Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Khabar menakutkan


__ADS_3

Annet bangun masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, membereskan tempat tidur dan hari ini akan mengikuti apa yang di sarankan Zen.


Annet akan menelephon Jefry dan akan mendengar jawabannya, Annet akan menjelaskan semuanya sejelas jelasnya, karena tak ada alasan lain dirinya harus menikah dengan Zen apapun yang terjadi.


Annet meraih ponselnya, dan mulai mencari satu nama Jefry.


Nada panggil berdering di layar ponsel Annet, memang tak semudah itu dirinya bisa menghubungi Jefry yang mungkin lagi di tengah lautan, tapi setidaknya Annet sudah melakukan panggilan, kalau terbaca nanti pasti Jefry akan balik menghubunginya.


Haruskah hari ini dirinya pulang dan menemui Ibunya? rasanya Annet belum siap, mengabarkan semua tentang dirinya, Annet tahu pasti Ibunya sangat kecewa mungkin marah, Annet tak ingin membuat Ibunya syok.


Sejak awal dirinya meminta izin untuk bekerja Ibunya sudah mewanti-wanti akan segala kemungkinan yang terjadi di dunia hiburan malam, bahkan Annet tak pernah lupa kata-kata Ibunya.


'Annet sayang, semua serba tak terprediksi berada di dunia malam, kamu hati-hati tapi seseorang mengincar kamu, atau malah kamu mengincar seseorang itu sama saja akan terjerumus, makanya Ibu kurang suka kamu terjun ke dunia hiburan walau untuk sekedar cari pengalaman dan menyalurkan hobby bernyanyi kamu.'


Kini semua benar-benar kejadian. Kata-kata orang tua memang tidak ada salahnya, tapi sayang semua itu telah terjadi tak guna Annet menyesal walaupun dirinya telah berhati-hati tetapi pada kenyataan akhirnya kecolongan juga.


Kerja keras berusaha jatuh bangun mendirikan usaha kecilnya, Ibu Annet berharap perubahan dalam ekonomi keluarga kecilnya dan bisa di teruskan semuanya sama Annet anak semata wayangnya, tapi tak membuat Annet tertarik.


Annet lebih memilih jalan yang begitu praktis dan mudah mendapatkan keuntungan. Hidup adalah sebuah pilihan dan pilihan sudah diambil Annet dengan resiko telah diterimanya kini


Annet menyadari dirinya ceroboh, membiarkan Zen menggaulinya tanpa kontrol, mungkin juga dalam keadaan mabuk dan ngantuk.


Yang di khawatirkan Annet bukan soal Jefry atau Ibunya tapi yang selalu menghantuinya adalah istri Zen, yang mungkin tak terima suaminya akan menikah lagi dan telah mengandung anak benih Zen.


Kegelisahannya melanda hati dan perasaan Annet, bimbang menentukan langkah dan pilihan-pilihan yang semuanya serba dilema. Sebaiknya apa dan jalan mana semua masih belum begitu jadi ketetapan hatinya, walaupun pilihan terakhirnya merelakan dirinya menjadi istri kedua Zen

__ADS_1


Mengingat akan kisahnya dengan Richard, Annet seakan tak percaya dirinya begitu mudah dan begitu cepat dicampakkan oleh Richard padahal dari sekian banyak perempuan yang mengisi kehidupan Richard mungkin dirinya yang begitu diistimewakan.


Menjalani kontrak partner ranjang kurang lebih dua bulan menenggelamkan Annet dalam khayalan yang tak berbatas, menjadikan dirinya semakin terobsesi memiliki Richard.


Tapi bagi Richard sendiri ternyata bukan solusi kedamaian seperti yang diharapkannya hatinya. Satu pasangan tetap tapi bukan pasangan yang sah tetap saja memberikan kehausan, mungkin itulah hawa nafsu dunia yang tak pernah tuntas hanya dengan berganti-ganti pasangan.


Annet terkejut saat ponselnya berdering dan melihat Jefri menelepon kembali seperti dugaannya. Annet menarik nafas panjang mengumpulkan kekuatan menyampaikan sesuatu yang tidak diharapkan Jefry juga pasangan lainnya, menyusun kata-kata yang dianggapnya bisa Jefry terima.


"Halo Jef!"


"Halo juga sayang Annet yang begitu aku rindukan, ada apa siang-siang begini telephon? kangen juga?" jawab Jefry memperlihatkan kerinduan yang begitu besar pada sang kekasih


"Jef! kamu baik-baik saja kan? tapi aku tidak dalam keadaan baik." ucap Annet tak begitu bergairah.


"Kenapa? kangen? sabar dong ... aku sekarang lagi berada di perairan Australia bersama penumpang pesiar terbesar, menyenangkan sih tapi tak se-menyenangkan bersamamu."


"Apa? putus? kenapa, ada apa?"


"Pokoknya kita putus, aku akan menikah dengan orang lain, aku akan kembalikan semua uang yang kamu titipkan di rekeningku maaf Jef, ternyata aku tidak bisa setia denganmu, tidak bisa menunggumu lebih lama lagi karena mungkin yang terbaik buatku saat ini adalah menikah." jawab Annet mencoba mempertegas kata-katanya.


"Omong kosong apa yang kamu ucapkan Annet? kamu tak serius kan?"


"Tidak Jef, kali ini aku serius. Aku mohon biarkan aku memilih pilihan hatiku semoga bisa memilih seorang yang lebih baik di banding aku."


"Aku tak terima, apa kurangnya aku Annet? Aku sedang berusaha membangun masa depan kita tunggu kurang lebih setahun lagi kita menikah."

__ADS_1


"Aku tak bisa menunggu Jef!"


"Tapi kenapa?"


"Aku hamil anak calon suamiku, tak ada pilihan lain selain aku menerima dia jadi suamiku."


"Astaga Annet? kamu setega itu padaku?"


"Aku kesepian Jef, aku ketagihan permainan kamu, kamu yang memulai, sedangkan kamu begitu jauh biarkan aku sendiri berbulan-bulan, aku tak sabar menunggumu." jawab Annet jujur apa adanya.


"Aaaaaah... brengsek! tunggu aku akan izin pulang minggu ini."


"Jef? mau apa kamu pulang?"


"Akan aku bunuh orang yang menghamili kamu!"


"Apa dengan cara begitu selesai semuanya?"


"Aku akan selesaikan semuanya, Aku tak suka milikku ada yang mengganggu! lihat saja Annet siapa yang akan menang dalam masalah ini, kamu, aku atau pria yang menghamili kamu?"


"Jef! apa yang akan kamu lakukan?"


"Jef!"


"Jef!"

__ADS_1


"Halo?"


Nit nit nit, sambungan telephon terputus.


__ADS_2