
"Ini sebagian lokasinya Ameera, Aliyah, Bapak hanya merancang awal saja silakan poles sedemikian rupa sama kalian berdua, akan dijadikan seperti apa dan baiknya seperti apa otak kalian berdua bagiannya, bikin terobosan baru yang kekinian kata anak muda sekarang."
"Wow ... keren banget Aliyah!"
Ameera dengan mata berbinar berkeliling menyusuri wisata alam yang di ciptakan Bapaknya Haji Marzuki.
"Iya Kak, seandainya sampai selesai dan danau itu jadi tempat ber-sampan pokoknya spektakuler banget Haji Marzuki heee ...."
"Aliyah, pinggir-pinggirnya jadikan spot photo dengan background pemandangan alam dan danau, dan di pinggir sawah itu jadikan tempat hangout kedai kedai kopi makanan dan jajanan dengan pemandangan sawah."
"Iya Kak Ameera, sambil menunggu anak-anaknya yang lagi ikut dalam program wisata alam menanam padi, menyiangi padi, atau ikut panen sesuai musimnya, di sana kebun melinjo dan pala yang tak kenal musim enak untuk relaksasi menyusuri jajaran pohon-pohonnya."
"Bapak hanya titip satu jangan dirubah jadi apapun kalau mungkin bisa di modernkan dan bisa dimaksimalkan manfaatnya, Bapak punya kolam pemancingan ikan, jadikan itu juga sebagai wahana wisata yang bisa menarik lagi di tangan kalian berdua."
"Siap Pak!"
"Otak kalian masih segar, untuk menciptakan suasana seperti apa kira-kira yang menarik minat pengunjung tua muda dan keluarga, ciptakan kenyamanan para pengunjung yang berwisata ke daerah sini, dengan menikmati perkebunan melinjo kita, menikmati perkebunan pala kita, dan sekaligus ciptakan wahana-wahana yang bisa di nikmati saat liburan dan bisa meninggalkan kesan yang begitu menarik di hati para pengunjung yang datang ke sini."
"Aliyah, Kak Ameera ingin memberdayakan juga pembuatan emping melinjo di sini, hasilnya bisa buat oleh-oleh bisa dibeli dan dibawa dalam keadaan mentah dan sudah matang. Sekaligus pembuatannya bisa menjadi edukasi juga."
"Sekaligus Pala juga Kak, selain rempah bernilai tinggi kulitnya juga bisa dibikin manisan, bisa dijadikan oleh-oleh yang begitu unik dari rasa dan pembuatannya juga sama bisa dijadikan tontonan edukasi bagi anak-anak yang belajar di wisata alam kita."
Haji Marzuki begitu senang melihat kedua putrinya begitu antusias melihat pembangunan area barunya. Walaupun masih jauh dari kata selesai tetapi dirinya telah membuktikan sesuatu ide yang bisa menarik anak-anaknya dengan pemikiran zaman sekarang seperti Ameera dan Aliyah.
Selain ingin mengalihkan perhatian Ameera, Haji Marzuki ingin membuat Ameera menjadi sibuk sehingga dia melupakan sesuatu yang telah terjadi yang menimpa pada rumah tangganya.
Kegagalan rumah tangganya diakui Haji Marzuki ada campur tangan dirinya sebagai orang tua, karena dari awal rumah tangga anaknya hasil perkenalan antara dirinya dengan sahabat lamanya.
Ingin rasanya Haji Marzuki menunjuk hidung mantan menantunya Fathir Fadil Hikmawan, yang dengan seenak perutnya memperlakukan anak kesayangannya dengan seperti itu, tega menghianati, membohongi dan menyakiti hati anaknya yang dengan tulus mencintainya.
__ADS_1
Tapi setelah melihat Ameera kembali ceria kembali aktif, mau beraktifitas dan bekerja walaupun tanpa diminta hati Haji Marzuki merasa terobati walaupun perasaan bersalah tetap bergelayut dalam hatinya, berjuta penyesalan tetap tak bisa diulang kembali semua telah terjadi.
Mereka istirahat di gazebo yang di peruntukkan untuk istirahat depan bangunan yang nantinya di peruntukkan untuk kantor.
"Bapak punya rancangan ini dari mana awalnya Pak?"
"Bapak ngobrol dengan seorang guru di yayasan, sering tukar pikiran dan pengalaman, suatu saat Bapak sama guru itu berbicara kepada pembahasan tentang wisata di zaman sekarang. Orang kota kebanyakan sudah bosan dengan kehidupan di kota. Jadi mereka mulai beralih kepada kehidupan yang ingin natural back to nature."
Ameera sama Aliyah menyimak awal kisah gagasan ide Bapaknya.
"Lantas guru itu bicara sama Bapak, katanya kalau Pak Haji punya lokasi strategis cukup luas asal masuk mobil dari jalan raya bisa dimanfaatkan sebagai area lokasi agrowisata, Bapak bicara kalau bapak punya perkebunan melinjo punya perkebunan pala punya sawah, pemancingan dan danau-danau, dia antusias tertarik lanjut obrolan kami semakin dikuatkan dengan dia mengontrol ke area sini akhirnya gagasan berawal dari dia, Bapak punya lahan sama modal akhirnya jadilah sampai seperti ini."
Ameera sama Aliyah manggut manggut.
"Nanti bapak kenalkan sama kalian, orangnya sopan, baik, pintar dan pandai bergaul, namanya Pak Bagas."
"Sudah puas melihat semuanya? Ameera? kamu kan baru pertama ke sini?"
"Sebenarnya betah banget di sini, perasaan tenang dan adem, tapi berhubung masih dalam proses penataan belum terlalu nyaman. Maunya berjalan-jalan ke kebun melinjo dan pala tapi keburu capek juga heee ...."
"Itu nanti jalan-jalan ke kebun
melinjo kalau ke sini sama Ibumu, biar sekalian mengambilkan daun melinjo sama bunganya buat sayur asem kesukaannya heee ...."
"Kak Ameera, seandainya ada ide lain di area ini Kak Ameera sampaikan saja sama Pak Bagas biar nanti di atur, begitu kan Pak?"
Aliyah bicara sama Kakaknya juga sama Bapaknya.
"Oh, iya. Karena pembangunan ini Bapak serahkan penanggung jawabnya sama Pak Bagas."
__ADS_1
"Iya nanti Kakak melihat dulu Agrowisata yang di kelola orang lain, karena Kakak akan menerapkan metode ATM di wisata kita ini."
"Apa tuh ATM?" Aliyah penasaran dengan gagasan Kakaknya.
"ATM itu Amati, Tiru dan Modifikasi, ide kita di tambah ide orang lain yang di modifikasi pasti akan menghasilkan kolaborasi yang lebih unik."
"Boleh juga idenya Kak!"
"Iya dong, ada dan tidak ada kita di suatu tempat, harus berbeda warnanya. Itu berarti, kita terlihat manfaatnya di satu lingkungan."
"Kak Ameera selalu pintar."
Mereka tertawa bertiga, sambil berjalan menuju mobil.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
- Meniti Pelangi
- Pesona Aryanti
- Biarkan Aku Memilih
- Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1