Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Bidadari


__ADS_3

"Mentok Bos! sepertinya nggak ada cara lain kalau harus pelebaran ke luar area hotel." Benny masuk ruangan Richard langsung nyerocos sambil duduk lalu menyimpan tas di meja sofa ruangan itu.


"Kedengarannya nada-nada putus asa Lo Ben? sudah sejauh mana usaha Lo?" Richard memandang Benny.


"Aku sudah berusaha tapi menabrak gunung karang, yang punya vila sebelah orang kaya dan banyak asetnya Bos, aku kemarin datang langsung ke vila sebelah. Masya Allah ketemu bidadari malah di sana."


"Maksud lo apa? lo jadi gagal fokus bawa misi The Rich Hotel? bidadari apaan yang lo maksud?"


"Yang punya vila sebelah adalah H. Marzuki juga pemilik yayasan yang terkenal di daerah sini. Aku ketemu anaknya yang mengelola vila itu kemarin, wow ... gagal fokus, aku kira artis Ibu kota." Benny bicara begitu mengagumi Ameera.


"Jadi anaknya pemilik vila yang lo bilang bidadari itu?" Richard menyunggingkan senyum, baru pertama kali Benny kedengaran ada respon baik pada perempuan.


"Iya Bos ...."


"Lantas alasannya apa, vila itu nggak di jual?"


"Pokoknya nggak di jual, mungkin mereka nggak butuh duit walau aku terus kelitik-kelitik tetap nggak di jual malah dia menawarkan diri kalau The Rich Hotel mau di jual akan di belinya, entah itu sungguhan, bercanda atau hanya menggertak saja."


Brak! suara meja di gebrak dengan kencang, Rich emosi membuat segala yang ada di atas terbanting terpental ballpoint pada berjatuhan jauh, juga vas bunga segar di samping kanan meja kerja Richard pecah juga.


"Apa? sembarangan banget seperti meledek itu orang! siapa yang berkata itu apa H. Marzuki nya apa anaknya yang lo sebut seperti bidadari?"


"Jangan emosi Bos! Ameera yang bicara begitu, kita juga sudah berbohong pada mereka, kalau kita denger dari orang-orang vila itu mau di jual, padahal kita nggak denger dari siapa-siapa, itu akal-akalan kita aja ya kan?"


"Tapi gue pengen tempat itu Ben!"


"Tapi kalau nggak di jual kita bisa apa? vila itu penuh tiap weekend juga sampai nggak tertampung"

__ADS_1


"Gue jadi pengen ketemu sama anaknya yang lo bilang seperti bidadari tapi begitu sombong dan berani meledek gue, bilang kalau The Rich Hotel di jual mau dia beli! emang siapa yang mau jual? sembarangan banget!"


"Itu mungkin bercanda Bos, karena kita juga nggak gugur nggak angin datang tiba-tiba mau beli vila mereka. Mereka juga kaget nggak nawarin nggak apa tiba-tiba datang yang mau beli."


"Pokoknya gue mau sampai mereka menjual sebagian lahan itu, titik!"


"Aku usahain! tapi nggak buru-buru, beri aku waktu Bos harus sedikit sabar."


"Siapa nama pengelola vila itu?"


"Namanya Ameera, dia baik senang dengan kedatanganku sebagai pegawai dari Rich Hotel, malah dia bilang mau juga berkunjung ke sini sebagai balas silaturahmi."


"Tapi Bos nggak boleh jatuh hati, dia sepertinya alim dan taat agama, sopan dan terpelajar, anggun, ayu, lembut dan keibuan."


"Haaaa ... sejak kapan selera Richard jadi rusak heh?"


"Memang benar itu bukan tipe Bos Richard, mungkin itu tipe aku heee ...."


"Boleh, nanti aku beberapa hari ke depan biar telephon dia"


"Tapi coba sambil berpikir cari cara, apapun caranya, lo bisa usahain vila itu di jual, gue kasih lo bonus besar!"


Benny diam, seperti lagi mikir. Begitu sulit masuk ke keluarga yang ekonominya mapan apalagi aset H. Marzuki begitu banyak. Lahan saja masih hektaran, sawah dan perkebunan, vila,dan yayasan dari mulai TK sampai setara SMA, seperti mustahil kalau vila itu mau di jual.


"Aku rasa sulit Bos ...."


"Jangan bicara sulit! tidak ada yang tidak mungkin, lakukan dengan akalmu Benny!" Richard seperti tak sabar.

__ADS_1


"Aku akan maksimalkan berhubungan baik dengan Ameera, tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa hanya usahaku yang akan aku perlihatkan kalau aku sudah berusaha."


"Maaf Benny aku memang terlalu berambisi dengan vila itu, tapi apa yang bisa kita lakukan dengan mengoptimalkan lahan yang kita punya?"


"Menurutku, kalau harus merombak dua kamar nggak masalah, kalau lebih menjanjikan perluasan klab malam."


"Itu jalan terakhir seandainya vila itu nggak di jual Benny." Richard melunak.


"Iya, aku juga faham, bukan aku nggak tergiur bonus besar haaa .... kita coba sama-sama biar tahu seberapa sulit tantangan memenangkan vila itu."


"Oke, aku akan turun tangan, dalam masalah ini mari kita bersama-sama menjadikan vila itu milik kita."


"Apa rencana Bos?"


"Coba cari tahu dulu latar belakang keluarga H Marzuki, asetnya berapa besar dan seberapa peluang kita? adakah celah dan potensi vila itu di jual?"


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏



__ADS_2