Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
MP


__ADS_3

"Mang Jaka, ngapain ngikutin aku sama suamiku?" semprot Ameera saat menyadari ada yang mengikuti dirinya sama Richard di belakangnya.


"Anu Neng, saya di suruh Pak Haji memastikan Neng Ameera sama Pak Richard sampai di tempatnya Pak Richard, Pak Haji trauma saat Pak Richard ada yang memukuli waktu itu." jawab Mang Jaka agak menjauh dari Richard dan Ameera yang berhenti di tengah jalan.


Richard yang berjalan menggandeng Ameera berhenti juga, menarik nafas panjang.


"Terus Mang Jaka mau ngapain kalau aku sudah sampai?" tanya Ameera lagi.


"Paling Mang mau pulang lagi, Neng jangan salah paham Mang hanya bekerja dan memastikan saja," sahut mang Jaka begitu taat akan perintah sang majikan.


"Ya sudah, yang jaga tuh vila Mang takut ada tamu kemalaman cari penginapan." jawab Ameera lagi, merasa nggak enak mesti di kawal segala, bersama suaminya Ameera merasa tenang aman dan nyaman.


"Iya Neng."


"Sudah sayang, nggak apa-apa. Itu satu perhatian dan tanda sayang orang tua sama kita. Ayo Mang Jaka nanti ngopi dulu sama satpam ya!" ajak Richard sambil kembali jalan menggandeng Ameera.


"Baik, Pak Richard."


Ameera diam dan meneruskan jalannya diikuti sama Mang Jaka.


"Wah Bos sama Bu Ameera rupanya, nginep di sini?" sapa Benny sambil tersenyum memberi jalan pada Ameera.


"Belum pulang Ben? nggak di tunggu istrimu di rumah?" jawab Richard merasa dirinya kini yang menang di hadapan Benny. Ameera di sampingnya sebentar lagi akan ada perayaan di kamarnya.


"Haaa ... ditunggu pasti tapi aku masih ada kerjaan, sebentar lagi juga pulang. Paling di sambut cemberut paginya di suntik sembuh lagi."

__ADS_1


"Ya sudah gue masuk dulu ya, itu tadi Mang Jaka mengantar gue sama Ameera ke sini tolong dikasih kopi sama tip, bilang gak usah jaga di sini karena Ameera di sini aman banyak satpam juga ada gue lebih baik dia jaga di villanya Pak Haji." titah Richard sambil berjalan sambil meraih pinggang Ameera.


"Baik Bos." Benny menatap Bosnya dengan senyuman.


Ameera masuk mengikuti Richard, wangi ruangan yang begitu lembut menyambut mereka, Richard menyalakan lampu sudut, dan menutup tirai kamar tidurnya yang di sekat kaca ke semua penjuru ruangan, Ameera menyimpan tasnya di sofa sambil menyapu pandang ke sekeliling ruangan yang begitu artistik dan unik bikin betah dengan penataan baru menjadi suasana baru, Richard memang bercita rasa tinggi dalam menentukan desain huniannya yang begitu mewah dan elegan.


"Sayang ... ini kamarnya, semoga kamu suka, mungkin kamu belum pernah masuk silahkan kalau mau ganti pakaian. Aku ke kamar mandi dulu."


Ameera mengangguk mengantar punggung Richard sampai hilang di balik pintu kamar mandi.


Ameera masuk kamar dan mengganti pakaiannya, baju tidur merah maroon bahan sutra, model berlengan sedikit tapi masih ada lengannya, dengan pengait model piyama bertali di pinggang, begitu kontras dengan tubuhnya yang tinggi semampai kulitnya yang putih mulus, terlihat dari separuh betis yang tak tertutup pakaiannya.


Ameera baru sadar ada meja rias juga di kamar Richard yang begitu luas, selain lemari pakaian yang menjadi desain dinding karena menyatu dengan dinding itu sendiri. Satu pasang sofa unik lembut dengan lapis bahan bulu sintetis lembut.


"Sayang, Hanna menaburkan bunga melati di tempat tidur kita, tapi sudah dua hari yang lalu, apa kita singkirkan saja?"


"Heemght ... lagian sebagian sudah menghitam." jawab Ameera melirik tempat tidur sekilas, Richard sedang menumpahkan bunga yang sudah agak kering tapi masih wangi ke sisi tembok dari bed cover. Lalu memasangnya kembali.


Ameera menghampiri suaminya dan mereka berhadapan di samping tempat tidur. Ameera mendongakkan mukanya ke atas menatap wajah Richard sambil meraih tangannya dan menggenggamnya tanpa bicara.


"Sayang, apa kita sedang mimpi kali ini?" Suara parau Richard. begitu dekat di telinga Ameera


"Tidak Rich, aku istrimu kini, kamu berhak semua atas diriku, dan aku juga berhak atas dirimu."


"Aaaah ... Ameera betapa aku sayang sama kamu, hanya padamu ku tumpahkan semua rasa di hatiku ini." Bergetar bibir Richard saat mengucapkan kata itu. Ameera memeluknya perlahan di sambut pelukan hangat Richard dan sentuhan di bibir Ameera.

__ADS_1


Mereka berciuman sangat dalam dengan sepenuh perasaan sambil berdiri dalam pelukan erat, menyentuh setiap inchi segala yang telah menjadi miliknya masing-masing dengan segala kenikmatannya dan mereka semakin jauh bersentuhan, saling membelai.


Richard membopong tubuh ramping semampai itu dengan ringannya dan di tidurkan dengan perlahan, lalu tak melepaskannya lagi, langsung mencumbunya hingga satu persatu pakaian mereka terlempar entah ke mana.


"Sayang aku nggak tahan, kita coba sekarang ya?" suara Richard penuh getar dengan nafas begitu memburu.


"Rich sayang, berdo'a dulu, sudah hafal kan? semoga segala yang kita lakukan mendapat keberkahan." Suara Ameera tak kalah bergetar juga.


"Sudah, sejak tadi juga sayang."


Ameera hanya mengangguk, menanti penyelesaian dari foreplay yang mereka lakukan dari awal. Seperti pahlawan yang begitu gagah perkasa, Richard melepas semua penantiannya selama ini, galau, cemas, kesal, rindu, sayang, marah dan emosinya tumpah saat ini dalam gelora asmara yang membahana, ******* dan pegangan kuat tangan Ameera semakin memacu semangat dan kekuatannya.


Begitu kuatnya Richard seperti kuda yang di pacu dengan kekuatan tinggi, hingga akhirnya sampai juga pada batas kemampuannya, walau hasrat masih tak terbendung, mereka tepar dalam satu babak awal yang begitu menggairahkan.


"Rich kamu gagah banget!" bisik Ameera saat Richard turun dari tubuhnya selesai menembakkan kepuasannya. Mereka berpelukan dalam satu selimut.


Tangan Richard mengusap keringat di kening Ameera yang begitu kecapekan.


"Kamu akan selamanya bersama pria yang sangat gagah sayang. Ini baru pemanasan, akan ada babak selanjutnya ya?"


"Tenangkan dulu nafasnya, baru bicara babak selanjutnya." sahut Ameera.


"Haaa .. kamu bisa aja sayang."


Richard begitu nakal tangannya masih saja kelayapan kesana kemari mencari sesuatu yang di sukanya.

__ADS_1


__ADS_2