Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Sambung senja


__ADS_3

Ameera belum sempat merentangkan tangannya belum mengiyakan janji Richard tapi semua telah Richard tumpahkan lebih dulu saat itu. Sesaat berdua berpelukan erat tanpa kata seakan tak ingin berpisah lagi.


"Sayang maafkan Aku! kenapa Kamu tak memberi kesempatan padaku untuk meluruskan semua itu malah berlarut larut ...." Richard bicara sambil menyusuri leher dan wajah Ameera dengan rakusnya.


"Aku hanya ingin melihat keseriusan mu Sayang apa semua itu benar atau sekedar alasan saja!" Ameera memasukkan tangannya ke dalam kemeja suaminya dan perlahan membuka kancingnya satu persatu.


"Ah, Ameera Aku bisa gila kalau harus menunggu lebih lama lagi. Aku begitu merindukan dan bisa lebih gila lagu kalau mengingat tubuhmu ...." sekilat Richard membuka kemejanya dan melemparnya sembarangan.


Richard kembali menyusuri menyasar habis muka dan leher Ameera melepaskan semua beban yang mengganjal dalam dadanya selama ini. Mencengkram kuat menenggelamkan kepala sang istri di dada bidangnya yang sesekali menciumnya dengan sepenuh perasaannya.


"Ah, Ameera Aku begitu merindukanmu!" Richard menemukan belahan dada istrinya yang masih begitu mekar dan lama di situ sampai Akhirnya Ameera melenguh dengan perasaan geleyar yang menagih rasanya.


"Pap sakit ah ...." desis Ameera dengan memegang kencang pangkal lengan suaminya.


"Tapi Aku kangen dan suka berada di sini Sayang," Richard masih saja menciumi leher istrinya sampai ke dadanya hingga Ameera menggelinjang hebat.


"Pap!"

__ADS_1


"Iya, kenapa Sayang Aku masih belum puas biarkan Aku lepaskan dulu rasa ini." ucap Richard masih dalam posisi berdiri dan Ameera bersandar ke dinding berdua seperti lupa diri saling melepaskan beban yang ada dalam dada mereka.


Tanpa ragu Richard menikmati keranuman yang kini berisi cairan putih bergizi di dada Ameera dan Ameera membiarkan suaminya puas di situ. Ameera hanya mendesah dengan nikmatnya.


"Pap, ah sudah!"


"Kenapa Sayang?"


"Itu pintu semua nggak di tutup!"


"Oh, ya ampun. Untung Kamu ingatkan Sayang," Richard melepaskan kuncup kecoklatan yang tadi di emot Richie.


Dengan mata sayu Richard memandang Istrinya yang selama ini hampir gila karena merindukannya sekarang ada di depannya dan seperti ingin segera menerkamnya.


"Pap ... Mama juga kangen ini!" tangan Ameera ternyata sudah piknik duluan mengusap-usap sesuatu yang mengeras tak terbendung di bawah perut Richard.


"Ah, Mama Sayang, Kamu nakal ternyata! itu semua sudah Aku perkirakan pasti nggak bisa tidur kalau tidak memegang itu," ucap Richard menahan tangan Ameera tetap berada di situ.

__ADS_1


"Mama Sayang celup sebentar ya, boleh kan biar tenang dan tidak berontak terus ...." ucap Richard tepat di telinga Ameera sambil mengendus anak rambut di situ hingga Ameera kegelian.


"Nggak ah, nanti saja Aku sudah mandi sebentar lagi Maghrib." jawab Ameera sambil melepaskan tangannya tapi Richard menahannya malah melepaskan pakaiannya sendiri dan menarik tali piyama Ameera.


"Sayang bukankah Kamu mau memandang matahari terbit dan tenggelam juga menikmati senja? mungkin ini kesempatan Kita," Richard mengalihkan.


Akhirnya Ameera tak bisa menolak, cengkraman Richard yang sudah panas dan kuat tak bisa dengan mudah di padamkan.


Richard dengan hati-hati merebahkan istrinya agak jauh dari samping Richie tidur, mereka seperti lupa diri padahal semua adegan itu sudah beribu kali mereka lakukan tapi semua menagih dan malah kalau lama tak bertemu seperti ini jadinya sama sama tidak bisa menahan lagi muanya segera di selesaikan.


"Pap berdo'a dulu dan hati-hati ...."


"Iya siap Sayang, Ah Ameera Aku seperti mimpi saja!"


Richard memandang lukisan indah yang terbentang di hadapannya dengan kegagahannya siap di taklukan dengan perasaan yang sudah tak tertahankan lagi.


********

__ADS_1


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2