Bibi orang asing itu orang makhluk luar angkasa, kalau masih sama-sama manusia sama aja Bi."


"Kata orang, Hotel baru yang di sebelah vila Pak Haji itu ada tempat joget jogetnya Neng."


"Oh ya? maksudnya ada night club nya?"


"Nait klab itu apa Neng?"


"Artinya klab malam Bi, buat kumpulan orang-orang cari hiburan, istirahat, makan, minum kumpul kumpul, ngobrol ketemu teman begitu Bi."


"Oh, jadi nggak benar ada tempat joget-joget nya Neng?"


"Mungkin benar juga Bi, namanya juga tempat orang cari hiburan, dan kesenangan, biasanya ada tempat joget, ada penyanyinya juga."

__ADS_1


"Kayak Neng Ameera sama Neng Aliyah nyanyi di rumah bareng-bareng gitu?"


"Itu karaoke Bi, biasanya di klab malam penyanyi dan musiknya live atau langsung ada di situ, bisa juga yang bawain dan yang mengatur musiknya DJ, biar semakin semangat orang yang datang ke situ."


Bibi manggut-manggut, entah mengerti atau malah bingung.


Ameera tertawa sambil membuka tutup saji meja makan. Baru kali ini rasanya Ameera merasakan tertawa yang lepas.


Semoga dengan keberadaannya di sini dan ngobrol dengan Bibi bisa melepaskan beban hati yang di bawanya.


"Masak apa Bi? aku kangen masakan Bibi." Ameera membuka piring yang telungkup di meja makan besar berukir dan berkaca itu.


"Biasa Neng, kesukaan Bapak balado terong ungu, kesukaan Ibu sayur asem, Neng Aliyah kadang makan di sini kadang enggak katanya suka beli nasi bungkus padang, tapi kalau kata Bibi kurang enak banyak santannya juga minyaknya., pernah Bibi minta di belikan karena ingin mencicipinya"


"Kalau aku semua masakan doyan Bi, mau Padang, Sunda, Jawa juga yang penting enak di lidah."


"Tapi kok Neng nggak gemuk gemuk?"


"Makannya nggak banyak Bi, secukupnya saja."


Ameera makan di tungguin Bibi yang selalu memperhatikannya, tak sedikitpun Ameera atau Bibi menyinggung soal rumah tangganya yang kandas.


Ameera mengerti permasalahan rumahtangganya bukan untuk di ekspos dan di obrolkan. semua permasalahannya cukup semua orang dekatnya tahu saja.


Kurang apa Neng Ameera? cantik seperti artis, baik, sopan, dari keluarga sangat terpandang dan anak orang kaya, segala ada tapi kenapa Mas Fathir begitu tega menyia-nyiakan dan mengkhianati nya?


Bibi memandang Neng Ameera dengan berjuta perasaannya.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2