Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Oh Pak Bagas!


__ADS_3

"Bu Ameera kenapa tak bersama Pak Richard?" sapa Bagas sambil memberi jalan pada Ameera. Bagas kelihatan begitu senang bisa berdua bersama Ameera.


"Pak Richard sudah mewakilkan semuanya, sekarang lagi ada halangan, tak apa kan cuma perubahan di bangunan yang akan menjadi tempat peristirahatan keluarga kami kan?" tutur Ameera tanpa melihat wajah Bagas yang begitu senang Ameera datang ke proyek pagi ini sendirian.


Bagas berusaha berjalan mendampingi Ameera yang berjalan agak lambat karena banyak bebatuan yang lagi di hotmix.


"Perubahan seperti apa yang diinginkan Bu Ameera di bangunan ini?" tanya Bagas begitu teliti dengan apa yang akan di ucapkan Ameera. Bahkan Bagas mencatatnya di buku kecil di tangannya.


"Aku ingin merubah view dari vila ini menjadi dua arah, intinya depan dan belakang menjadi sama, jadi kalau bangun tidur dan mau tidur kita bisa melihat dua arah matahari terbit dan tenggelam dari dua arah vila ini, itu aja Pak Bagas." jawab Ameera.


"Oh, bisa di mengerti Bu Ameera, memang selera Bu Ameera begitu estetika dan berkarakter banget. Tadinya hanya satu arah saja kan?"


"Iya Pak Bagas." Ameera tak begitu mengartikan omongan Pak Bagas.


"Oke nanti saya sampaikan pada pengembangnya apa yang lainnya tidak ada lagi perubahan semua sudah tidak ada lagi perubahan?" tanya Pak Bagas sambil menyodorkan tangannya ke arah Ameera, dengan maksud membantu Ameera berjalan di banyak kerikil batu split pengeras jalan.


Ameera menolak dengan sopan.


"Sepeetinya sudah begitu saja Pak Bagas karena saya ada keperluan lain, jadi tidak akan lama disini saya hanya mengontrol saja dan selanjutnya saya serahkan saja sama Pak Bagas, saya percaya Pak Bagas."


"Makasih Bu Ameera telah percaya sama saya."


"Saya selalu percaya Pak Bagas, tak bisa di ragukan lagi, karena kita sudah lama kenal walau kita belum dekat, dan dekatnya saat kita menangani proyek ini, saat sama-sama di yayasan kita belum begitu akrab." potong Ameera.


"Bu Ameera ada yang ingin saya sampaikan bisakah Bu Ameera menyempatkan waktu sebentar untuk saya?"


"Ada apa Pak Bagas? boleh saja walau saya tak punya banyak waktu sebenarnya, tapi buat Pak Bagas boleh-boleh saja, Pak Bagas mau bicara apa? tak bisa kah biar santai kita bicaranya lain waktu saja? karena hari ini saya ada kepentingan pribadi yang lumayan penting."


"Bu Ameera, saya mau minta waktu kurang dari setengah jam saja, bisakah kita bicara dulu sambil duduk di sana?" Bagas menunjuk satu tempat istirahat yang sudah jadi dan itu diperuntukkan untuk wisatawan yang sedang mengeksplor agrowisata itu, tempat duduk yang di rancang unik dengan karakter buah dan binatang yang begitu unik di bawah pohon yang rindang.

__ADS_1


Ameera begitu ingin pergi sesungguhnya, wajah Richard membayang ada di depan matanya, tapi proyek itu juga adalah kewajibannya, apalagi Richard lagi memprioritaskan hunian nyaman buat dirinya, di rancang dengan penuh cinta dan harapan.


Ameera begitu menjaga jarak sebenarnya jangan sampai memberi kesempatan pada Bagas untuk lebih dekat lagi, tapi semua tak semudah harapannya. Ameera sudah tahu kalau Bagas menunjukkan perubahan pada dirinya, Ameera mengerti sikap lebih yang di tunjukan Bagas pada dirinya. Ameera akhirnya tak bisa menghindar saat Bagas menahannya dan Ameera juga mau tidak mau harus memberikan waktu.


"Bu Ameera, saya hanya ketitipan pesan dan saya juga sudah berjanji pada Pak Haji Marzuki kalau saya di titipin Bu Ameera untuk menjaga Bu Ameera."


"Di titipin apa maksudnya? memang saya anak kecil Pak Bagas?" jawab Ameera dengan nada bercanda berlagak tak mengerti arah pembicaraan Pak Bagas.


