
Benny ngedumel sendiri, sudah di wanti-wanti dari awal kalau rapat ini penting, Richard yang membikin jadwal rapat, sendirinya yang mangkir. Waktu sudah menunjukan pukul 16 :15 tapi pimpinan belum kelihatan batang hidungnya tak salah lagi pasti habis main, akhirnya ketiduran.
Semua anggota yang di panggil memenuhi undangan rapat pada diam saat Benny meng-cancel rapat di tunda sampai besok setelah berulang kali menelpon Richard tetapi ponselnya tidak aktif dan menelepon Ameera juga sama tidak aktif, memang mereka berdua sengaja mematikan ponsel mereka.
Benny seperti di permainkan, iya, iyanya Richard hanya iya doang. Kalau sudah berhubungan dengan main bisa lupa segalanya, termasuk pekerjaan dan hal penting lainnya, apalagi sekarang bersama istrinya sudah bablas semaunya. Yang ada perlu sama dia harus siap-siap rela mengganti menunggu di lain waktu dengan antrean tak jelas.
Semua memakluminya Bos mereka baru empat hari menikah, lagi senang-senang nya menjelajah dan menguji kemampuannya, mengasah pedang tak ada kenyang nya semalaman, pagi tambah siang sampai sore.
Akhirnya team kecil yang diundang rapat bubar tanpa protes apa-apa, Benny yang masuk ruang kerjanya di sambut Hanna dengan wajah penuh tanda tanya karena Benny cemberut.
"Abang manyun saja kenapa? pijitin dong pundak Neng pegel banget nih, tapi pundak aja jangan terus ke mana-mana." goda Hanna dari meja kerjanya yang lagi merekap dan memeriksa belanjaan Hotel dan pengadaan dari semua bagian, mulai dari dapur, laundry, cleaning servis, Restourant, klab malam dan office.
"Aku jadi suka pengen lanjut kalau di mulai!" jawab Benny mendekati Hanna dan mulai memegang pundaknya.
"Bentar lagi kita pulang langsung masuk kamar kalau mau."
"Rasanya lama kita nggak ciuman di kantor."
"Apaan sih Bang? Abang suka nggak tahan kayak kucing nantinya menuntut aku mau di mana aja nggak kenal tempat. Sudah ah sore tuh pulang aja, kerjaan nggak beres-beres begini."
"Biarin asal kita senang di manapun tempatnya asal aman."
__ADS_1
"Tapi rasanya nggak lazim aja Bang, di kursi meja kerja, di balik puntu, di sofa sampai di kamar mandi Abang sering kebelet banget pengen di tuntaskan dari ciuman begini nih."
Benny tak menghiraukan ocehan istrinya, langsung saja membungkamnya mulut Hanna dengan ciuman dan permainan gerakan lidahnya, memang Hanna tak salah kalau bibir suaminya sudah merambah dan menyasar ke leher dan turun sedikit ke bagian dada akhirnya keluar juga pintanya.
"Lanjut ya sayang di sofa apa di sini?" bisik Benny di telinga. Hanna sambil menunjuk kursi kerja meja Hanna.
"Kunci dulu pintunya! mau jadi tontonan orang kita mesum di sini? ah Abang kebiasaan banget kalau sudah begini."
Benny mengunci pintu dan mematikan lampunya, kembali ke hadapan istrinya dengan aksi jagoannya.
"Masih enak di sini daripada di kamar mandi, tapi tetap pegel juga." ucap Hanna sambil menaikkan pengaman di dadanya.
"Iya, tapi pasti basah ke mana-mana, stok tissue habis baru di masukkan ke anggaran belanja bulanan."
Benny melancarkan jurusnya dengan tanpa beban tak hirau ucapan istrinya, tetap menikmati permainan spontan nya.
Pompa semangat yang seperti biasanya selalu penuh kekuatan membuat Hanna tak bisa menolak walau di rasa begitu darurat, tapi memang enak aja kalau di nikmati dengan hati senang.
"Katanya sepuluh menit Bang."
"Nikmatin sayang, sebentar lagi usai." Benny berbisik di telinga Hanna dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
Sampai usai semuanya, mereka berpelukan dengan nafas seperti habis joging, masih dalam posisi Hanna duduk di kursinya dan Benny nemplok di atasnya.
"Turun Bang berat nanti jatuh lagi, ntar jadi insiden heboh jadinya." Hanna mendorong tubuh Benny perlahan.
"Kesal aku sudah terobati." ucap Benny sambil turun dari rubuh istrinya badannya basah dengan keringat. lalu berjalan ke sofa dan duduk sambil menyandarkan kepalanya mengatur nafasnya sambil memejamkan matanya.
Hanna memunguti pakaiannya dan mengenakannya kembali, tanpa membersihkan diri. Lalu membawa pakaian suaminya dan menyimpan di sampingnya.
"Pakai Bang sudah sore kita pulang." ucap Hanna sambil membereskan berkas yang berantakan di mejanya.
Sekilas Hanna memandang suaminya yang kecapekan, lalu menyalakan lampu, baru Benny mengenakan pakaiannya kembali.
"Ngopi dulu, sambil istirahat. Bikinkan dong kan aku sudah beri kamu enak barusan," ucap Benny sambil tersenyum memperhatikan istrinya dandan.
"Nggak usah barter Bang di kasih segala juga, pake tukar tukaran."
"Lagi ada masalah dipekerjaan jadinya jarang nengok kamu sayang, jadi harap maklum, setiap ada kesempatan kita manfaatin."
"Aku belum jelas masalahnya Bang apa sih? Bu Ameera juga tadi tanya aku."
"Nanti juga tahu."
__ADS_1