Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Care sahabat


__ADS_3

"Maafkan gue Rich, tapi setidaknya gue ingin memberi manfaat sebagai sahabat lo." Jody menggeser kan minuman Richard yang belum di sentuh.


"Gue memang harus berpikir matang Jody, gue jadi ingin berpikir dan berpikir lagi semoga menjadi semakin matang dalam mengambil keputusan."


"Sudah seharusnya begitu Rich, gimana kalau kita sama-sama mencari pasangan buat masa depan kita? siapa yang duluan diantara kita punya pasangan itu juaranya, dan jadi acuan buat kita lebih serius lagi untuk berubah."


"Siap, tapi sepertinya gue perlu adaptasi lama Jody, tapi yang pasti gue di dukung banget sama kedua orangtua, mereka semenjak lama mengharapkan gue berubah, punya keluarga dan hidup dalam satu pernikahan tapi entah kenapa nasehat mereka tidak gue pahami malah masukan dari lo sekarang yang masuk di hati gue."


Jody tertawa menatap wajah sahabatnya sambil menepuk-nepuk pundak nya memberi kekuatan support dan dukungan.


"Sebenarnya bukan ajakan gue Rich, tapi panggilan hati lo yang sekarang sudah sampai pada waktunya. Juga kejenuhan lo menjalani kehidupan yang begitu-begitu saja nggak ada ujungnya." Jodi meyakinkan sahabatnya.


Richard memandang sahabatnya Jody seperti tak percaya. Obrolan Jody dan keinginannya berubah ke arah yang lebih baik lagi jadi sekejap merubah prinsip hidupnya juga.


Jody yang dianggap Richard lebih berantakan dari hidupnya tapi dia bisa bicara dewasa, sanggup mengendalikan egonya sendiri, mampu mengendalikan nafsunya dan dia bisa punya motivasi hidup lebih baik dari yang dirinya jalani dari waktu ke waktu ke belakangnya.


"Jody gue mengalami kemunduran dalam hidup gue, walau secara karir dan status sosial juga materi semakin meningkat, tapi hidup gue bobrok, tandus, gersang, keropos dan gembos seperti tak memiliki makna." Richard seperti tersadar dari keterpurukannya.


"Obatnya adalah rumahtangga itu sobat! gue percis mengalami masa itu dulu, dalam hidup gue nggak pernah ada airmata tapi saat melihat istri gue melahirkan dan mendengar tangis pertama anak gue sumpah gue menitikkan air mata, lo rasakan itu suatu saat nanti, bagaimana sebuah hubungan pertalian pernikahan dan ikatan rumahtangga sanggup membuat kita berpikir melakukan apapun hal yang jelek Rich."


Richard terpekur dalam diam dengan tatapan kosong. Apa yang harus di lakukannya sungguh bukan soal yang mudah, harus di mulai dari mana Richard tidak tahu.

__ADS_1


"Gue mengalami kejadian aneh Jodi akhir-akhir ini, seperti merasa kesepian tinggal di tempat nyaman gue saat sendiri.


Pernah gue bangun malam-malam dengan mimpi aneh banget entah itu dari manifestasi dari pikiran gue, bangun tengah malam tak bisa tidur lagi sampai pagi." Richard mulai terbuka akan kegelisahan hatinya.


"Kegelisahan lo sama seperti gue Richard, walaupun gue pernah berkali mengalami hidup dalam satu ikatan rumah tangga walaupun semuanya gagal tidak bisa gue pertahankan, mungkin saatnya kita merubah haluan jalan hidup kita dan kita sudah di beri sinyal kesadaran untuk memulainya."


"Lo sudah punya incaran untuk di jadikan istri lo?" Richard memandang Jody tanpa ekspresi.


"Ya itu temannya Si Annet, Loka. Gue suka kepribadiannya, prinsipnya juga satu lagi nyanyinya, heee .... tapi gue belum jauh mengenal dia tapi bukan masalah semua akan gue jalani dengan senatural mungkin."


