
Asisten Hanna pergi ke salon langganan yang di sebutkan Annet, memastikan apa Annet benar ada di dalam?
Kerjaan asisten Hanna memang begitu, mencari tahu siapapun orang yang ada di lingkungan Bos Richard, tak perduli siapapun baik itu teman kerja, relasi kerja, tamu hotel, tamu klab malam, apalagi teman dekat Bos yang biasa di bawa masuk kamarnya.
Semakin tinggi status sosial yang di ciptakan Richard sendiri, semakin takut dirinya di manfaatkan orang, di celakain orang, makanya Richard punya Hanna yang kelihatan kerjanya sepele tapi tahu seluk-beluk orang-orang di sekitar Bosnya berada.
Hanna kelihatan hanya wanita sudah dewasa dan berumur biasa tapi Richard telah melatihnya untuk jadi pelindungnya, sama seperti Benny ada ikrar diantara mereka bertiga sejak awal perusahaan Richard mulai setapak demi setapak beranjak maju.
Richard sangat mengandalkan Hanna dan Benny, bahkan Richard selalu mengikuti apa yang di sarankan Hanna seperti harus begini, dan jangan begitu pendapat Benny dan Hanna selalu jadi bahan pertimbangannya.
"Annet ada di sini Mbak!" Jawab pengelola salon yang di telephon Hanna.
"Nggak apa-apa kalau memang ada di situ, tadi datangnya sendiri kan?"
"Berdua Mbak, sama seorang laki-laki."
"Laki-laki?" Hanna agak kaget.
"Ya, mungkin pacarnya karena mereka terlihat lengket."
"Sekarang masih ada di situ?"
"Masih, mungkin nemenin sampai Annet kelar melakukan perawatan."
"Oke, cukup!"
Hanna memutuskan sambungan telephon dengan pengelola salon itu, menyisakan pertanyaan di dalam hatinya.
'Siapa laki-laki itu, benarkah pacarnya? harus di cari tahu siapa orang itu jangan sampai jadi ancaman yang serius.'
Setiap orang luar yang datang pada lingkaran kehidupan Richard harus lulus kriteria, tidak membawa ancaman dan ketentraman kehidupan Richard dan The Rich Hotel itu sendiri.
Hanna biasa kerja dengan rapih dan bersih, di selidiki dulu sampai tahu yang sebenarnya, diomongin sampai mengerti, lanjut ke
__ADS_1
ancaman seandainya kecurigaan itu ada dasarnya dan memang mengancam.
Kenapa setiap ada keganjilan Hanna selalu merasa nggak tenang?
Pasti nanti akan ada interogasi pada Annet. Hanna menjalankan mobilnya kembali ke hotel dan masuk ruangan kerjanya.
"Ben, katanya keluar sama Bos?"
"Nggak, Bos hanya ingin pergi sendiri mau bertemu teman lamanya Jody"
"Oh, Jody yang waktu malam itu kata lo ngobrol sama temannya Annet yang penyanyi itu? Loka namanya kan?"
"Janeeta ada kecenderungan permainan kepentingan pribadi, tapi kalau sebatas wajar masih bisa tolerir."
"Seperti apa?" Benny menatap Hanna.
"Sepertinya dia punya pacar di belakang Bos Richard."
"Tapi jangan menciptakan masalah, selama dia masih butuh Bos kita. Carilah kenyamanan buat semuanya."
"Berada di dekat Bos Richard memang nyaman? haaa ... semua kamuflase, omong kosong dan hanya formalitas."
"Kenapa kamu bicara begitu Bang?" Hanna memandang laki-laki yang sama setianya bersama dirinya di perusahaan The Rich Hotel.
"Gue bukan ingin di hargai Han, tapi cobalah kalau di depan gue jaga sedikit kemesraan mereka, gue juga tahu kalau di ruangan tertutup mereka berdua mau salto jungkir balik juga mana gue perduli!" Benny seperti mengadukan permasalahannya pada Hanna.
"Haaa ... kapan Bos Rich akan tobat dan bener hidupnya? malah gue pernah masuk kamarnya Bang, sama tim kebersihan kamar, mereka cuek aja tidur pelukan gitu, mending kalau pakai baju? gue nggak sanggup keluar lagi sama tim kebersihan, tahu nggak? kamarnya di bersihkan habis ashar!"
"Sebagainya laki-laki normal gue kadang gimana gitu? mau protes dia Bos gue, mau marah bukan satu solusi, mau ikutan gue nggak punya pasangan."
Hanna tersenyum mendengar jawaban Benny hatinya menyimpan tanya yang belum terjawab.
'Kenapa Benny begitu dingin pada lawan jenisnya, apa ada trauma dalam hidupnya atau sekali ingin yang serius dan jadi naik pelaminan?''
__ADS_1
"Di satu sisi kita nyaman dengan pekerjaan ini, tapi di satu sisi makan hati heee ...." Benny merasa lucu dan terkekeh sendiri.
"Abang belum mulai melirik, dan ingin merasakan seperti nyamannya Bos Richard?" Hanna melirik wajah simpatik agak jauh di sampingnya.
"A-aku? nggak dulu, masih banyak yang harus aku selesaikan sebelum membina satu hubungan yang serius." jawab Benny agak tergagap.
Hanna tahu Benny begitu simpatik, pembawaannya kalem dan otaknya encer, dirinya begitu mengagumi sosok pria dewasa yang menjadi rekan kerjanya sejak lama, tapi Hanna tak berani berharap apa-apa, Hanna sadar kalau dirinya hanya seorang janda cerai karena beda prinsip dalam rumahtangganya.
Terkadang perhatian Benny pada dirinya sangat tak bisa di mengerti, seperti membawa oleh-oleh saat habis keluar kota, atau saat diskusi dan ngobrol tentang pekerjaan kadang Benny mengusap punggungnya semua itu di rasa Hanna sangat aneh.
Ingin rasanya Hanna mengartikan perhatian itu dengan khusus, tapi apa semua itu cukup menyiratkan satu kesimpulan?
Hanna hanya bisa mencuri pandang pada laki-laki tinggi gede itu, menelisik tiap sudut mukanya yang menarik dengan hidung mancung garis wajah tegas tampan kokoh. Pakaian Benny punya ciri khas sendiri senang mengenakan rompi di luar baju kemejanya, baik rompi wartawan dengan saku yang banyak atau juga rompi rajut.
Benny begitu ideal seorang laki-laki dewasa yang mapan. Kerja dengan jujur dan tulus menjadikan Bos Richard sangat menghargainya.
Hingga Vanny teman Bos Richard selalu menanyakannya, dan ingin mendapat sedikit perhatian Benny, kalau saja Benny mau.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
- Meniti Pelangi
- Pesona Aryanti
- Biarkan Aku Memilih
- Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1