
"Sekarang kita ke mana?"
"Aku mau pulang!"
"Ameera jangan hanya karena kejadian ini semua rencana kita jadi tertunda, ayo kita jangan pulang dulu, kita cari butik lain yang pasti akan lebih baik dari yang ini."
"Aku nggak mood lagi, nanti sajalah."
"Ameera, aku tahu kamu kecewa, terus aku harus gimana?" Richard memandang wajah Ameera, mencoba menyelami dari roman wajah cantiknya.
"Aku tidak tahu Richard, aku hanya berharap dengan niat baikku ada kebaikan dan saling memberi manfaat dari hubungan kita ini."
"Ameera, seandainya aku tidak bertemu kamu mungkin saat ini aku masih saja dalam kubangan dosa banyak melakukan kesalahan dan menciptakan dosa-dosa baru, tetapi setelah aku bertemu denganmu aku merasakan perasaan lain yang berbeda terhadapmu semua itu menyurutkan langkahku, jujur rasa cintaku padamu telah merubah jalan hidupku, tak ada yang lebih menyakitkan di hatiku selain aku tak bisa bahagiakan kamu, tak bisa memberi kedamaian dengan rasa cintaku, kamu tak perduli padaku, marah padaku aku tak bisa apa-apa."
"Semestinya aku harus membiasakan diri dan berdamai dengan masa lalu mu, tetapi aku manusia biasa, ada rasa sakit dan kecewa yang aku rasakan."
Richard diam terpekur instrospeksi diri, merasa dirinya tak pantas untuk bisa bahagia dengan orang sebaik Ameera, dan kejadian seperti ini mungkin saja akan selalu terulang betapapun antisipasi dari dirinya sudah dilakukan.
Sederet wanita yang pernah menghiasai dan mengisi kehidupannya seperti slide yang silih berganti di hadapannya, Pantaskah aku berharap memiliki cinta Ameera?
Apa diriku egois? mengagungkan cinta Ameera dan bangga dengan perasaannya, dan Ameera yang mencintainya juga, tapi di belakang Richard dan bayangan masa lalunya seakan siap meruntuhkan bangunan cinta itu sendiri.
"Ameera, apa sekarang mau mu dan harapanmu padaku?"
"Aku tidak tahu Richard, aku begitu syok dengan kejadian tadi, aku ingin merefresh diri dan mempertimbangkan kembali semuanya, sebelum ada sesal di kemudian hari dan kita belum terlanjur menikah."
__ADS_1
"Ameera inilah diriku yang seutuhnya, sejak awal aku tak bicara baik dan menilai plus diriku, malah aku mengatakan aku punya masa lalu yang mungkin begitu hitam pekat bak jelaga di pembakaran yang sudah begitu melekat di diriku, tapi apa pendosa seperti diriku tak layak punya kesempatan untuk merubah diri?"
Ameera diam setetes airmata jatuh bergulir dari bola matanya, 'kenapa dirinya harus jatuh cinta dengan seorang Richard?
Juga kenapa rasa itu begitu cepat bersemayam di hatinya?''
"Ameera tolong jangan bersedih, aku semakin merasa bersalah padamu, percayalah aku sayang sama kamu, aku nggak bisa hidup tanpamu, jangan hukum aku dengan sikapmu dengan kebimbangan juga keraguan cintaku padamu."
"Richard, aku juga mencintaimu aku tak meragukan mu aku hanya ingin menenangkan diri saja, aku tak berhak menghukum kamu apalagi itu kesalahan di masa lalu mu. Antar aku pulang biarlah kita sama-sama tafakur diri kita masing-masing, semoga kita bisa saling menguatkan lagi."
"Ameera apa kamu mau kalau aku antar dan tawarkan melihat lihat ke toko properti dan perabotan buat di vila itu."
"Aku mau pulang Rich, sementara tolong jangan dulu hubungi aku, dan kamu urus semua yang masih berhubungan dengan orang yang datang dari masa lalu mu, pastikan semuanya kamu selesaikan dengan baik dan bijaksana, aku tak mau terlibat dengan semuanya. Itu semua adalah urusanmu jadi jangan pernah libatkan aku seperti kejadian tadi."
Richard menghidupkan kembali mobilnya, hatinya belum pernah merasa bimbang seperti sekarang ini, belum apa-apa dirinya sudah membuat Ameera menangis, rasa sesal masa lalu yang begitu mendalam tiada guna semua telah menyatu dengan kehidupannya.
Ameera hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang kata kata wanita itu begitu terngiang jelas di telinganya.
'Richard akhirnya kita bertemu berdua di sini, aku kangen kamu Rich, aku hanya mau bertanya satu hal sama kamu, kenapa kamu asing kan aku begitu jauh?"
"Annet, itu yang terbaik buatmu juga buatku, aku masih ada kebijakan bisa titipkan kamu sama Benny, jangan pernah temui aku di manapun seperti ini lagi, kecuali kamu sudah tak mau bergabung dengan The Rich Hotel silahkan hengkang, sekarang silahkan keluar!"
"Tapi apa salahku Rich?"
"Kamu tidak salah apapun, cuma karena kita pernah dekat. Aku sudah katakan jangan main hati denganku, juga jangan muncul lagi di hadapanku silahkan keluar!"
__ADS_1
"Rich!"
"Sekali lagi aku katakan silahkan keluar."
"Baiklah Richard, tapi suatu saat kamu pasti butuh informasi dan kamu akan mencari aku!"
"Ameera sudah sampai! kamu melamun sayang?"
Ameera tak menjawab, lalu membuka pintu dan keluar, dengan langkah panjang berjalan begitu tergesa masuk ke vilanya, tak menghiraukan Richard yang memanggilnya.
Richard termangu, memandang punggung Ameera yang tak melihat dan meliriknya lagi. Richard menjalankan kembali mobilnya masuk ke pelataran The Rich Hotel dan menutup pintu sekencangnya.
******
Sambil menunggu up MASA LALU SANG PRESDIR baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun, juga beri hadiah ya🙏
Blurb :
Karena pengkhiatan istrinya, Axel terluka, hingga luka itu mendarah daging. Memperegoki istrinya yang tengah bercinta dengan sahabatnya sendiri. Tak cukup sampai disitu, Hanna yang merupakan istrinya harus pergi selama-lamanya akibat perkelahian antar suami dan selingkuhannya.
Berimbas, Axel yang menjadi tersangka akan pembunuhan yang dilakukan sahabatnya sendiri. Axel mendekam selama 15 tahun di penjara. Saat terbebas, ia akan membalaskan dendamnya pada sahabat sekaligus pembunuh yang sebenarnya. Hasil dari perselingkuhan, hadirlah sosok wanita cantik yang menjadi incaran Axel untuk membalaskan dendamnya.
RANJANG PENGKHIANTAN (balas dendam)
__ADS_1