
"Pap, Aku mulai ke Agrowisata hari ini ya, Richie sama Bibi di rumah Ibu nanti kalau pulang Aku jemput. Terus nanti siang Kita ketemu di mana?" ucap Ameera masih duduk di tepi tempat tidur.
"Maunya Aku ketemu di kamar ini lagi!" jawab Richard sambil gesekan sesuatu di bawah perutnya ke paha dan punggung Ameera.
"Ah Papa! maksudku makan siang bukan itu! ya ampun dari semalam apa nggak capek Pap? ya istirahat lah nanti Aku di komentari orang-orang kalau mukaku pucat seperti kehabisan energi!" kilah Ameera. Karena kemarin Aliyah mengomentari kalau wajahnya pucat.
"Mam, kalau Aku sukanya itu kerja kalau belum puas main itu jadi nggak semangat, mau pergi juga kalau belum celup dulu rasanya kepikiran saja Aku ini cowok normal sejati Mam selalu semangat dalam hal apapun tapi harus diawali dengan yang satu itu!" Richard tangannya sudah di dada Ameera menikmati kehangatan dan kenyalnya buah ranum kesukaannya.
"Baiklah Pap Mama bukan melarang apa yang jadi kesenangan Papa tapi apa perlu siang Kita selingi dengan bermain juga kan malamnya sudah full?" elak Ameera.
Tapi bahkan Richard namanya kalau tidak bisa berkelit dan beralasan.
"Mam, main siang itu luar biasa nikmatnya melihat tubuh istriku yang pasrah sambil tersenyum membangkitkan semangat luar biasa," ujar Richard dengan semangatnya.
"Bisa di fahami Kita baru merayakan kebersamaan sejak kelahiran Richie dan berpisah. Baiklah tapi pagi ini langsung mandi dan sarapan ya tanpa tambahan?" tambah Ameera hanya bercanda.
"Ah, Mama bilang tambahan jadi keras lagi tuh lihat!"
__ADS_1
Richard yang masih mengenakan piyama tidurnya menyingkap pakaiannya sendiri sesuatu muncul menggunung di bawah perutnya di balik celana boxer nya membuat Ameera tersenyum lalu mengusap-usapnya dengan lembut, bukannya tenang tapi malah semakin menjadi.
"Mam, juniorku juga mau sarapan katanya! Mama harus bersyukur di luar sana banyak orang cari obat biar perkasa seperti ini tapi ini alami dari mulai ukurannya kebanggaanku juga Mama merasakan kuatnya kan?" bisik Richard tak bisa di tolak lagi sama Ameera.
Ameera merinding melihatnya, benda berurat dengan bentuknya yang lucu dan jumbo ukurannya hidup dengan bebas di hadapannya karena Richard mengeluarkannya.
"Baik Pap mau di mana? di sofa di kamar mandi biar langsung mandi!" tantang Ameera merasa itu adalah kewajibannya dan hak dirinya juga atas suaminya.
"Makasih Sayang, Kamu begitu pengertian banget." Richard terkekeh saat Ameera merasa gemas dengan juniornya yang tetap di pegang nya.
Sekilat Richard menarik tali pakaian tidur Ameera dan melepaskannya membimbingnya keluar ke sofa empuk dan pagi dingin berubah menjadi panas di sofa keluarga hunian Richard dan Ameera.
"Aku nggak perduli belum mandi atau sudah Sayang Aku suka semuanya!"
Ameera berulangkali mengakui kalau suaminya begitu pandai dengan permainan panasnya selalu saja memberi kejutan yang membuat Ameera menggelinjang hebat.
Juga saat suaminya memompa hasrat semangatnya yang begitu kuat memacu junior jumbo kesayangannya menuju puncak kenikmatan berdua Ameera tak bisa berkata-kata hanya mendesah di setiap hentakan kuat dengan berbagai gaya.
__ADS_1
"Nyaman begini Sayang?" ucap Richard di sela hentakannya.
"Iya Pap, tapi selesaikan Aku sudah pelepasan di posisi tadi ah ...."
"Kenapa pengen buru buru?"
"Takut Richie bangun."
"Richie tahu kalau pagi waktu Papa Mamanya!" Richard semakin meningkatkan kekuatannya dan Ameera menjerit kecil saat tembakan di luncurkan dalam dekapan kuat penyatuan di sertai erangan kenikmatan pelepasan Richard.
"Ya ampun Pap, banyak banget tanda merah di dada dan leherku ini." ucap Ameera saat menyalakan lampu melihat di cermin dalam polos tubuhnya.
"Hahaha ... itu sengaja Mam biar kalau Mama mandi lihat itu teringat berikan kecil Mama tadi!"
"Ah, Papa bisa saja!"
********
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️