
"Sudahlah Mas Fathir mediasi kita tak akan menemukan jalan lain selain keputusanku dan pendirian ku yang bulat, kita bercerai dan berpisah secara baik-baik." Suara Ameera kedengaran lembut. Tapi tidak di telinga Fathir semua terasa tajam dan dirinya tak bisa menerimanya.
"Ameera, tolong jangan bulatkan kan dulu tekad mu, Aku harap tolong pikirkan dan pikirkan lagi, demi masa depan kita yang lebih baik lagi." Fathir tak menerima begitu saja ucapan dan kata-kata Ameera.
"Mas Fathir kalau kita bicara takkan ada ujungnya lebih baik istirahat dulu, tenangkan pikiran Mas Fathir. Tolong hargai keputusan yang aku kemukakan dan maknai dulu keputusanku ini, pikirkan dulu keinginan mau rujuk itu, apa sudahdatang dari hati dan tujuan yang baik dengan niat ikhlas? apa terpaksa karena tekanan orangtua? jangan memaksakan keinginan karana belum tentu itu baik buat semua. Mari kita sama-sama introspeksi diri jangan jadikan ultimatum dari orang tuamu menjadikan keputusan yang sangat salah karena akan ada keterpaksaan pada diri Mas Fathir juga padaku," ucap Ameera panjang.
"Aku mencintaimu Ameera, walaupun itu aku sadari terlambat, aku berusaha akan memperjuangkannya kembali, aku ingin kamu kembali ke pelukanku." tutur Fathir seakan kukuh pada pendirian awal.
"Mas! rasa itu telah hilang kini dari hatiku Mas Fathir sejak aku tahu Mas Fatir menikah lagi dengan cara berbohong di belakangku bahkan telah memiliki anak, saat itu juga semua bangunan cintaku yang sekian lama aku bangun susah payah dan aku jaga hilang sudah."
"Kenapa kamu tak bisa memaafkan aku Ameera? apa kamu terlalu suci untuk bisa menerimaku kembali? apa orang yang salah akan tetap salah? tak adakah kesempatan untuk memperbaiki diri?" suara Fathir seperti emosi dan putus asa.
"Hai! hai! hai! jangan bicara emosi! aku kini bukan siapa-siapa mu, aku telah memaafkan mu tapi bukan berarti aku bisa kembali menerimamu dan kita bisa hidup bersama kembali. Perbaiki diri bukan berarti bersamaku, dengan siapapun nanti Mas hidup dan berumahtangga sama intinya harus memperbaiki sikap, tidak seenaknya memperlakukan istrimu!" sengit Ameera bicara, jadi terbawa emosi.
Fathir kelihatan gelisah, hatinya tak bisa menerima keputusan yang Ameera pertahankan, Fathir menyadari dirinya telah salah langkah dan sulit untuk kembali memperbaiki diri.
"Aku tidak mau jadi alasan kamu di maafkan sama orangtuamu, juga alasan akan perubahan kelakuan baik mu, usahakan bagaimana caranya agar Mas Fathir bisa di maafkan keluarga Mas sendiri, jangan malah membebankan padaku, jadikan semua ini adalah kejadian yang luar biasa untuk kita lebih baik lagi kedepannya walaupun kita tidak bersama-sama lagi."
"Ameera, tapi aku begitu menginginkanmu begitu juga orang tuaku."
"Aku harus ngomong apa lagi Mas? untuk bisa meyakinkan kamu kalau aku itu tidak bisa kembali lagi untuk rujuk? aku sudah punya janji masa depan dengan orang lain!"
"Apa? secepat itu Ameera?" Fathir kelihatan begitu kaget dengan ucapan Ameera.
"Kenapa tidak? mungkin bubar iddah aku akan menikah lagi, aku juga berhak bahagia dan punya masa depan sendiri."
Fathir bangkit tanpa pamit tanpa kata lagi, kembali ke ruang tamu keluarga Haji Marzuki, mukanya kelihatan marah.