"Secepat itu? apa karena dia mengaku masih virgin?" Richard mengerutkan dahinya.


"Gue suka dia, dan gue merasa tertantang untuk bisa mendekatinya sampai bisa mengatakan niat dan tujuan gue, masalah virgin itu bukan satu hal yang harus, asal sama-sama punya niat baik kedepannya itu yang terpenting . Kalau lo sama Si Annet seperti apa? ada kemungkinan bisa serius?"


"Masa lo nggak tahu? bukankan lo sudah hidup luar dalam, pasti tahu sampai sedetil detilnya?"


"Gue berhubungan dengan Annet atas perjanjian, gue suka tubuh mulusnya, yang lainnya tak jadi perhatian gue, asal gue mau dia ada itu sudah cukup!"


"Astaga, sadis amat hidup lo Rich, sampai segitunya lo perlakukan cewek lo, asal mulus cantik ada lobang nya itu aja yang lo nikmatin, bener-bener hidup lo sudah jauh tersesat."


"Tapi semua cewek suka, kehangatan gue sama duit gue, apalagi?"

__ADS_1


"Sudah-sudah, itu tidak benar sobat, semua harus di luruskan sebelum otak lo jadi ancur, minum dulu minuman lo biar kerongkongan lo nggak kering seperti perjalanan hidup lo kering! haaa ...."


"Serius Jody, apa yang harus gue lakukan dalam langkah awal gue?"


"Tinggalkan perempuan tanpa kecuali, coba hidup tanpa cewek karena itu adalah sumber dari segala sumber permasalahan. Kalau tidak bisa pelan-pelan saja dulu, ini persoalan serius yang harus lo kendalikan. Lalu bayangkan cewek idaman yang lo harapkan walau dalam khayalan saja dulu. Sudah itu aja, jalani kalau sudah bisa lo lakukan konsultasi lagi sama gue!"


"Waduh ... gue hidup tanpa cewek? tanpa lobang? gue biasa tidur di dada empuk, tanpa men-charge jagoan kesayangan gue, mengasah pedang yang biasa gue lakukan sehari semalam seperti minum obat tiga kali gimana ini?"


"Haaa ... belum di jalani sudah ngeluh, bayangkan cewek idaman lo, hidup normal alihkan hasrat lo pada hal yang bermanfaat seperti nge-gym dan olahraga juga fokus pada pekerjaan lainnya, jangan biarkan kesendirian lo menggiring kembali pada keinginan yang menjerumuskan hidup lo!"


"Sepertinya bagus kedengarannya Jody, tetapi mungkin begitu sulit untuk gue jalani. Tapi gue akan mencoba orang lain bisa kenapa gue tidak? suatu keinginan selalu ingin gue realisasikan seperti keinginan gue yang satu ini."


"Itu yang ingin gue dengar dari lo sobat! semangat perubahan, kalau lo kesepian jangan lari lagi pada perempuan panggil gue kita ngopi sampai oleng dan bernostalgia dengan cerita masa lalu kita."


"Oke, gue telah memaknai obrolan ini Jody, lo bagi gue sekarang adalah orang yang sangat luar biasa, memberi pengaruh perubahan pada diri gue. Nggak tahu kalau nggak ketemu loh mungkin tak sedikitpun pikiran gue tersentuh."


Richard pamitan dari cafe mereka ngobrol lama, Jody juga sama beranjak mau pulang juga, mereka pisah di parkiran. Jody emang luar biasa, begitu care begitu setia kawan tak mau melihat dirinya semakin dalam terjerumus dalam kehinaan.


Jauh di lubuk hati Richard yang terbayang adalah kedua orang tuanya yang pasti mereka sangat bahagia seandainya mereka tahu dirinya telah berubah walaupun semua itu belum bisa di jalani. Seperti apa menjalaninya Richard tidak tahu, yang pasti punya niat ingin merubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi.


*****

__ADS_1


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



__ADS_2