Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Obsesi Hanna


__ADS_3

Telephon terputus. Benny berpikir, termangu sambil menimbang-nimbang ponselnya, apa yang seharusnya dilakukan ini adalah jalan kebaikan tetapi dirinya sama Richard sedang bersitegang sebaiknya apa yang harus dirinya ucapkan sebagai awal mencairkan ketegangan mereka. Benny berpikir dengan keras bijaksananya langkah seperti apa yang dirinya ambil menyampaikan langsung? menitipkan lewat pesan? atau Hanna yang menyampaikan?


Lagi mondar mandir di halaman depan rumahnya ponsel di genggamannya berbunyi dan bergetar, Benny terkejut terlihat di layarnya 'Bos Richard memanggil ...''


Sudah bisa di tebak, tidak lebih dari setengah hari saja mereka perang dingin, sekarang Richard menelephon.


"Ya!" jawab Benny datar.


"Lo di mana?" tanya Richard sok tidak ada masalah.


"Aku di rumah, lagi pacaran!" Benny menjawab sekenanya.


"Enak banget lo pacaran?"


"Enak lah semua orang berhak jatuh cinta, hak azasi semua orang, ya di nikmatin saja, ada apa?" Benny pura-pura biasa juga.


"Gue minta maaf, lo sekarang datang ke kantor banyak yang mesti gue tanyain sama lo!"


"Aku lagi pacaran, nggak bisa! kalau nggak paling nanti malam aku bisa datang."


"Ya sudah terserah lo, tapi malam gue tunggu, jangan nggak."


"Oke, tapi ada seseorang yang menunggu Bos di vila sebelah sama Bapaknya. Katanya mau bertemu dan membicarakan soal proyek yang Bos mau investasi di situ!" Benny merasa ada jalan, dan bisa menyampaikan pesan Bu Ameera.


"A- Ameera, mau bertemu gue? serius lo? darimana lo tahu, lo di telephon bukan?" Richard antusias.


"Barusan Bu Ameera telephon titip pesan sama aku, berarti Bos beruntung mungkin ini yang namanya hoki keinginan yang tersampaikan.


Kalau saja Bos tak menelephon aku pasti nggak akan aku sampaikan! jadi percayalah seorang Benny membawa keberuntungan buat siapa saja yang ada di dekatnya."


"Haaaa ... bisa saja lo! tapi gue telephon lo karena gue merasa bersalah dan mau minta maaf."


"Tapi saat Bos menelephon aku ada kebahagiaan kan?"


"Gue tahu, lo hanya main-main kan? saat mengatakan kalau lo mau mengundurkan diri menjadi perantara antara gue sama Ameera?" ucap Richard nggak sabar, ingin tahu kalau Benny tidak serius dengan ucapannya waktu mereka tadi berantem.

__ADS_1


"Boleh di batalkan tapi dengan negosiasi."


"Lo boleh nego apapun juga, gue tunggu lo malam nanti. Sekarang gue mau menemui Ameera dulu."


Richard memutuskan sambungan telephon dan bersiap siap mau menemui Ameera.


"Ada apa Bang kok senyum senyum sendiri? lagi mikir apaan?atau lagi ngebayangin yang jorok ya?" tanya Hanna penuh keingintahuan melihat Benny senyum-senyum sendiri.


"Haaa ... Bos Richard akhirnya kena batunya, termakan ucapan sendiri, habis aku marah-marahin habis aku pojokan mungkin sekarang baru kepikiran, sekarang jatuh cinta percis seperti anak SMA baru pertama naksir seseorang, dia yang berkoar-koar tidak ada cinta dalam hidupnya karena cinta itu adalah pamrih, banyak tuntutan, mengikat, kesetiaan dalam satu ikatan adalah beban bagi kebebasannya!"


"Apaan sih Bang?" Hanna masih penasaran.


Tapi Benny malah terkekeh sendiri, membiarkan Hanna bengong tak mengerti apa yang ditertawakan Benny.


Hanna yang datang dengan dua gelas jus jambu merah duduk di depan Benny yang sekarang telah resmi menjadi pacarnya. Mereka bersantai di rumah orang tua Benny menikmati kebersamaan, menikmati sejenak kebebasan mereka dari rutinitas yang biasa mereka lakukan di kantor karena tadi mereka melakukan walk out dari kantor Richard.


"Itu Bos kamu, balik lagi ke masa-masa baru puber, lagi jatuh cinta sepertinya emosi begitu meledak-ledak."


"Jatuh cinta tiap lihat cewek bening itu biasa mungkin buat Bos Rich." jawab Hanna sambil memandang wajah Benny.


"Tapi sepertinya belum pas hatinya, kita masih bertemu Bu Vanny tadi, mungkin keluar dari kamar Bos, itu artinya apa?" sela Hanna dengan rasa tak percayanya.


"Ada kemajuan menurut pandanganku, minimal Bos sudah tak hidup bareng bebas sama Janeeta, kalau malam juga Janeeta pulang ke kost-kostan yang di sewa Richard."


"Aku pengen lihat berubahnya seperti apa?"


"Ya, kita lihat saja nanti, semoga benar Richard melakukan perubahan yang berarti."


"Sepertinya susah merubah kebiasaan yang sudah lama di jalaninya Bang, tapi kalau niatnya dari hati nggak tahu juga."


"Aku yakin Richard bisa, dan sekarang sudah memulainya."


"Memulai apa Bang? Bu Vanny keluar kamar Bos habis ngapain mereka? jadi berubahnya kapan?"


"Aku tahu, tapi ada keanehan saat tadi bertemu Bu Vanny, kenapa dia begitu tak seperti biasanya yang ceria, tadi kelihatan masam banget. Dia paling bisa mencairkan suasana."

__ADS_1


"Sepertinya harapannya kandas saat bertemu Bos, Bos lagi uring uringan jadi Bu Vanny pulang lagi."


"Bos nggak pernah melewatkan cewek keluar kamarnya tanpa di sentuh, itu pengakuan Richard sendiri padaku, tapi nggak tahu juga kalau sekarang Richard memang sudah berubah."


"Kadang aku malu Bang, pernah masuk kamarnya saat hari sudah siang karena mau mengantar dan membuka kode pintu team kebersihan, tak tahunya Bos masih tidur pelukan sama Annet.


Kami keluar lagi terbirit-birit malu sendiri."


"Haaa ... jangan-jangan kamu terobsesi juga Hanna!"


"Aku wanita normal, terobsesi sedikit saja." Hanna cekikikan sendiri, Benny jadi melotot.


"Kamu kan sudah punya aku sekarang, tapi untuk yang satu nanti aku berikan pada waktunya.


Aku sudah terbiasa di depan mereka, melihat berciuman atau pelukan tapi aku anggap itu bagian dari kerja."


Hanna diam, Benny menarik tangan Hanna perlahan ke kamarnya.


"Bang mau ngapain?"


Benny tak menjawab, hanya tersenyum memandang Hanna.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2