"Bukan itu masalahnya Bu Ameera, Pak Haji menginginkan diantara kita ada kedekatan lain karena mungkin Pak Haji sudah begitu dekat dengan saya walaupun saya juga tidak terlalu optimis dengan perasan Bu Ameera, saya sadar diri siapa saya sebenarnya hanya anak buah Pak Haji Marzuki di yayasan dan di proyek ini. Tapi seandainya Bu Ameera menginginkan dulu kebersamaan kita, kita jalani saja dulu."


Deg! Ameera tertegun tak berani melihat muka Pak Bagas, itu semua sudah dalam perkiraannya sejak awal, Bapaknya memang menginginkan kedekatan dengan Pak Bagas, itu pernah diungkapkan secara terus terang Haji Marzuki sejak Ameera datang kembali kerumah orang tuanya.


Ameera begitu bingung apa yang harus dikatakannya. Tadinya Ameera berpikir biar Pak Bagas tau sendiri hubungannya dirinya dengan Richard yang sebenarnya, tetapi sebenarnya Pak Bagas belum tahu. Makanya dia begitu pede menyatakan keinginannya untuk dekat dengan dirinya.


"Begitu dilema bagi Ameera, begitu bingung dan banyak pertimbangan di satu sisi Pak Bagas teman, relasi dan mitra Bapaknya, tapi Ameera tak mencintainya, tapi untuk menolaknya secara langsung begitu sulit juga, apa alasannya harus disampaikan kalau memang menjaga jarak dulu dengan laki-laki pasca perceraiannya tetapi Ameera pada kenyataannya sudah memiliki Ricard.


"Pak Bagas, saya tidak melihat orang dari status sosialnya, tapi dari baiknya orang itu, Pak Bagas tidak kurang suatu apapun, Saya kagum sejak dari dulu akan kepintaran Pak Bagas dari segi ilmu agama begitu mumpuni, usaha juga begitu sukses dan berhasil menurut pandangan saya, dalam bisnis, juga dalam penerapan ilmu tidak diragukan lagi saya pribadi begitu mengaguminya jujur Pak Bagas."


"Kenapa Pak Bagas begitu mengidolakan Bapak saya?"


"Kebahagiaan buat saya kenal dengan Bapak Haji Marzuki, menjalin mitra kerja sekian tahun dan sekarang bisnis, kami begitu cocok jadi teman diskusi segala hal, sampai akhirnya menitipkan Bu Ameera pada saya, mari kita saling belajar memahami dan menyelami hati kita masing masing, menyempurnakan dengan rasa yang kita punya."


"Pak Bagas, Aku sebenarnya ...."


"Bu Ameera aku tidak mengharapkan sesuatu jawaban sekarang, kita jalani saja dulu."


"Pak Bagas, bukan itu yang aku maksud, maaf ...."


"Tak usah minta maaf semua akan berjalan biasa saja Bu Ameera."

__ADS_1


"Aku merasa bingung Pak Bagas."


"Nggak usah bingung, semua perlu adaptasi dan waktu, saya mengerti Bu Ameera."


"Justru saya yang nggak mengerti, darimana harus jujur mengatakan semuanya pada Pak Bagas."


"Tak dikatakan juga tidak mengapa, semuanya hanya bisa dirasakan memang sesuatu yang tak bisa di jangkau dengan logika, biarkanlah! semua apa adanya."


'Astaghfirullahaladzim, darimana aku harus mulai jujur pada orang ini? seperti apa aku harus mengatakan semuanya? perkataanku ngambang dan terpotong begitu saja tanpa bisa sampai kepada tujuan semua kata-kataku.'


"Pak Bagas, aku sakit kepala sekarang mulai panas, aku harus pulang dulu, maaf kita tunda obrolan kita maaf sekali lagi ya. Mungkin aku belum sarapan karena terlalu semangatnya ke proyek ini."


"Alhamdulillah kalau Bu Ameera semangat."


"Aku sakit kepala Pak Bagas!"


"Ya ampun Bu Ameera, maaf kalau kata-kataku membuat Bu Ameera sakit kepala."


Ameera tak menjawab, hanya mengangkat telapak tangannya sebelah memberi jawaban dari kata-kata Pak Bagas, kalau dirinya tak merasa terganggu lama-lama pingsan aku dekat sama Pak Bagas ini.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2