
"Ameera darimana tadi itu?" Pak haji Marzuki menatap wajah putrinya.
"Dari luar Pak, tadi itu kami bertiga sama Pak Bagas juga Pak Richard habis membahas sedikit perubahan yang ingin dimasukkan ke maket yang baru jadi, sekarang semua sudah tidak ada lagi semua setuju dengan isi maket yang akan dituangkan pada proyek yang akan mulai di garap." Ameera menarik nafas seperti mengumpulkan alasan yang tepat untuk bisa dimengerti sama Bapaknya.
"Lantas?"
"Pak Richard mengundang kami aku sama Pak Bagas untuk makan siang bersama, tetapi karena Pak Bagas sudah makan dia menolak, akhirnya hanya berdua yang makan."
"Ameera, Bapak tidak menyalahkan makan siang kamu dengan siapa pun boleh, tetapi alangkah tidak baiknya meninggalkan rekan kerja sendiri Pak Bagas yang menolak dan kalian pergi hanya berdua walaupun Bapak tahu kalian tidak melakukan apa-apa tapi tidak baik kelihatan seperti itu."
"Iya Pak, Ameera salah menyetujui dulu ajakan Pak Richard tanpa bertanya sama Pak Bagas." Ameera memberi alasan.
"Ameera, Bapak senang kamu bisa bergaul bisa keluar dari permasalahan kamu dengan menyibukkan diri, sangat senang. Tetapi Bapak ingin melihat kamu itu lebih mengambil pelajaran dari yang pernah terjadi, yang pernah kamu alami Ameera." Pak Haji Marzuki bicara seolah menegaskan lagi kalau Ameera harus hati-hati.
"Jadi Ameera harus seperti apa Pak? Ameera sudah dewasa bisa memilih dan memilah dengan siapa Ameera bergaul, Ameera pikir apa salah Ameera jalan sama Pak Richard? toh itu yang akan jadi partner kerja Ameera kan?" Ameera berucap pelan tapi kedengarannya tegas.
"Iya, iya kamu tidak salah, mungkin kehati-hatian Bapak saja karena begitu sayangnya sama anak Bapak."
"Apa Pak Bagas 'menyampaikan sesuatu pada Bapak?" Ameera bertanya penuh selidik.
"Oh, enggak. Pak Bagas hanya memberitahukan sama Bapak kalau Ameera keluar sama Pak Richard itu saja."
"Ameera hanya makan saja, kami ngobrol soal pekerjaan dan membahas perubahan yang akan di tambahkan itu saja."
"Bapak percaya sama kamu Ameera, rasanya Bapak juga tidak salah mengenalkan Ameera pada sosok Pak Bagas beliau orangnya pintar, berwawasan, terpelajar sangat taat aturan agama juga sangat idealis. Bapak suka sosok anak muda dengan pem ikiran sangat maju."
Alasan yang sangat di mengerti dan sangat ideal bagi semua orang tua, Pak Bagas memang tidak ada kurangnya, tetapi bisakah Pak Bagas mengambil hatinya? membuat dirinya jatuh cinta itu sulit memang, karena cinta masalah hati dan perasaan, bisakah Pak Bagas membuat hatinya berpaling? juga melakukan pendekatan, lebih akrab dan ujung-ujungnya mencintainya?
__ADS_1
Terkadang pandangan orang lain sama kita begitu berbeda, Ameera jatuh cinta pada pandangan pertama, Richard juga sama jadi mereka sama saling mengagumi dan kata cinta bersambut tentunya. Tapi pandangan Haji Marzuki lain lagi, begitu ingin mendekatkan Ameera sama Pak Bagas.
"Pak! Ameera mohon, masa Iddah saja belum habis di jalani, beri Ameera kebebasan untuk menentukan masa depan sendiri, Ameera tidak mau dekat dulu dengan siapapun, bukankah Bapak sudah mengatakan sejak Ameera datang ke sini kalau Bapay tidak akan ikut campur lagi dalam menentukan masa depan Ameera?" Ameera seperti mengingatkan Bapaknya.
"Jangan marah dulu Ameera, maafkan Bapak. Bapak tak lain hanya ingin yang terbaik buat kamu, Bapak hanya merekomendasikan tidak mengharuskan, jalanin saja dulu, kenal saja dulu, cuma itu saja, selebihnya kamu yang pilih dan tentukan."
