Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Niat tulus Richard


__ADS_3

"Ameera apalagi yang di tunggu? tolong di cancel lagi jangan selesai proyek dulu baru kita akan serius." kata Richard saat mereka masuk ke tempat tinggal Richard dan duduk di sofa sudut ruangan.


"Iya, iya Richard, kamu kok jadi orang yang memaksa juga sih?" jawab Ameera menyindir Richard.


Pikiran Ameera masih kacau, peristiwa yang baru saja terjadi mau tidak mau membuat hatinya terluka,


"Haaaaaaaa ... beda dong memaksa yang tidak suka sama memaksa yang suka sama suka."


Richard spontan memeluk Ameera, Ameera hanya diam saja tidak seperti biasanya selalu meronta dan berontak saat dirinya peluk.


Yang baru saja terjadi membuat hatinya tak tenang dan sakit, walaupun Fathir mantan suaminya pantas mendapatkan semuanya, tapi hati Ameera tak tega melihat Fathir babak belur dan meminta maaf pada dirinya


"Apa kamu merasa lega sekarang?" Richard memandang Ameera dengan senyuman khasnya.


Ameera mengangguk sambil memperlihatkan giginya yang putih bersih.


"Mau aku beri obat biar tambah lega lagi?"


Belum sempat Ameera menjawab bibir Richard sudah duluan menyergap bibir mungil Ameera, dan melahapnya perlahan begitu lembut penuh kerinduan.


"Rich! ah, kamu sama saja kalau soal memaksa!" sergah Ameera sedikit menolak.


"Ameera diam sayang aku nggak akan menyakiti kamu, aku ingin segera meminang kamu, dan mejadikan kamu istriku, aku selalu kangen sama kamu"


Begitu berat rasanya tantangan Ameera saat ini, di tengah suasana hati yang lagi kacau Ameera begitu tak bisa menolak saat Richard menyentuhnya dengan kelembutan dan kehangatan.


Tak ada pilihan lain selain menikmatinya, saat berduaan juga sudah berdosa, Ameera begitu bimbang dan dilema semuanya begitu mudah dirinya jatuh ke pelukan laki-laki ini. Ameera tak habis pikir dengan dirinya, pesona Richard begitu mengganggunya.


Tak ada pilihan lain selain harus segera Richard bisa meminangnya. Ameera begitu takut semua tak berbatas lagi, pertahanannya selama ini bisa roboh dengan sendirinya.


Richard begitu tangguh dan kokoh untuk jadi sandaran hidupnya, selain fisik yang begitu ideal di tunjang dengan segala fasilitas mencerminkan kemapanan dirinya


"Pasti Bapakku banyak pertanyaan, apa kamu siap menjawabnya?" Ameera mendorong tubuh tegap Richard yang menghimpitnya.


"Apapun aku siap! jangankan hanya pertanyaan, tak ada rumusnya kan seperti kimia?"


"Emang pertanyaan ujian apa?" jawab Ameera menanggapI jawaban bercanda Richard


"Seperti apa kira-kira pertanyaan yang akan di berikan saat aku melamarmu sayang?"


"Aku nggak tahu Richard, yang pasti seputar tanggungjawab, sebagai individu pada diri sendiri, tanggungjawab keluarga, pada kedua orangtua pada lingkungan dan juga mungkin seputar agama yang sangat dasar."


"Seperti apa Ameera? sungguh aku akan belajar dulu sebelum aku di uji dengan pertanyaan Bapakmu, kasih bocoran dong!"

__ADS_1


"Kamu kan seorang muslim sudahkan melakukan kewajiban sebagai muslim sejati? menjalankan perintah Nya dan menjauhkan larangannya? Islam ada rukunnya, dan Iman juga ada urutannya yang semua mesti di yakini dan di jalani."


"Ameera jujur ibadah aku masih bolong-bolong, tapi aku ingin mendahulukan ibadah lain biar hidupku tenang., kami ngerti kan?"


"Kamu bisa aja Rich, sudah bisa do'a nya?"


"Do'a apa?"


"Do'a suami istri, Richard."


"Aku baru hafal do'a sebelum tidur saja, kalau do'a tidur sama istri aku belum bisa, nanti kamu ajarkan ya!"


"Baru bisa doa mau tidur? kalau bangunnya sudah bisa?" Ameera merasa lucu mendengar pengakuan jujur Richard.


"Belum."


