Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Alasan Richard


__ADS_3

"Saya belum tahu kesukaan Pak Haji Marzuki, Pak Bagas, hanya sedikit tahu kesukaan Bu Ameera yaitu makanan pedas, jadi saya mengambil jalan tengah saja menu kali ini adalah makanan khas Sunda sesuai domisili kita bagaimana Pak Haji?"


"Boleh banget Pak Richard, memang cocoknya makan siang seperti ini, tapi nggak tahu kalau selera anak muda biasanya suka aneh-aneh heee ...." Pak Haji Marzuki menjawab sambil tertawa.


"Bu Ameera, Pak Bagas kalau mau menu lain boleh kok, apa yang tidak bisa di tempatku untuk semua tamu istimewa, Japanese food? Oriental? Saya panggilkan koki khusus ya?"


"Saya merasa cukup Pak Richard, terimakasih banyak, sepertinya selera saya sama seperti Pak Haji Marzuki." jawab Pak Bagas.


"Saya serius Bu Ameera, Pak Bagas kalau mau menu yang lain boleh minta dan pesan saja, kokinya standby kok. Sementara saya sama Pak Haji lagi kangen bernostalgia menu di meja makan dulu saat kami masih kecil, bukan begitu Pak Haji?" tutur Richard melihat Pak Haji Marzuki begitu antusias mulai menikmati hidangan.


"Sekarang menu yang sudah siap saja Pak Richard, saya suka semuanya pasti menikmatinya, mungkin lain kali saya akan coba menu yang di tawarkan Pak Richard tadi." Ameera menolak dan mulai mengambil makanan yang di sukanya.


"Coba deh, ini asli ayam kampung sangat original rasanya, kalau lagi mood saya bisa habis satu ekor ayam goreng bekakak begini sekali makan, tapi nggak pakai karbohidrat." Richard merekomendasikan makanan yang di sukanya pada Ameera.


"Serius nggak pakai karbohidrat?"


"Heemght ...."


"Pantesan kelihatan begitu energik."


"Maksud kamu?"


"Dimana-mana kalau omnivora itu tangguh, gagah dan kuat bukan?"


"Haaa ... mungkin, tapi semua itu perlu pembuktian, karena aku bukan pemakan daging saja masih jadi pemakan semua, buah sayur, susu dan semua yang bermanfaat buat tubuh."


"Bagus dong, dikira sudah jadi pemakan daging saja!"

__ADS_1


"Ah, kamu bisa aja."


Benny yang makan di samping Pak Bagas mengobrol juga dengan topik lain, hanya Haji Marzuki yang melihat putrinya dan Richard seperti begitu akrabnya.


Ada apa diantara mereka? Pak Haji Marzuki merasa takut kecolongan untuk kedua kalinya walaupun kali ini semuanya akan diserahkan kepada Amira dirinya tidak ikut campur dalam urusan jodoh karena sebagai konsekuensi kemarin kesalahan besar dirinya menjodohkan Ameera terhadap anak sahabatnya sendiri yang berakhir dengan kegagalan.


Tapi Ameera kelihatan begitu bahagia sinar matanya memancarkan kebebasan, walaupun sekarang dirinya ada dalam menjalani masa iddah tetapi Pak Haji Marzuki yakin Ameera bisa membawa diri bisa memilih yang terbaik.


Tapi seandainya pilihan Ameera jatuh pada Richard bukan Pak Bagas yang telah begitu dirinya restui, Haji Marzuki akan sedikit menentangnya karena dirinya harus tahu siapa Richard sebenarnya, siapa keluarganya bagaimana keturunannya, bagaimana agamanya syarat mutlak harus menjadi imam yang baik sebagai panutan dan pemimpin dalam keluarga, sebelum yang lain-lainnya.


"Pak Haji kenapa? kok makannya sudah, nggak nambah?" Richard melihat Haji Marzuki duluan selesai.


"Waduh, sudah Pak Richard, nikmat banget terima kasih banyak telah menjamu kami semua, semoga kebersamaan ini menjadikan kita tetap dalam kebersamaan sampai proyek itu jadi dan kita kelola bersama-sama."


"Aamiin Pak Haji, do'ain juga nih Pak Benny, teman dan rekan kerja andalan saya yang baru beberapa hari melangsungkan pernikahan, semoga lancar segalanya."


"Betul Pak Haji, terima kasih banyak atas doa-doanya semoga Saya dan istri diberi kesehatan dan yang paling utama cepat dikasih keturunan, karena saya sama istri begitu menginginkannya, kami menikah sama-sama sudah dewasa jauh diatas remaja, heee ...."


"Selama bahagia Pak Benny, salam buat Istrinya," ucap Ameera. Begitu juga Pak Bagas sama memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


"Do'ain juga saya Pak Haji semoga cepat menyusul, kasusnya tidak jauh beda sama Pak Benny saya selalu sibuk dalam bekerja, terlalu mandiri menikmati kesendirian hingga lupa usia sendiri, dalam hidup saya hanya ada bekerja dan bekerja sampai saya tidak berani pulang ke rumah orang tua di Bandung karena setiap pulang selalu dijejali dengan nasehat akan harapan mereka untuk segera berumah tangga." ucap Richard, begitu tak di duga Ameera. Richard begitu jujur dalam bicara.


Ameera hanya menunduk sambil memegang gelas minumannya.


"Akan ada saatnya bagi semua orang bertemu dengan jodoh dan pasangannya masing-masing, asal percaya saja kalau jodoh Pati, rezeki itu Allah telah persiapkan bagi setiap makhluk nya."


"Terimakasih Pak Haji, Alhamdulillah acara hari ini mungkin selesai, tapi nanti Pak Benny mau tahu lokasinya boleh saya sama Pak Benny minta diantar Bu Ameera melihat lokasi? bukan begitu Pak Benny?"

__ADS_1


Richard tanpa pemberitahuan langsung menodong Benny, mau tidak mau Benny menyetujuinya.


"Semprul dasar tukang jual orang! demi kepentingan sendirinya, Otak Richard mulai jalan, ingin menghabiskan sisa waktu hari ini bersama Ameera, emang nggak aku baca apa?''


Benny agak ngedumel dalam hatinya, 'Ngapain nemenin orang pacaran? Aku juga bisa main sama istri sekarang kapanpun aku mau!"


"Iya, Pak Haji sepertinya saya perlu tahu lokasinya." jawab Benny.


"Boleh, sama Pak Bagas saja sekalian." Haji Marzuki melirik pada Pak Bagas.


"Aduh maaf, saya ada janji gimana nih Pak Haji? saya jadi nggak bisa nemenin Pak Richard, Pak Benny juga Bu Ameera." Pak Bahas kelihatan menyesal.


"Nggak apa-apa Pak Bagas, lanjutkan saja janjinya kami bisa melihat ke sana bertiga saja."


sahut Richard penuh kemenangan.


*******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2