"Ameera tidak marah Pak. Tapi Bapak seolah tidak suka kalau Ameera jalan dengan orang lain selain Pak Bagas. Kenapa dengan Pak Richard Pak? kenapa Bapak setujui waktu Pak Richard mau investasi menanamkan sahamnya di perusahaan kita?"
"Ameera, waktu itu Bapak tidak melihat Pak Richard nya, tapi melihat antusias nya kamu mengajukan satu nama yang mungkin sudah begitu kamu kenal, Tapi tak apa enggak apa-apa, tidak merubah apapun keputusan Bapak, alangkah baiknya kita juga bekerjasama dengan orang luar keluarga kita untuk menanamkan kepercayaan terhadap orang lain semua itu harus dimulai."
"Ameera mohon, biarkan Ameera sendiri dulu, merasakan kebebasan dan melepaskan beban yang begitu berat di hati Ameera selama ini."
"Silahkan Ameera, terkadang Bapak lupa kesalahan sendiri, tapi semua itu tak lain hanya ingin yang terbaik buat masa depan kamu nanti Anakku."
"Apa Bapak tidak suka Pak Richard?"
"Apa Bapak mendengar omongan dari orang tentang kabar jelek seorang Richard?"
"Hanya omongan, belum tentu kebenarannya."
"Pak aku sendiri mendengar kejujuran dari Pak Richard, kalau dia pernah berkecimpung dalam dunia yang kotor, dunia hitam kelam, kehidupan bebas, main perempuan, mabuk, dan menghabiskan semua harta dunia yang dia miliki untuk kesenangannya, sampai dengan orangtuanya juga tidak begitu harmonis."
Pak Haji Marzuki tertegun, ternyata Ameera telah tahu semuanya. Baru kali ini Haji Marzuki mendengar Ameera bicara begitu tegas dengan pendapat dan prinsipnya.
Ameera putrinya sudah dewasa, bisa bicara dengan baik menyampaikan semua uneg-unegnya, pendapat dan prinsipnya, Ameera begitu matang dalam mengambil keputusan dan masalah rumahtangganya membuatnya dewasa dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
"Tapi bagiku akan lebih baik saat seseorang itu datang waktunya untuk bertaubat dan meninggalkan segalanya, merubah diri ke arah yang lebih baik walaupun setapak demi setapak dari pada seseorang yang tampak baik dan alim pada kenyataannya penuh kemunafikan."
__ADS_1
Ameera nada bicaranya seperti ada kemarahan pada sosok suaminya Fathir Fadil Hikmawan, memang dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, punya jabatan tinggi, dalam agama begitu idealis, alim dalam kehidupan sehari-hari tetapi dalam bersikap dan berpikir Ameera menilai tidak ada apa-apanya hanya sebatas nol besar.
Pak Haji Marzuki diam, memang mengiyakan semua yang diucapkan Ameera yang tadinya dirinya berharap banyak bisa mendekatkan tali persahabatan dengan perjodohan Ameera dan Fathir, tetapi pada kenyataannya semua berakhir dengan rasa yang jauh dari perkiraan Ameera.
"Maafkan Bapak Ameera, soal Pak Bagas soal Pak Richard anggap saja itu untuk kehati-hatian dan pilihlah yang terbaik diantara keduanya atau juga bagi yang lainnya nanti. Bapak percaya sepenuhnya sama kamu kalau kamu akan mencari seorang sosok yang sangat ideal dan pantas untuk kamu cintai."
Ameera meraih kedua tangan Haji Marzuki lalu menciumnya dengan penuh perasaan sayang.
"Ameera tak ingin gagal dua kali Pak, jadi Ameera akan lebih hati-hati lagi dalam memilih dan menentukan pilihan agar langkah kedepannya tak ada sesal lagi."
Pak Haji Marzuki mengusap pundak putri kesayangannya, yang serasa melihat istrinya saat muda dulu, teriring harapan dari dalam hatinya Semoga Ameera mendapatkan seorang pendamping yang cocok dengan dirinya, punya misi yang sama untuk membangun masa depan yang lebih baik, seorang yang menjadi imam dalam keluarganya dan menjadi panutan dalam lingkungan sekitarnya.
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Blurb :
Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.
Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.
Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.
Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya.
__ADS_1