Ameera tersenyum, "Richard aku mau minum boleh?"


"Astaghfirullahaladzim, boleh banget sayang masa aku sibuk saja dengan yang lain, sedang kamu kehausan."


Richard bangkit menghampiri kulkas mengambil minuman kaleng dingin rendah soda. menyodorkan satu kaleng pada Ameera.


Mereka menikmatinya bersama.


"Apa aja yang menjadi kesukaanmu, biar nanti Hanna yang isi dan aku bisa pesankan."


"Nggak usah, aku malah sukanya air mineral biasa."


"Ameera, mintalah yang lain, serasa aku nggak bisa memberi kamu kesenangan."


"Aku sudah senang Richard, bisa ngobrol dekat dengan mu, aku bahagia banget, kadang aku begitu bahagia saat kamu menelephon malam-malam, seperti anak kecil ya?"


"Haaa ... ah Ameera, sama! aku juga senang banget juga bahagia saat kamu jawab telephon aku. Rasanya ingin pergi saja ke rumahmu dan memelukmu semalaman." Richard menarik tangan Ameera sehingga Ameera bersandar di pundaknya.


"Sayang, apa sebaiknya kita ke Bandung dulu? kerumahnya orangtuaku? apa aku bicara dulu pada Bapakmu?" Richard begitu tak sabar.


"Rasanya akan lebih bijaksana kalau kita bicara sama Bapakku dulu, rasanya belum plong kalau belum ada restu Bapakku." jawab Ameera.


"Besok saja ya, aku begitu ingin segera mendengar pertanyaan dan jawaban beliau."


Ameera merasa takut Bapaknya mempersulit semuanya


"Antar aku pulang sekarang Rich, jangan mempersulit keadaanku, tunjukan niat baikmu."

__ADS_1


"Ameera? benarkah itu? ya ampuuuuun, dengan senang hati aku akan mengantarmu sayang, aku malah takut kalau kamu nginap di sini, kita sama-sama lupa diri."


"Emang siapa yang mau nginap di sini? aku hanya ingin tenang disini dan menghindari sementara semua yang terjadi sore tadi, tapi di sini malah semakin nggak tenang berduaan sama kamu Rich!"


"Jangan bilang begitu sayang, aku tak akan berbuat yang tidak tidak, aku terlalu mencintaimu semua ingin aku jaga, perjuangan selama ini tak ingin sia-sia."


"Aku percaya padamu Richard, tolong yakinkan juga kedua orangtuaku."


"Baik Ameera, tapi tolong beri tahu aku caranya, biar aku tidak salah langkah."


"Ayo antar aku pulang sampai rumah, perlihatkan sikap dewasa mu, orangtuaku sudah tahu hubungan kita tapi kalau tidak ada ucap darimu mereka tak akan menganggapnya serius."


"Apa aku perlu ajak Benny?"


"Buat apa?"


"Takut Bapakmu perlu di yakinkan dengan orang terdekatku, barangkali ada yang mau di tanyakan sama dia."


"Yang mau menginginkan aku itu siapa? kamu apa Benny? ya kamu dulu biasakan datang ke rumah sendiri, nanti kalau kamu sudah mantap datang bawa orangtuamu dan orang terdekatmu, baru kalau kita nanti mau menikah bawa semua karyawan mu, semuanya juga boleh! menikah itu sesuatu hal yang bahagia dan harus ada saksi dan bila mungkin harus di umumkan karena untuk menjaga fitnah."


"Aku bingung Ameera, baru kali ini aku merasa cemas dan takut, menghadapi keseriusan kita."


"Kan ada aku Richard, tenang saja. Bapakku bukan macan dan Ibuku bukan singa, mereka orang yang penuh kasih sayang."


"Ameera aku begitu bahagia bisa mengenalmu, bisa membimbingku, dan membawaku pada jalan penuh kebaikan, ayo keburu malam aku antar kamu pulang."


Ameera begitu lega hatinya, telah melihat niat tulus Richard, tidak hanya karena nafsu dan tertarik pada fisiknya semata, tapi hati Richard telah begitu lembut dan luluh oleh rasa cintanya sendiri.


Richard memeluk Ameera dengan penuh sayang sebelum mereka membuka pintu dan pulang.


Ameera begitu pasrah dan menyadari, Richard sandarannya kini, dan siap melangkah bersama melewati segala rintangan.


******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2