
Ameera berkeliling di lantai dua vila idamannya seperti Putri Salju saja berjalan dengan antusias sambil mengangkat kedua sisi gaun pengantinnya. Richard memandangnya takjub. Membiarkan istrinya melihat semua isi dan perabotan sudah tertata rapi di lantai atas juga tadi di lantai bawah.
Lantai atas hanya satu kamar besar spesial dan ruang santai juga balkon teras depan dan memang diperuntukkan untuk istirahat liburan dan bersantai, kamar dengan di kelilingi kaca super besar menjanjikan dan menyajikan pemandangan dari dua arah terbit dan terbenam matahari dengan gorden setinggi langit-langit begitu megah dan elegan kelihatannya.
Terlihat kecil tempat tidur ukuran besar di ruangan kamar megah itu dengan perabotan yang belum banyak mengisi kamar itu.
"Rich, siapa yang selesaikan dan menata semua ini?" seru Ameera dengan senangnya.
"Aku lah, kamu sibuk dengan urusanmu sendiri." jawab Richard kalem.
"Makasih suamiku sayang, walau aku nggak percaya semua ini kamu yang kerjain." canda Ameera sambil menghampiri Richard yang mematung di tengah ruangan.
"Walau aku bukan yang kerjain semuanya, tapi semua atas perintahku, kamu nggak melihat kamar pengantinnya?" ucap Richard sambil mendekat dan meraih pinggang Ameera. Mereka berjalan bersama membuka pintu dan tampak pemandangan indah di hadapannya.
Langit merah merona di ujung titik pandang, dengan gorden tipis penghalangnya yang tersibak, tempat tidur big size dengan taburan bunga melati dan mawar putih di atasnya, wangi harum aroma terapi dari lilin yang terpasang di dinding kamar yang redup tanpa sinar lampu pijar, hanya pantulan dari langit senja temaram yang masuk lewat kaca penghalangnya.
Ameera melirik Richard yang sama kayak dirinya begitu terpesona dengan semuanya, sadar dengan keadaan Ameera meraih tangan Richard dan menciumnya.
"Makasih Rich suamiku sayang atas semua persembahan ini, aku begitu bahagia dan suka dengan semuanya!" Ameera berada di hadapan Richard.
__ADS_1
"Kamu nggak jadi marahnya karena aku culik?" tanya Richard membelai pipi istrinya.
"Aku hanya minta mengambil dulu pakaian buat salin, peralatan mandi sayang, aku nggak marah sama kamu, tapi aku minta maaf padamu Rich!"
"Maaf? untuk apa? apa yang harus aku maafkan?" tanya Richard menatap Ameera sambil memegang dagunya.
Ameera belum sempat menjawab, Richard mulai memeluk Ameera dalam keadaan berdiri dan mendudukkannya di tepi tempat tidur.
Ameera tak menolaknya saat Richard menciuminya dengan sepenuh perasaannya, Richard membuka jasnya sendiri di lempar ke ujung tempat tidur.
Richard hanya berkemeja yang tiga kancingnya sudah berbuka. mencopot dasinya, lalu duduk di samping Ameera, yang mulai mencopot satu persatu penutup kepalanya. Mulai dari roncean melati, kerudung hias yang berbelit-belit dan lapisan dasar penutup kepalanya.
Richard memandangi istrinya dengan perasaannya sendiri yang tak bisa di lukiskan, akan melihat istrinya tanpa penutup sama sekali.
Richard mendekapnya dari belakang begitu kuat dan mencium leher Ameera yang tertutup sebagian rambutnya yang begitu wangi. Tangan Richard mulai membuka resleting gaun pengantin Ameera dengan perlahan
"Richard! aku minta maaf tak bisa memberimu kebahagiaan malam ini!" suara Ameera menghentikan tangan Richard yang mulai menjelajah.
"Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Aku dalam masa akhir datang bulan, makanya waktu kamu bangunkan aku pagi-pagi jam lima aku lagi nggak sholat, jadi aku biasa bangun siang dengan bebas kalau lagi datang bulan!"
"Aaaaaah ... Ameera! kenapa baru sekarang kamu sampaikan? aku begitu lama menunggu saat ini!"
"Rich, jangan kecewa paling dua hari lagi selesai."
"Dua hari lagi? ya ampuuuuun ... itu waktu yang sangat lama dalam penantian Ameera."
Richard melempar tubuhnya ke tempat tidur lalu telungkup diantara kelopak mawar dan melati dengan menahan perasaannya sendiri.
Ameera tersenyum memandang Richard yang begitu tinggi gede tapi kelakuannya selalu merajuk saat keinginannya tak di penuhi.
Ameera mengusap-usap rambut dan kepala Richard perlahan.
"Tapi ini ketentuan Rich, faktanya aku kotor, tak boleh seorang suami mendatangi istri dalam keadaan kotor, walaupun kita sudah sah itu tetap mutlak tidak diperbolehkan, bersabar itu lebih baik, **** memang perayaan cinta terdalam setiap pasangan, tapi selama istri tidak boleh di datangi bukan berarti kita kita tidak boleh ber-kasih sayang, kita masih bisa berpelukan, kita masih bisa berciuman dan bercumbu saling menyentuh tanpa melakukan dosa." Ameera dengan lembut memberikan pengertian pada Richard yang seperti anak kecil ngambek tak di beri izin untuk bermain.
Richard bangun memeluk Ameera dengan lembut, mungkin kata-kata Ameera begitu masuk dan di pahami di hatinya.
"Sayang, maafkan aku. Kamu orang yang mengerti aturan sedang aku orang yang masih belajar dalam segala hal, aku begitu berharap tapi semua tak sesuai yang di harapkan, aku tadinya begitu kecewa padamu tapi kelembutan kata-katamu meluruhkan semua rasa kecewaku."
__ADS_1
Ameera tersenyum mengangguk membelai wajah Richard.
"Gantilah pakaianmu, pilih di lemari yang kamu suka kamu begitu tak nyaman kelihatannya, semua peralatan mandi lengkap sudah ada di kamar mandi, aku akan sabar seperti yang kamu ucapkan sayang!"