Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Lahiran


__ADS_3

"Sabar Sayang, berdo'a jangan merintih begitu Aku jadi nggak tenang ini sudah di Rumahsakit semua sudah di tangani dengan cepat tinggal menunggu waktunya saja." Richard mengelus kepala Ameera yang sudah basah dengan keringat dan mencium keningnya berkali-kali memberi semangat dan dukungan juga bukti kasih sayangnya yang tak terbatas.


Serasa tak mampu menyaksikan beratnya usaha Ameera melewati masa kritisnya, tapi Richard tak mampu apa-apa kalau bisa ingin rasanya menggantikan posisi istrinya biar berbagi rasa dan merasakan penderitaan istrinya.


Richard hanya bisa mengusap usap lengan dan kepala Ameera dan menggenggam erat jemarinya kalau bukan laki-laki mungkin Richard sudah mencucurkan air mata mewakili perasaanya.


Rasa hati Richard tak tega melihat Ameera merintih menahan sakit mulas, keringat bercampur airmata bukti dari perjuangannya, sesekali dokter Reisa SpOG datang mengontrol dan bicara sama Richard.


"Pak Richard tenang prosesnya bagus pembukaannya normal sekarang semakin naik saja pembukaannya, sabar itulah proses melahirkan normal seperti itu semua akan ada akhirnya," ucap dokter menenangkan kegelisahan Richard. Walau sebenarnya tetap saja cemas dan khawatir.


"Jadi kira-kira berapa lama lagi istriku menahan sakitnya Dok? adakah obat untuk mempercepat semuanya?" jawab Richard saking ingin semuanya bisa cepat terlewati.


"Hanya sabar dan tawakal saja Pak Richard, mungkin tidak lama lagi sekarang biar Aku yang dampingi karena mungkin hampir sempurna." Dokter Reisa SpOG yang kebetulan piket malam itu tersenyum melihat kekhawatiran Richard. Begitulah semua suami.


Dr Reisa bicara sama suster yang mendampingi Ameera sejak awal Ameera datang dan memeriksa lagi pembukaannya.


"Kalau bisa tenang Pak Richard boleh di sini menyaksikan tapi kalau merasa panik boleh keluar percayakan penanganan Bu Ameera pada Kami," ucap dr Reisa SpOG pada Richard.


"Tidak dok, Aku ingin suamiku ada di sini!" sahut Ameera di sela sela meringis menahan kontraksi mulasnya.


"Baiklah kalau itu permintaan Bu Ameera."


"Iya Sayang Aku akan ada di sini Sabar ya." ucap Richard sambil memejamkan matanya.


"Suster di sela-sela berhenti kontraksinya tolong di beri minum yang banyak biar jadi tenaga saat waktunya nanti."


"Baik dok."


Tangan Richard sampai biru-biru karena pegangan Ameera begitu kuatnya saat merasakan kontraksi, semua bisa di rasakan Richard bagaimana luar biasanya Ameera merasakan sakitnya.


Bergelut dengan waktu dan rasa sakit tapi Ameera hanya meringis dan berpegangan pada Richard suaminya. Saat di tanya mau dikabari Ibu Bapaknya Ameera hanya menggeleng akhirnya Richard hanya sendiri yang panik, stres, khawatir, takut, dan gelisah tapi Benny sama Hanna sudah dikabari mungkin sudah ada di luar, karena untuk masuk ke ruang persalinan tidak semua anggota keluarga diperbolehkan hanya keluarga inti saja.

__ADS_1


Pagi buta berganti siang dan tepat jam 08:00 suara kencang Bayi terdengar begitu keras dan nyaring mengakhiri pergulatan Ameera dengan rasa sakitnya.


Ameera terkulai lemas kehabisan tenaga dalam pelukan Richard yang menitikkan airmata dan Ameera terisak bahagia.


"Rich, kabari orangtuaku!"


"Baik Sayang, Benny sudah Aku suruh mungkin mereka lagi panik tapi di sini semuanya sudah selesai," sahut Richard dengan tersenyum bahagia.


