Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Hanna masih marah


__ADS_3

"Kenapa pulang?"


"Lho kok tanyanya kenapa pulang? bukankah Kamu senang Aku pulang?" jawab Benny menanggapi pertanyaan Istrinya dengan santai tanpa beban. Lalau duduk di samping


Hanna yang duduk setelah menghidangkan air teh hangat buat suaminya


"Mending sekalian aja nggak usah pulang biar besok langsung kerja lagi!" cerocos Hanna masih marah.


"Hanna, Kamu kayak nggak tahu saja sejak awal pekerjaanku kenapa sih begitu sensitif? pulang ditanyain nggak pulang apa lagi ya Kita syukuri saja banyak di luar sana orang yang menginginkan pekerjaan apapun di kerjakan dan mau bekerja dengan kasar demi sebuah penghasilan untuk menghidupi keluarga Aku bekerja tidak terlalu mengeluarkan tenaga tapi pikiran dan strategi untuk mengatur semuanya Aku enjoy menghadapinya karena ini sudah ku anggap duniaku mengertilah mari masuk ke duniaku biar Kamu mengerti kalau Aku bukan ke mana-mana main ke sana-sini tapi demi satu konsekuensi dan tanggungjawab pekerjaan."


"Aku kadang sedih saja Bang, Kita satu pekerjaan tapi sampai pulang Kita tidak bertemu atau sekedar ngobrol apa salah Aku punya pikiran seperti ini? hanya inginkan Abang bisa seperti orang lain bekerja normal dan Kita mengisi waktu saat di rumah bersama."


"Semua orang ada kekurangan dan kelebihan Sayang, kalau satu masalah dibikin sulit dan dibikin jadi pikiran semuanya tetap akan menjadi sulit dan akan menjadi pikiran dalam diri Kita, tetapi kalau Kita pikir itu adalah bagian dari pekerjaan jalani dengan senang hati karena Aku mendapatkan segalanya dari semua yang Aku kerjakan dibanding orang lain. Aku bekerja lebih, jelas akan punya pendapatan lebih. Kita tidak akan kurang suatu apapun apalagi Kamu sendiri juga punya gaji malah Aku pengen bercerita kalau hari ini Aku bahagia banget!" Begitu bijaksananya setiap ucapan Benny. Tapi Hanna malah nangis duduk di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


Benny mendekatinya perlahan memeluknya memberi ketenangan dan kenyamanan hati dan pikiran Hanna yang mungkin tidak bisa dan belum menerima sepenuhnya kalau Benny suaminya harus terbagi.


"Kamu itu lucu Hanna Sayang, sikap Kamu begitu cemburu sedang Aku tidak pergi kemana-mana berarti Kamu cemburu pada pekerjaanku cemburu pada kesibukanku dan mungkin cemburu kepada majikan Kita yang begitu baik pada Kita yang telah menganggap Kita adalah keluarganya."


"Aku salah Bang?"


"Nggak salah hanya perlu pemahaman saja Sayang, seorang istri seharusnya memang seperti itu cuman jangan lama-lama dan pasti semuanya boleh cemburu dan juga marah karena marah artinya cinta. Jadi artinya Kamu terlalu mencintai Aku."


"Bu Ameera telah pulang, Aku tidak akan banyak begadang lagi dan Kita akan banyak waktu sama-sama lagi," ucap Benny dengan wajah sumringah.


"Wow jadi Bos Richard lagi bukan madu lagi sekarang?" Hanna terlihat tersenyum kini.


"Pasti! tadi saja waktu tahu Ameera sudah ada di villa Richard langsung menerobos masuk meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Aku hanya menunggu beberapa saat karena pasti ada berantemnya tapi karena terlihat aman-aman saja malah aku menyaksikan Richard menutup dan mengunci pintu dan tanpa berkomunikasi menghubungiku lagi ya Aku langsung pulang ke Hotel."

__ADS_1


"Jadi Abang nggak jemput Bu Ameera?"


"Nggak lah mungkin Bos Richard sudah melakukan ritualnya dan saat Aku cek ponselnya mati tak aktif lagi itu sudah di pastikan nggak mau di ganggu siapapun," ucap Benny sambil tersenyum.


"Minum jamu nggak Bos Richard?"


"Sepertinya tidak kan Aku yang minum jamu tapi malam lalu hahahaha ...."


"Ah Abang Aku sebel banget malam itu!"


********


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2