Ameera tidak takut, marahlah pada diri sendiri, kemana aja selama hampir tiga tahun pernikahan mereka? Ameera yang begitu tertatih belajar mencintai dengan ikhlas, menjadi istri seutuhnya melayani segala keperluan suaminya, akhirnya terluka oleh rasa cinta itu sendiri saat cinta yang dengan setulus hati di persembahkan tak sedikitpun dihargai, tak diberi kepercayaan dan kesetiaan, Ameera terluka dan tak ingin kembali merasakan luka itu.
__ADS_1
Wajar hati Ameera begitu tertutup untuk kembali, apapun alasannya Ameera berani menentang kini, Ameera tahu orang tuanya tak akan memaksakan kehendaknya lagi.
Ameera memandang punggung Mas Fathir yang berlalu dari hadapannya, ada rasa sakit dalam hatinya, saat semua harus berakhir, Ameera telah merelakan semuanya, walau seharusnya dirinyalah yang harus marah.
Ponsel Ameera berdering, merasa terbangun dari lamunan, Ameera kaget pikirannya tak menentu. 'Ada apa Richard menelephon? bukankah barusan mereka bertemu, dan masih terasa hangat ciuman dan pelukannya'
Ameera menjawabnya dengan suara perlahan.
"Ya, ada apa Rich?"
"Aku kangen Ameera!" Ameera menarik nafas dalam dalam. Bingung harus ngomong apa sama orang yang satu ini. Sedikit sedikit kangen, baru saja bertemu ngobrol seharian pulang langsung telephon bilangnya kangen, apa nggak ada kegiatan lain apa?
"Nikmatilah rasa itu, aku juga sama Rich! Aku kangen banget sama kamu," ucap Ameera tak kalah manjanya, membuat Richard seketika melayang jauh tak bertepi.
"Aku tahu, kamu juga pasti kangen sayang, malam nanti carilah alasan kita jalan-jalan boleh?"
"Ameera apa yang harus aku lakukan? apa tujuan mereka datang?" Richard begitu kedengaran cemas.
"Mas Fathir minta rujuk sama aku."
"Ameera, aku tahu apa yang akan kamu ucapkan, kamu menolaknya kan?" Richard begitu gelisah dan mendadak tidak tenang.
"Iya, Richard aku tak bisa meyakinkan mantan suamiku, yang seperti memaksakan kehendaknya."
"Kalau dia bisa memaksa, kenapa aku tidak? Besok aku akan melamar kamu! kalau nggak malam ini, tolong sampaikan pada orangtuamu. Aku tidak main-main dengan ucapan ku, Seorang Richard bukan pengecut dan tak pernah kalah dalam hal apapun!" ucap Richard begitu berapi api.
"Richard, apa yang kamu katakan? jangan menambah beban pikiran aku dong, kan kita sepakat untuk sama-sama sabar dan tawaqal, biarkan aku selesaikan dulu satu-satu masalah yang ada, semingguan kurang aku melepaskan semua identitas dan berganti dengan identitas baru, walau semua itu bukan keinginanku juga wanita-wanita lainnya." tutur Ameera.
"Aku belum bisa tenang Ameera, sebelum semuanya usai dan aku katakan niat baikku pada orangtuamu."
__ADS_1
"Iya Richard, kamu percaya padaku kan?"
"Apa perasaanmu saat bertemu mantan suamimu yang telah membohongimu?" tanya Richard begitu ingin tahu.
"Itu hanya ada dalam hatiku saja, biarkan aku selesaikan semuanya."
"Aku mencintaimu Ameera, aku percaya kamu tak akan tergoda rayuannya lagi, tapi tetap saja aku khawatir, apa tanggapan orangtuamu?"
"Merekalah menyarankan kami untuk mediasi, kami telah melakukan awal mediasi tidak menemukan satu kecocokan lagi, aku terlanjur sakit hati dan aku mencintaimu Rich, aku tak bisa bohong."
"Ameera aku juga sama malah aku terlalu mencintaimu, kita akan sama-sama melewati semua ini, datanglah padaku saat kamu butuh apapun. Aku siap dengan segalanya"
"Richard, nanti aku telephon lagi malam, Mas Fathir seminggu akan tinggal di sini katanya."
"Apa?"
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1