"Pak Richard Alhamdulillah semua berjalan lancar, bayinya laki-laki lagi di bersihkan dokter dan di periksa. Bu Ameera mau di bersihkan juga silahkan tunggu di luar nanti kalau sudah selesai mau di pindahkan ke ruang perawatan Kami kabari lagi."


"Baik Suster."


Richard memandang Ameera yang tersenyum dan mengangguk Richard sekali lagi mencium kening istrinya.


"Selamat ya Sayang kini Kamu sudah jadi Mama dan Aku jadi Papa."


Richard keluar meninggalkan Ameera yang masih tersenyum memandang punggungnya.


"Aku stres sendiri Ben soalnya Ameera nggak mau kabari siapapun pengennya di kabari kalau sudah lahir," ucap Richard sambil duduk di kursi ruang tunggu menghembuskan nafas berat sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya di sandaran kursi menggambarkan perasaan yang telah lepas karena telah melewati masa terberatnya.


"Memang jam berapa mulai terasa mulasnya?" tanya Hanna yang duduk di samping Richard.


Dari mau tidur katanya tapi mulasnya hanya selentingan dan celekit sedikit sedikit dan hilang lagi katanya pas subuh baru Ameera bangunkan Aku jelas Aku panik lah Ameera sudah banjir keringat mungkin tidur hanya sebentar sebentar akhirnya Aku bawa langsung ke sini kurang lebih 4 jam akhirnya lahir juga Richard junior!"


"Lagian kenapa nginep di villa?" ucap Benny merasa kalau Richard tak perhitungan.


"Aku sudah larang Benny, tapi tega menentang istri yang lagi hamil? Ameera menginginkan nginep semalam saja katanya soalnya nanti kalau sudah lahiran pasti lama lagi kalau mau nginep di sana."


"Iya yang penting semua Alhamdulillah lancar," ucap Benny sambil menepuk pundak sahabatnya.


"Alhamdulillah Benny semuanya begitu tak Aku kira terutama kesabaran Ameera yang luar biasa, Aku jadi semakin cinta saja sama istriku yang Aku kagum saat terakhir mau lahiran Ameera masih mengizinkan Aku membuka jalan lahir jagoanku sehari itu. Kami main terus dari malamnya pagi sampai siang hanya malam tadi saja Ameera bilang capek akhirnya Aku tidur ternyata Ameera sudah selentingan mulas, tapi janjinya pagi ini eh malah kasih Aku bayi hehehe...."

__ADS_1


Benny hanya nyengir dan Hanna melotot pada Richard yang terkekeh sendiri.


Richard bermaksud melepaskan ketegangan dengan tertawa.


"Ih dasar Bos mesum obrolannya tak jauh dari kata main, selamat puasa dari mulai sekarang!" timpal Hanna di sambut tertawa Benny juga Richard.


"Masih banyak sabun Hanna!" jawab Richard sambil tertawa sama Benny.


"Kalian nggak di mana nggak di mana kalau sudah ketemu sama saja gilanya!" gerutu Hanna sambil bangkit berjalan ke luar karena kelihatan ada orangtua Ameera yang baru datang.


"Serius Bos masih enak main sampai masanya mau lahiran?"


"Aku sama Ameera nggak ada masalah sama-sama enak kok buktinya Ameera lancar lahirannya karena selalu Aku buka jalan lahirnya."


"Ssssst... mertua Bos datang." ucap Benny sambil berdiri saat Haji Marzuki dan Ibu Hj Salamah datang dengan tergopoh gopoh.


"Nak Richard kok kasih kabar saat cucu Ibu sudah lahir kenapa?"


Richard mencium tangan Haji Marzuki dan Ibu Hj Salamah.


"Ameera Bu yang menginginkan tak mengabari Ibu sama Bapak biar audah lahir saja katanya."


"Gimana Ameera sehat? cucu Ibu laki-laki kan? ini masih di mana?"


"Alhamdulillah Bu iya laki-laki, Ameera sehat cuma masih lemas saja sebentar lagi di pindahkan ke ruang perawatan," jawab Richard.


Haji Marzuki mengangguk-angguk mendengar obrolan istri sama menantunya. Lalu ikut duduk di samping istrinya.


*******


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2